Tuesday, September 5, 2017

How Do I Know?

2 comments
"Pertanyaan 'kapan' tuh mulai bikin tertekan deh"

Akhirnya, di sebuah kesempatan curhat sama teman-teman dekat, terlontar juga keresahan ini. Bukan karena saya ngebet mau nikah tapi belum ada calonnya. Tapi karena ingat eyang-eyang kesayangan yang udah nggak muda lagi itu (IYALAH).

Tekanan datang dari mereka yang justru sangat berhati-hati tanya ke saya, tapi terasa sekali berharap banyak. Mereka yang tiap ketemu harus ritual cium tangan cium pipi lalu sekarang tambahan ritual baru: bisikan "jadi kapan?"

Dan selalu saya jawab "doain aja" lalu dibalas "jangan lama-lama ya. Mumpung eyang masih ada"

NAH YANG BEGINI INI YANG BIKIN TERTEKAN!

Sialan nih. Belakangan saya melatih empati karena banyak peristiwa yang bikin saya sadar kebutuhan untuk menjadi lebih peka. Lebih 'manusiawi'.

Efek sampingnya adalah peer baru untuk kontrol kebaperan. Mengasah rasa, belajar jadi lebih perasa, kadang bikin saya jengah sendiri.

Why are you doing this to yourself, Del? Letting yourself off guard -_-

Anyway, teman saya malah komentar "nggak mungkin nggak ada yang deketin lo" dan saya makin jengkel. How do I know? Boleh nggak untuk urusan hati, kita bikin sederhana aja? Kalau suka, bilang suka. I already practice what I preach. I confess. Also ask. But since there's no answer, I'll just take it as a no and it's totally fine. Clarity, at least.

Lalu soal kapan. How do I know? Kata orang, jodoh harus dijemput. Lah ya dijemput ke mana? Lalu ada juga yang bilang, jodoh di tangan Tuhan, tapi harus kita yang ambil. Lah ya ambil ke mana? Gojekin aja bisa nggak?

Teman saya yang manggut-manggut aja denger saya ngomel sendiri, kemudian nanya, "tapi lo siap nikah nggak?"

Lagi-lagi, how do I know? Gimana jawab siap apa nggak? Ibaratnya, kayak mahasiswa tingkat akhir ditanya "siap nggak masuk dunia kerja?" trus melotot "lulus aja belum tentu. Harusnya nanya 'siap sidang nggak?'"

Trus temen yang agak religius menasehati buat doa dikasih jodoh yang tepat di waktu yang tepat. Oh well, how do I know WHEN is the right time? Pada akhirnya mereka nyerah. Saya ngeyel dan keras kepala banget mungkin. Hahaha.

Bahkan saya aja lupa nitip doa buat Rene yang lagi naik haji, supaya saya didekatkan dengan jodoh.

Gampangnya gini deh. Saya nggak percaya kata kerja 'cari jodoh'. Apalagi 'minta jodoh'. Harusnya 'mengusahakan jodoh'.

Ketika orientasinya mencari, percayalah, takkan benar-benar menemukan. Nggak ada tuh yang namanya jodoh kalau konteksnya menikah. Adanya komitmen untuk menjalani bersama. Tadi, kata kuncinya adalah mengusahakan.

Lalu soal cinta. Siapa sih yang menciptakan konsep aneh itu, menikah karena cinta? Saya mah lebih percaya menikah lalu cinta. Atau sekalian, menikah walaupun cinta.

Ganjil ya terdengarnya? Sebetulnya begini. Saya percaya cinta itu harusnya membebaskan. Sementara menikah justru mengikat. Jadi kata hubung yang tepat itu 'walaupun', bukan 'karena'.

Intinya, akhirnya saya mengatur napas dan bilang ke diri sendiri:

Del, gw nggak akan sok-sokan kasihan. Gw tau lo nggak perlu itu. Nggak perlu juga disemangati, sabar, dan berbagai kata penghiburan. Gw cuma berdoa semoga lo selalu ada dalam zona 'inner peace' apa pun bentuk stimulus dari luar.

Semoga lo selalu berani mengakui, mandiri, dan nggak gegabah memutuskan karena tekanan sekitar. Semoga lo senantiasa dipenuhi cinta kasih. Memberi sedikit lebih banyak. Berharap jauh lebih sedikit.

Terakhir, semoga pada saatnya nanti, lo akan merevisi 'how do I know?' dengan 'I do now'.

