(Masih) Hal Konkrit Sederhana

Dari hari Minggu (07/08) lalu, jagad media mulai membicarakan wacana Mendikbud soal Full Day School (FDS). Kian ramai sampai Rabu (10/08). Sekarang? Belum tau, masih menunggu perkembangan.

Saat mendengar berita itu, reaksi pertama saya rasanya mau ngamuk. Tapi saya tahan-tahan. Tanya sana-sini, minta klarifikasi, cek berbagai media, cek opini para pegiat pendidikan, dan ikut diskusi dalam grup.

Tetap saja, saya tak bisa menipu diri sendiri. Wacana ini tidak masuk akal kalau betul akan diterapkan dalam skala nasional. Seperti postingan sebelumnya, saya bukan dalam kapasitas mengkritisi apalagi mengkaji wacana FDS.

Justru, yang mau saya kaji itu diri sendiri.

Apa saya sama reaktifnya dengan yang lainnya? Bagaimana cara saya bertanya pada orang-orang yang bisa saya minta klarifikasinya? Apakah saya benar-benar mendengar penjelasan mereka? Atau saya cuma ingin dengar pembenaran?

Bagaimana agar segera kembali berpikir jernih? Bagaimana mencoba berempati dengan teman-teman di internal Kemdikbud yang terus bekerja di tengah keriuhan? Bagaimana cara untuk terus menyemangati mereka?

Satu hal yang sebetulnya paling mengganjal: mengapa saya begitu kesal ketika saya tak bisa melakukan apa-apa?

Membayangkan di desa saya, kalau kebijakan FDS ini sudah ketok palu, anak-anak yang tiap sore berjualan wade' (kue basah khas Bugis) tak akan sempat keliling.

Atau anak-anak yang tiap sore berenang di laut, main layangan, kelereng, naik sepeda keliling desa, kapan mereka punya waktu main kalau sore-sore harus terus di sekolah?

Atau anak-anak lainnya yang harus jalan kaki naik-turun gunung. Pulang siang pun bisa sore baru sampai rumah. Apalagi sore baru pulang. Mau sampai rumah jam berapa?

Bagaimana dengan guru-guru honorer? Yang gajiannya 3 bulan sekali, dan punya pekerjaan sampingan selain mengajar. Kalau waktunya habis di sekolah, gimana cara mereka ngakalin gaji yang suka telat turun itu?

Bagaimana dengan guru-guru yang punya kebun? Punya ladang? Yang pulang sekolah masih cari ikan? Bagaimana dengan guru yang juga petani?

Lalu ruang kelas yang rusak, pengaturan kelas pagi-siang, minimnya fasilitas sekolah, daaan berbagai aspek lain yang harus dipikirkan. Saya kesal sekali mentok, clueless apa yang bisa dilakukan.

Tambah jengkel saat anak murid saya telfon, mereka bilang kegiatan-kegiatan ekskul tidak jalan.

Bayangkan, kalau FDS berlaku nasional, mau-gamau anak-anak terjebak di sekolah dengan kegiatan ekskul yang nggak jelas. Guru-guru juga terpaksa menjalani dan merasa terbebani. Masih berharap waktu ekstra di sekolah jadi solusi untuk pembentukan karakter?

Udah sih dijalani dulu yang sedang berjalan. Kalau tujuannya pembentukan karakter, kan ada pembiasaan baca buku 15 menit, nyanyi lagu patriotik, dsb. Dari semua pilihan implementasi, kenapa yang dipilih wacana FDS? Kenapa terjemahannya nonsense gitu?

Katanya mau fokus urus KIP dan vokasi? Mana bisa kerja tenang kalau 'direcokin' publik mulu kan? Kalau mau fokus dua hal itu, ya alokasikan energi dengan bijak.

Nggak usah bikin geger semua orang dengan kebijakan yang masih dalam tahap wacana dan menghabiskan energi tim untuk jadi 'pemadam kebakaran'. Hih.

Ternyata, satu posting sebagai outlet kegelisahan belum cukup. Saya yang jarang sekali telfon-telfonan (lebih suka via texting), Selasa malam akhirnya kontak Fajri, berbicara cukup lama. Hampir 2 jam. Saya 'nyampah' se-nyampah-nyampahnya.

Kalau pakai analogi "merutuk kegelapan" vs "menyalakan lilin", malam itu, saya yang sedang 'kehabisan korek' akhirnya habis-habisan merutuk kegelapan sampai puas.

Dalam kegelapan, punya teman bicara yang sama-sama 'kehabisan korek' ternyata menenangkan. Melegakan. Menyenangkan. Ternyata supporting system saya masih jadi andalan. Makasih ya, Jri!

Setelah puas numpang nyampah, tercetus lagi bahasan soal 'hal konkrit sederhana' dan kami mulai nostalgia.

Tahun lalu (saya lupa persisnya kapan), Fajri main ke desa saya. Dia mampir untuk mengisi waktu sambil menunggu dapat tumpangan kapal. Dari pagi, baru sorenya dia dapat kapal. Karena saya juga lagi malas ke mana-mana, jadilah kami berbincang panjang di teras rumah.

Dari perbincangan pagi sampai petang itu, lahirlah istilah 'hal konkrit sederhana'. Tindakan nyata apa yang bisa dilakukan untuk sumbang kontribusi?

Di situ, kami sama-sama sepakat bahwa melatih mindset untuk melakukan 'hal konkrit sederhana' ternyata sangaaattt berguna dan relevan di berbagai konteks hingga sekarang.

Optimisme bisa naik turun. Mood swing, frustrasi, marah, kecewa, itu sangat manusiawi. Kalau yang begini dibilang baperan nan sensi, menurut saya malah lebih bahaya yang denial. Menolak emosi.

Tapi kalau mau lihat sisi positifnya, segala kegelisahan ternyata efektif juga sebagai bahan bakar untuk tetap berorientasi pada hal konkrit sederhana.

Berkat telfon-telfonan Selasa malam itu, esok harinya, saya bisa lebih santai menyikapi berita walaupun masih numpang nyampah ke beberapa teman lainnya. Makasih ya, lagi-lagi, saya hutang telinga :)

Saya belum yakin saya sudah naik level, tapi senang rasanya bisa banyak belajar lagi untuk mengasah kecerdasan intra dan interpersonal. Saya akhirnya punya jawaban atas pertanyaan hal konkrit sederhana apa yang bisa dilakukan. Kata kuncinya: belajar.

Belajar mengenali emosi. Belajar mengakui bahwa memang sedang emosi. Belajar mengontrol emosi. Belajar berempati. Belajar mencoba melihat dari berbagai sisi. Belajar dan tak hentinya belajar. See? Belajar bukan cuma sekolah. Tepatnya, bukan cuma DI sekolah.

Dear Pak Muhadjir, semoga bapak juga belajar ya. Untuk berhati-hati membuat pernyataan ke publik. Untuk memikirkan dampak dari ucapan orang nomer 1 yang mewakili pendidikan negeri. Mulutmu harimaumu.

Mari sama-sama belajar. Hal konkrit sederhana yang siapapun bisa melakukannya.

No comments:

Powered by Blogger.