Hal Konkrit Sederhana

Masih soal reshuffle. Iya, belum move on. Saya lagi gelisah, tapi nggak mau umbar galau yang yang sepotong-sepotong di media sosial. Sekalian aja dituntaskan dalam satu tulisan ini, lalu bergegas tidur. Sudah pukul setengah empat.

Jadi begini. Mau cerita sedikit, flashback masa-masa di penempatan yang situasinya mirip. Saya ingat betul, di awal April tahun lalu, ada pergantian pimpinan di SD tempat saya mengajar.

Kabar tersebut jelas mengejutkan, apalagi kepala sekolah yang ada merupakan favorit semua orang. Beliau dikenal sebagai sosok kepala sekolah yang ramah dan concern akan perbaikan fasilitas sekolah, juga mengutamakan kesejahteraan guru.

Beliau juga sangat mendukung kegiatan lomba-lomba, bahkan nombok dari uang pribadi. Selain itu, beliau merombak habis-habisan manajemen sekolah dengan menambah jumlah guru honorer dan membagi kelas menjadi 2 rombel, serta mengakali kekurangan ruangan dengan kelas pagi-siang.

Bagi kami, Pengajar Muda, beliau masuk dalam kriteria local champion ideal. Sayangnya, mungkin tidak cukup ideal untuk terus memimpin SD di tempat saya mengajar menurut kacamata Camat.

Respon guru-guru saat itu sudah bisa ditebak. Mereka kecewa dan turun semangat mengajarnya. Wajar, perubahan ini amat mendadak. Saya pun cukup syok, apalagi mendengar banyak asumsi, dugaan ini-itu kenapa Pak Kepsek dimutasi.

Beberapa hari, saya sibuk curhat pada PM pendahulu saya. Merasa tidak adil. Kenapa harus diganti sekarang? Kenapa Pak Kepsek? Kenapa di saat sudah ketemu ritme yang menyenangkan bekerjasama dengan pemimpin yang baik di sekolah? Kenapa? Kenapa? Kenapa???!

Tapi kata-kata PM pendahulu saya cukup menenangkan hati. Namanya Vany. Dia seumur dengan saya, tapi saya panggil dia Kak dan dia panggil saya Dek. Dia bilang begini:

"Dek, kita justru harus bersyukur. Beruntung bisa ketemu orang kayak Pak X yang satu frekuensi sama kita. Beliau dimutasi, yang dibangun bukan Tanjung Aru, bukan juga Pasir Belengkong. Yang dibangun itu Paser. Itu yang penting".

Sejak itu, saya mencoba mengubah cara pandang saya menjadi lebih optimis-realistis. Apa yang bisa saya lakukan? Hal konkrit sederhananya apa? Saya dekati guru-guru, ajak bicara, dan kasih semangat. Siapa pun pemimpinnya, yang penting harus tetap kompak.

Saya juga dekati Pak Kepsek yang baru. Biar bagaimana pun, beliau sekarang pemimpinnya. Sebagai bagian dari tim, 'hal konkrit sederhana' yang bisa dilakukan adalah mendukung dan mendorong pemimpin tim untuk terus bergerak maju.

Tiap mentok, saya ingat lagi kata-kata Kak Vany: "yang dibangun itu Paser".

Saat reshuffle pada 27 Juli lalu, saya seperti De Javu. Bisa-bisanya situasi serupa terulang lagi dalam skala yang lebih besar: negara. Walaupun tidak persis sama, Pak Anies berbicara hal yang senada dengan Kak Vany.

"Yang dibangun itu Indonesia".

Saat itu, saya merasa sangat beruntung pernah diberi kesempatan menghadapi 'miniatur reshuffle' di penempatan. Saya memang bertugas seorang diri di desa selama satu tahun. Tapi saya tidak sendirian. Saya punya supporting system dengan perannya masing-masing. Tim Paserangers. Tim guru di sekolah. PM-PM sebelum saya. Juga Pak Kepsek baru.

Saya juga bersyukur latihan pembiasaan memandang sesuatu sebagai lahan kontribusi. Apa yang bisa dibantu? Apa hal konkrit sederhana yang bisa dilakukan? Setidaknya, saya nggak ikut-ikutan protes doang tanpa tindakan.

Tapi sepertinya kalau di game, saya sedang masuk level baru. Atau malah ulang check point? Entah.

Baca berita tentang pendidikan yang isinya pernyataan-pernyataan 'ajaib' Mendikbud baru, telusuri komentar netizen dan meme-meme yang tak kalah 'ajaib' nya, dan terlibat dalam bahasan yang ramai terus di grup Whatsapp membuat saya bolak-balik menghela napas.

Semua orang menyayangkan Pak Anies di-reshuffle. Bertanya kenapa. Menganalisa praduga. Mendadak jadi detektif. Puncaknya, soal wacana Full Day School.

Dari berbagai sisi, apabila wacana ini betul dijalankan, jelas akan merugikan. Baik dari sisi siswa, guru, maupun orang tua. Bahkan sudah ada petisinya segala. Tapi yasudahlah, saya tidak punya kapasitas menyoroti hal ini. Biarlah porsi kajian serahkan pada ahlinya.

Yang membuat saya menghela napas dan gelisah uring-uringan sendiri adalah saya jadi tidak yakin. Memang, beberapa hal konkrit sederhana yang saya rasa bisa lakukan sedang dalam proses.

Saya juga berusaha tetap berpikir besar, bahwa yang sedang dibangun adalah Indonesia, tak peduli siapa menterinya bahkan presidennya. Tak peduli perannya sebagai sipil, militer, swasta, ataupun aparatur negara.

Tapi belakangan, saya jadi bertanya-tanya. Apakah menjalankan hal konkrit sederhana itu cukup? Apakah butuh lebih banyak hal abstrak rumit yang harus dilakukan? Bagaimana kalau bukan dalam kapasitas untuk mengerjakan hal-hal rumit? Apa yang bisa dilakukan?

Saya juga mulai lelah dengan 'kalau nggak ada yang inisiatif, ngga gerak'. Sama. Saya juga bosan menunggu dan maunya partisipasi aktif. Kalau istilahnya Pak Anies "daripada merutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin".

Tapi kalau terus-terusan 'cari korek', saya jadi ragu. Apakah saya masih punya supporting system yang bisa diandalkan? Apakah menjadi optimis masih masuk akal? Apakah saya boleh sesekali ikut merutuk kegelapan? Mengeluh?

Apa mungkin saya butuh istirahat? Atau malah, cuma butuh sabar?

No comments:

Powered by Blogger.