Tuesday, August 29, 2017

Paham Diri

1 comments

Semalam, saya dan seorang teman ngobrol panjang. Topiknya adalah Limitless Campus dan berbagai ukurannya. Salah satu yang panjang dibahas adalah soal paham diri.

Bagaimana seseorang bisa dikatakan sudah paham diri?
Kenapa harus paham diri?
Apakah diri sebegitu pentingnya untuk dipahami?
Apa 'bahasa operasional' dari mindfulness?
Apa bedanya dengan empati?

Berat ya bok!

Setelah penjelasan berbelit-belit, akhirnya saya sadar. Barangkali, paham diri sesederhana paham apa yang disukai dan yang penting. Bukan penting menurut orang lain, tapi menurut diri sendiri. Dan nggak perlu galau kalau nggak bisa memilih keduanya. Hidup kan nggak selalu ideal.

Ada kalanya kita menyukai sesuatu walaupun nggak penting-penting amat. Atau sebaliknya, hal penting yang nggak kita sukai. It's okay. Deal with it, make peace with yourself.

Kalau mencoba refleksi, apakah saya bisa bilang sudah paham diri? Mungkin, jawabnya ada di ujung langit. Kita ke sana dengan seorang anak. Anak yang tangkas dan juga pemberani.

Saturday, August 26, 2017

About Belief and Other Random Stuff

0 comments
Dua malam ini, saya ngobrol sampai larut bersama beberapa orang teman sepulang bekerja. Bahasannya berat: agama. Saya bukan orang yang religius, jadi tulisan kali ini bukan tentang ilmu agama, tapi bagaimana kebaikan, ketaatan, dan berbagai elemen lainnya melekat di agama manapun. Atau mari sebut saja: kepercayaan.

Menariknya, di balik kepercayaan, ada satu elemen yang perannya adalah mempertentangkan. Misalnya dalam kepercayaan Sunda Wiwitan, ada yang namanya Wiwaha Yudha Narada, sifat dasar manusia yang selalu memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya.

Well, sepertinya saya harus banyak baca lagi soal si Wiwaha Yudha Narada ini.

###

Anyway, saya nggak tahu ini berhubungan atau justru super nggak nyambung, dompet saya semalam hilang. HP saya pun mati, tombol powernya eror. Anehnya, saya sama sekali nggak merasa panik. Hanya langsung terbayang berbagai prosedur administratif seperti blokir kartu ATM, bikin surat keterangan hilang ke kantor polisi, pengajuan surat keterangan identitas (e-KTP versi selembar kertas HVS), dsb.

Karena ketidakpanikan itu, malah saya jadi bertanya-tanya. Kok bisa? Padahal isinya barang berharga. Mama saya saja langsung marah-marah barusan, tapi saya cuek dan hanya berusaha mengingat rangkaian kejadian, hilang di mana? Dan setelah ini harus bagaimana?

And now, here, writing out loud, I begin to think that maybe I already let go all material possession. What for? If it's meant to be lost, be it. Even for things that have memorable value, still, those won't last forever.

###

Btw, beberapa waktu lalu, saya bongkar lemari baju dan buku. Sebagian disumbangkan, sebagian masih disimpan di kardus, menunggu 'diadopsi'. Beberapa di antaranya adalah buku bagus dan baju favorit yang sekarang sudah tak cukup lagi.

Mama saya protes. "Kok baju yang ini mau dikasih? Baju yang itu kan masih bagus? Buku yang bakal dibaca lagi disimpen dong! Jangan lupa kalau ketemu Pak Anies minta tanda tangan di buku." Dan berbagai komentar lainnya, sambil menyortir mana yang 'lolos seleksi'.

Kalau nggak inget saya masih butuh baju dan berbagai bacaan agar tetap waras, rasanya malah satu lemari mau saya kosongkan semua. Tapi yaaa.. lumayan. Cukup lega lah lemari berkurang separuhnya.

Melepaskan rasa ingin menguasai materi ternyata semenyenangkan itu. Seperti terbebas dari beban dan hasrat memiliki, walaupun masih teronggok kardus-kardus yang belum ketemu pemiliknya.

###

Di titik ketenangan ini, menurut saya, yang paling penting justru peran mama. Mama sebagai Wiwaha Yudha Narada. Bahkan barusan, saat saya bilang dompet saya hilang, mama malah suruh saya solat karena melihat saya gelisah. Malah saya yang bingung. Memangnya saya terlihat seperti seorang yang gelisah? Well, mungkin iya, gelisah karena nggak gelisah. Gelisahception. Halah.

Entah kenapa, apa pun yang saya lakukan, mama selalu ada di sana untuk menentang. Seringkali hal ini bikin saya jengkel setengah mati, bahkan sakit hati. Merusak mood yang sudah disusun sedemikian rupa jadi berantakan semua.

But it's such a waste if I keep my mood ruined forever. I shall be grateful. At least she always be there for me, consistently caring, persistent in her way of complaining everything I do. This is one fundamental thing that never can be changed: mom will always be mom and I will always be her rebel daughter :))

Wednesday, July 26, 2017

Different

2 comments

(Percakapan saat sarapan)

Papa: "Kamu ditanyain terus tuh sama Bu X dari Bank Y. Della sekarang sibuk di mana?"
Della (sambil ketawa santai): "Bilang aja lagi sibuk bikin kerjaan. Nanti kalau udah nyerah, baru cari kerjaan, hahaha"
Mama: "Beda ya. Seumuran kamu harusnya udah bisa nyicil rumah, nikah, gendong anak. Mama dulu blablabla. Kamu ngapain?"

Well dear mom, I'm not you. I'm not everyone else. And I'm not sorry for that. For being different.

Kalem.

Wednesday, July 5, 2017

Tanya Jawab Ya Gitu #6

0 comments

Apa ketakutan terbesar yang masih lo hadapi sampai sekarang?

BANYAK JIR! Pada dasarnya, gw ini anaknya penakut dan pencemas. Dari hal cetek kayak takut kejedot plang otomatis parkiran kalau naik ojek, takut kejeblos lubang kalau lagi jalan gelap malem-malem, takut liat pocong kalau lewat kebun isinya pohon pisang, takut nyebrang, takut gagal, takut nggak bisa memenuhi ekspektasi orang lain, dsb.

Gw cemas kalau mau pergi ke suatu tempat dan packing ada yang ketinggalan, cemas nyasar (apalagi gw anaknya buta jalan), cemas kalau ketemu banyak orang baru, cemas tiap maju ke depan panggung/presentasi, cemas sama berbagai ketidakpastian, dsb.

Tapi ya mau gimana. Satu-satunya cara ya hadapi. Apa boleh buat. Melarikan diri nggak bikin takutnya hilang, malah makin horor karena jadi membayangkan yang nggak-nggak.

Hidup dengan berbagai ketakutan, gw malah jadi bertanya-tanya kayak apa rasanya nggak punya rasa takut. Kayak apa rasanya nggak ngalamin sensasi 'degdegser’ yang nggak nyaman tapi familiar itu. Kayak apa rasanya nggak perlu berjuang menghadapi berbagai ketakutan.

I really can’t imagine myself being fearless. Because I believe that the bravest man is not one who ain’t afraid of everything. The bravest man is one who befriend with his enemy: fear.

Dan satu hal sih: nelayan tangguh nggak lahir dari lautan yang tenang. Buat gw, 'lautan’ itu ya semua ketakutan, kecemasan, dan berbagai perasaan nggak nyaman yang bisa tiba-tiba datang seperti badai. Tugas gw cuma satu: bertahan hidup. Bertahan waras. Jadi ‘nelayan tangguh’.

***

Bekerja, untuk apa?

Pas kasih pertanyaan ini, sebetulnya gw lagi bertanya ke diri sendiri tapi terlalu bingung jawabnya. Tepatnya, males usaha mendeskripsikan kebingungan gw. Harapannya, bisa curhat pasif. Pada akhirnya, pertanyaan ini malah kembali ke gw, haha, sial.

Jadi ceritanya, seperti yang semua orang udah alami, realita hidup itu ya nggak ada pekerjaan yang ideal di dunia. Nggak bisa lo ngarep gaji besar, waktu luang banyak, dan kerja sesuai passion. Mustahil.

Nah, ini gw dihadapkan pada kondisi yang bukan cuma nggak ideal, tapi juga di luar ekspektasi. Jatohnya bingung. Takut. Cemas. Sedih. Marah. Kecewa. Yang nggak tau ke siapa. Tapi di sisi lain, super bersemangat. Energi berlimpah.

Dalam kondisi begini, rasanya lelah banget. Tenggelam sama perasaan sendiri yang naik-turun nggak karuan, tapi nggak ngerasa kenapa-kenapa juga. Kerja udah kayak dispenser aja ini mah: hot and cold :))

Lalu gw coba inget lagi, kenapa gw ngelakuin ini? Kenapa gw menolak kesempatan lain? Apakah gw menyesal? Apa yang men-trigger berbagai emosi negatif? Apa yang bikin sebaliknya, emosi positif meluap? Gimana cara menyeimbangkannya?

Dan terakhir: bekerja, untuk apa?

Akhirnya sampai pada kesimpulan sementara: gw bekerja untuk belajar. Belajar paham diri, belajar paham fenomena sosial, belajar untuk terus menjadi relevan dan berguna, dsb. Lalu senyum-senyum sendiri, bersyukur. Apa yang lebih menyenangkan, dari mendapat kesempatan belajar dan dibayar? Dan semoga bermanfaat bagi sekitar. Aamiin.

Saturday, June 24, 2017

Tanya Jawab Ya Gitu #5

0 comments
Jadi ceritanya, setelah kelar jawab 4 pertanyaan dari Cune dan Shasha selama 4 minggu berturut-turut, Cune bikin jebakan Betmen: jawab pertanyaan sendiri. Terus nyesel, kenapa bikin pertanyaan susah-susah amat. Tapi yaudah. Challenge accepted! Per dua dulu ya. Sisanya menyusul minggu depan.

***
"Kalau jadi warna, lo warna apa dan kenapa?" -Della
Dalam kondisi normal, sepertinya krem cukup mewakili. Mungkin karena gw anaknya elemen tanah kali ya? Calm and grounded. Eh tapi krem yang agak cokelat. Pantone warna kulit gitu. Duh gimana ya jelasinnya? Kalau di make up, semacam baseline. Primer. Foundation. Concealer. Atau ala ala 'no make up make up’.

Eh tapi di beberapa situasi, kadang bisa merah banget sih. Outspoken and vibrant. Kayak gincu cetar. Atau rambutnya Ariel Little Mermaid. Terutama kalau udah mau sesuatu, ‘kecolek’ dan merasa harus menyampaikan aspirasi, atau ketika kekeuh mempertahankan sikap.

Nggak tau sih ini udah cukup tepat menggambarkan soal warna atau belum. Debatable.

***
"Ceritain dong life-changing moment di hidup lo" -Della
Kayaknya pernah cerita deh. I see my life as series of check points. So there’s no such thing as life changing moments.

Tapi kalau kudu kasih contoh satu evidence, itu adalah saat jadi Pengajar Muda. Sepulang dari penempatan, banyak banget hal yang berubah dari diri gw, terutama dalam memandang isu sosial. Baru ngeh gitu, oh ternyata gw bisa peduli juga ya. Utamanya soal pendidikan.

Maklum sis, anak gedongan yang nggak pernah hidup susah. Jadinya kadar kepekaan sosialnya ya gitu-gitu aja. Tapi selama setahun itu, karena betul-betul mengamati, mengalami, bahkan menghayati, jadi sedikit banyak mengasah empati.

Makanya bisa meradang banget soal Full Day School karena langsung membayangkan anak-anak di berbagai penempatan harus belajar sampai jam 5 sore. Apa sih yang ada di pikiran Pak Menteri?

Emang dikira perjalanan anak-anak ke sekolah mulus aja? Masih ada loh yang naik-turun gunung, nyebrang naik kapal, melewati tanah becek, hutan sawit, dsb. Dan itu nggak sebentar. Mereka bisa sampai rumah jam berapa? Belum ngerjain peer. Belajar buat ulangan. Kapan mainnya? Saking sewotnya, gw pernah sampai ikut protes, kumpul bareng para aktivis pendidikan di LBH.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw cuma akan baca berita soal Full Day School sambil lalu.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw nggak akan sadar bahwa akses pendidikan yang berkualitas sekrusial itu dampaknya. All of my life, I take education for granted. Little did I know, not everyone has that privilege.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw nggak akan berpikir buat terima tawaran kerja di Kemdikbud, bantu kampanye, maupun terjun bebas bangun Limitless Campus kayak sekarang.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw nggak akan bener-bener paham betapa yang namanya berbagi itu nilainya bukan berkurang, justru bertambah.

If this evidence counts as life changing moment, then I’m glad I’ve changed. Like.......... A LOT!

Anak Rumah Tangga 2.0

0 comments

Walaupun nggak selalu ditulis, tiap lebaran, pasti ada aja materi refleksi. Mumpung lagi mood, kali ini saya mau bahas topik pekerjaan rumah tangga.

Di beberapa kesempatan, saya pernah menulis tentang balada mengurus rumah. Tahun 2010, 2014, dan 2016. Sampai tahun lalu, saya masih konsisten ingin mencari pasangan yang bisa memastikan alokasi anggaran untuk mbak terpenuhi. Bahkan beberapa teman sudah bosan mendengar syarat ini karena saya ulang-ulang terus :))

But things change overtime. I don't know since when, I feel like things get clearer now.

Kalau lihat kilas balik tulisan lama, banyak yang isinya curhat keluh-kesah tentang nyokab yang nggak tersampaikan. Iya emang saya anaknya drama. Menulis blog saya jadikan tempat katarsis. Ya daripada disalurkan ke aktivitas yang lebih nggak jelas lagi kan?

Jadi barangkali, 'obsesi' punya mbak itu karena sebetulnya saya cuma nggak tahan aja sama tekanan nyokab yang pada dasarnya beda standar.

Saya nggak terlalu bermasalah barang-barang sedikit berantakan, cucian piring menumpuk, dan jemuran kering yang nggak langsung diangkat. Sementara nyokab, berantakan dikit, ngomel. Menunda cuci piring, ngomel (padahal emang sengaja, biar sekalian nyucinya. Efisien). Bahkan nyuruh ambil jemuran pun pakai ngomel. Emang nggak bisa santai.

She works harder than everyone in our house. No wonder she feels freaking tired and complains about us doing nothing. While in fact, we're doing all things she told us. It's just... her KPI is too damn high :))

Dari sini, saya jadi sadar. Tekanan nyokab nggak seharusnya saya bebankan pada pasangan di masa depan. Syarat anggaran mbak bisa dialokasikan untuk hal lain atau ditabung. Justru yang lebih penting adalah soal bagi tanggung jawab mengurus rumah.

Ya kalau ada mbak mah alhamdulillah banget, karena saya nggak hobi beres-beres. Tapi kalau nggak ada, nggak perlu dijadikan momok. Karena kekeuh punya mbak bisa jadi malah nambah masalah. Susah nyarinya, misalnya. Atau mbaknya nggak jujur, attitude-nya buruk, dsb.

Berpikir bahwa solusi rumah berantakan adalah mbak itu sama kayak solusi jomblo adalah menikah. Nggak solutif.

Tantangan saya sekarang, mencari solusi dari 'serangan' pertanyaan "kapan kawin" dan peran sebagai anak rumah tangga di bawah tekanan nyokab perfeksionis. Mungkin ada yang bisa bantu?

Monday, June 19, 2017

Tanya Jawab Ya Gitu #4

0 comments
"Kalo lo Animagus, lo mau jd hewan apa dan kenapa?" -Shasha
Gw sampai Googling dulu loh buat inget-inget list Animagus ada apa aja:
  • Silver Tabby Cat
  • Black Cat
  • Tall Red Stag
  • Shaggy Black Dog
  • Fat Grey Rat
  • Big Blue Bettle
Duh, nggak ada yang sreg. Ngarang boleh nggak? Gw pengen bisa menjelma menjadi dua bentuk Animagus. Kalau lagi kalem, jadi Snow Peacock yang bulunya putih dan matanya biru. Cakep! Lenggok sana-sini, keliatannya nggak berbahaya. Tapi di masa-masa tertentu, bisa berubah jadi Fire Peacock. Sangar tapi tetep effortlessly anggun. Kenapa? Nggak ada alasan spesifik sih. Keren aja.

"Superpower apa yang lu pengen punya, dan 'superpower' apa yang lu udah punya?" -Cune
Sebetulnya kayaknya seru punya superpower kaya Prof. Xavier, bisa mengendalikan dunia lewat pikiran. Seru aja gitu kalau lagi PMS, bisa bikin abang jualan kasih cokelat atau es krim gratis. Atau kalau kamar lagi berantakan, pilih acak aja orang buat dateng terus beresin. Semacam semi hipnotis. Tapi sebetulnya, dengan kekuatan sedahsyat itu, peer juga kontrol diri. Harus mode Zen tiap saat.

Soal 'superpower' yang udah gw punya, hmmm.. not sure if I have any.

Saturday, June 17, 2017

Tanya Jawab Ya Gitu #3

0 comments
"Ceritain dong curhat pasif kalian yang kalian rasa paling seru" –Shasha

Sebelum menjawab, mungkin ada baiknya didefinisikan dulu apa itu curhat pasif. Alkisah (tsah), gw pernah menjabarkan seperti ini:

Curhat pasif adalah curhat 'males' di mana lo nggak harus ngoceh nggak karuan, berharap ada yang mau dengerin dan ngertiin. Bukan males curhat tapi ya, bedain.

Dalam curhat pasif, mulut lo bungkam, tapi ada kepuasan dan kelegaan hati yang setara dengan curhat aktif. Contoh aktivitasnya adalah baca buku, dengerin lagu, nonton film, cari quote, dengerin cerita orang, dll.

http://fidellanandhita.blogspot.co.id/2013/02/curhat-pasif.html

***

Sebenernya yang seru ada banyak! Mungkin karena gw hobinya curhat, baik aktif maupun pasif. Haha. Yang terkini, gw copas aja yah di sini:

Orang-orang yang menulis itu sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada masalahnya, pada amarahnya, pada kegelisahannya. Sehingga ia mau repot-repot menuangkan menjadi sebuah rekaman kata. Sesuatu yang mungkin tidak pernah ia lakukan untuk hal-hal lain, sesuatu yang mungkin terpaksa ia lakukan untuk pelajaran di sekolah. 

Mereka jatuh cinta pada segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Mungkin mereka tidak menyadari itu hingga kelak di suatu hari mereka membaca tulisannya sendiri. Saat keadaan telah berubah, saat hidup berjalan lebih baik, saat pikiran semakin lurus dan jernih.

Mereka akan tersenyum membacanya dan menertawakan dirinya sendiri. Menyadari ternyata mereka pernah seperti itu.

http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/112234040847/orang-orang-yang-menulis

***

NAH PERSIS!

Jadi, beberapa waktu belakangan, gw ditawari komitmen menulis. Tapi belum apa-apa, udah pesimis duluan. Ya gimana dooong, yang berbau komitmen tuh agak mengerikan soalnya. Padahal, sebagian diri gw super bersemangat mau terlibat! Galau deh.

Lalu mendaratlah pada coretan “Orang-orang yang Menulis” karya Kurniawan Gunadi ini. Seketika, rasanya menghangat. Seolah dapat dukungan tak terlihat dari semesta yang dihadirkan lewat tulisan. Semoga cinta gw cukup kuat untuk mau repot-repot menggali rasa. Menggali masalah, gelisah, marah, maupun senyum sumringah.

Terus gali, walaupun susah payah.

***

"When you leave this world, what kind of person do you want to be remembered as and what do you want to leave as legacy?" -Cune

Wadaw. Pertanyaan berat. Entah kenapa, terlintas lagu Lucky Man-nya Mocca ini:

Some people say you're a lucky man
to win the first prize lottery

Some people say you’re a lucky man
to have a high-flying bright career

But I know they're wrong
and I'm sure they're wrong 

Some people say you're a lucky man
to have a lot of friends out there 

Some people say you're a lucky man
to have doors open everywhere

But I know they're wrong

You're a very lucky man
to know such a girl like her

Sederhana, cheesy, dan mungkin terdengar egois. Tapi gw ingin membuat orang merasa beruntung telah mengenal gw. Cukup? Oke kurang. Pertanyaan soal legacy belum terjawab.

Hmm.. ternyata susah juga ya. Katanya, gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama. Mungkin, satu-satunya legacy yang bisa gw tinggalkan adalah nama baik.

Auk ah. Sulit. Haha.

Tuesday, June 13, 2017

Tanya Jawab Ya Gitu #2

0 comments
Prolog:

Jadi ceritanya, dua minggu yang lalu saya diajak Cune main tanya-jawab. Terus ajak Shasha ikutan juga. Intinya sih tiap orang kasih satu pertanyaan, jadi masing-masing akan jawab dua pertanyaan.

Minggu pertama, karena masih pemanasan, jawabnya via Path. Tapi berhubung minggu kedua ini pertanyaannya agak berat, jadi jawabannya kepanjangan kalau di Path. Lebih cocok di sini.

Untuk proyek "Tanya Jawab Ya Gitu" kali ini, alih-alih pakai kata 'saya', sepertinya lebih sreg pakai 'gw' biar rasanya kayak beneran ngobrol tanya-jawab sama Shasha dan Cune.

So... here we go!

***
"Life value apa yg menurut lo sangat penting dan dirasa sangat harus lo ajarkan ke anak lo (kelak)?" -Shasha

Beberapa hari yang lalu, seorang teman cerita, pacarnya lagi bingung. Ada kode etik di kantornya yang melarang terima uang selain dari gaji. Tapi di sisi lain, kantornya nunggak gaji 3 bulan. Dilema moral. Kami sih kasih saran untuk ambil aja dengan argumen, itu haknya.

Ternyata, pacarnya keren banget! Biar seret keuangan begitu, dia (dan timnya) tetap mempertahankan kode etik kantor untuk nggak terima uang sepeser pun.

Mencelos. Ini soal prinsip, dan gw seakan diingatkan kembali bahwa integritas yang utama. Kedua, kejujuran. Ketiga, ikhlas. Iya, langsung ketampol sama 3 life value sekaligus.

Apa sih integritas? Ketika lo tetap memegang prinsip bahkan saat nggak ada yang mengawasi.

Lalu tentang kejujuran yang kayaknya ideal banget. Padahal, white lie, omit fact, atau apa pun istilahnya, dalam konteks tertentu bisa jadi terasa benar walaupun nggak baik. Cuma seenggaknya, dengan punya moral compass, semoga mempermudah memutuskan berbagai dilema hidup ya, Nak (ceritanya lagi ngomong sama anak di masa depan).

Berikutnya, ikhlas. Berat aselik jir. Tapi cuma ini satu-satunya cara mencapai 'inner peace'. Ah atuhlah, ngomongin ikhlas tuh berasa paling bijak aja. Padahal gw sendiri pun masih perlu belajar banyak.

Dan ini mengarah pada prinsip berikutnya: rendah hati.

Boleh lah cita-cita, pencapaian, dan ambisi setinggi langit. Tapi tetap harus menjejak tanah. Rugi euy sombong. Banyak pelajaran berharga di dunia yang cuma numpang lewat karena ngerasa paling hebat, paling pintar, paling benar, paling segalanya. Kira-kira itu yang mau gw ajarkan ke anak gw nantinya.

Sebetulnya masih banyak lagi sih. Tapi biar genap (ganjil?), dibulatkan jadi 5 prinsip aja, yang mana yang terakhir adalah kebaikan. Gw selalu percaya, kita nggak akan kehabisan orang-orang baik selama kita pun terus berbuat baik. Mungkin kesannya naif banget. But well, being kind is never a bad thing, yes? As long as it's with sincere motive.

***
"Ceritain dong momen dalam hidup lu yg meningkatkan rasa percaya diri lu banget, yang bikin lu 'udah bisa ngelewatin/ngelakuin ini, gw bisa ngelewatin/ngelakuin apapun'" -Cune
Hmm.. apa ya? Gw coba jawab dengan kejadian belakangan deh. Btw, boleh modifikasi sedikit nggak pertanyaannya? Karena fase ini belum berlalu, jadi modal gw cuma yakin bahwa kalau bisa ngelewatin/ngelakuin ini, bisa ngelewatin/ngelakuin apa pun.

Jadi begini. Gw selalu berpikir bahwa hidup itu ibarat game. Tiap naik level pasti ada tantangan baru. Yang sedang gw alami sekarang, tema 'game of life' nya adalah tentang menjadi berani. Mengalahkan 'musuh' yang namanya ketakutan.

I just confess something I've never done before. Ever.

Belum ada jawaban. Bisa jadi malah nggak pernah tau jawabannya apa. Ini sempet bikin super uring-uringan. Kalau istilah Shasha: drama sepihak. Istilahnya pas banget, sial.

But besides this uncertainty, I'm really proud of myself for going this far. A check point.

Dengan menandai check point ini, gw cukup yakin seenggaknya kalau game over, minimal nggak perlu balik ke level sebelumnya. It won't be the same me anymore.

"Bitter-sweet and strange. Finding you can change. Learning you."

Sebait lagu Beauty and the Beast ini seharusnya mewakili ya. Gw bener-bener tersentak ketika sadar makna film ini. Bukan tentang Si Cantik yang jatuh cinta sama Si Buruk Rupa, tapi cerita perjalanan Si Buruk Rupa mencari jati diri. Dalam proses pencarian itulah ia menemukan Si Cantik.

Cantik maupun Buruk Rupa di sini jelas lepas dari perkara paras. 

It's actually telling us about the beauty of life, a journey to learn ourself. One bitter-sweet and strange way to realize that we can be metamorphosed into better person.

Gitulah pokoknya.

Thursday, May 25, 2017

Ada Waktu?

0 comments
"Dengerin deh!" Aku menempelkan earphone-ku tepat di telinga kirimu.
"Apaan nih?"
"Udah dengerin aja. Judulnya 'I Don't Have Time to Be In Love'"
"Yearite. Ain't nobody have time for that," komentarmu sinis.
"Dengerin dulu sih."
"Bawel ah. Mana sini!"

Bersungut, kamu mencabut earphone yang masih menggantung di telinga kananku. Aku nyengir, membiarkanmu sekalian merebut iPodku.

###

I don't have time to be in love
Kissing you on the cheek
200 times a week

I don't have time to be in love
Watching a foreign film
Feet on a windowsill

###

Di tengah lagu, kamu menghela napas dan menekan tombol 'pause'.

"Bagus kan?"
"Rese ya emang lo."

Kamu menekan kembali tombol 'play' sambil memejamkan mata. Aku mencolekmu jahil.

"Jadi, sekarang ada waktu?"

Saturday, April 22, 2017

Empathy Drill

0 comments
Empathy drill. Salah satu materi yang kudu banget ada di Limitless Campus (LC). Saya pernah bahas soal LC nggak ya? Sampai lupa euy! Intinya sih, LC ini wadah belajar. Apa aja yang dipelajari? Ada tiga fundamental:
  1. Paham diri.
  2. Kenal sekitar.
  3. Ambil peran.

Iya absurd banget emang. Saya pun sampai sekarang masih meramu bentuknya. Awalnya tuh ide Rene Suhardono. Katanya, dari 3 tahun yang lalu. Kemudian saya dan teman saya --Lintang-- ditawari urus ini, tanpa tahu makhluk apaan. Ya udah, kita coba aja dulu. Nggak akan tahu kalau belum dicoba kan?

Singkat cerita, rangkaian Limitless Campus Batch 1 ini selesai. Yaaa.. not bad lah sebagai 'proyek babat alas’. Sekarang masuk tahap yang lebih serius di Batch 2. Lumayan juga bekal di Batch 1, plusss.. berbagai pembelajaran berharga yang saya dapat saat urus kampanye Pilkada DKI.

Nah, salah satunya ya tentang empathy drill. Saya menyimpan kegelisahan ini sejak lama, terutama tentang 'understanding the odds’. Betapa susahnya menerapkan 'memahami sebelum menghakimi’.

Mungkin ini topik sensitif, misal LGBT. Waktu di Batch 1, ada seorang Student yang protes setelah menonton video ini:



Ia berkesimpulan LC ini pro-LGBT. Wakwaaaw!

Padahal, video itu hanya referensi yang pesannya adalah “love has no labels”. Buat kami, pesan itu kuat banget, tapi ditangkap berbeda sama dia. Well, yaudalah. Barangkali kita juga perlu mencoba paham dari sisi dia, walaupun ujungnya dia mundur dari LC. Ini saya nggak tau persis alasannya sih.

Masih soal label, kali ini tentang identitas. Agama. Konteksnya Pilkada DKI. Teman-teman saya di LC kebanyakan pendukung Ahok, dan kami baik-baik saja. Tak ada sentimen berlebih terhadap hak pilih masing-masing. Praktek manis 'understanding the odds'.

Hal lainnya, saya pernah ikut training Impact Factory, sesinya Didi Mudita yang menyebut dirinya monster creator. Orang ajaib tapi keren! Dia bikin sesi empathy drill.

Peserta diminta duduk berpasangan. Yang satu memikirkan hal sedih sambil merem, yang satunya diam mengamati. Beberapa menit, lalu gantian. Yang tadi merem jadi pengamat, yang tadinya mengamati jadi merem.

Setelah itu berganti pasangan. Masih dengan aktivitas yang sama, cuma kali ini yang dibayangkan adalah momen membahagiakan.

Menarik mengamati respon berbagai pasangan. Ada yang ikut menangis, ada juga yang tertawa terbahak-bahak. Padahal mungkin nggak tau apa yang dibayangkan dan dirasakan pasangannya.

Saya sendiri merasa gagal karena pasangan saya nggak ada perubahan ekspresi. Padahal, saya sudah berusaha keras berempati. Mungkin susah peka aja -_- Malahan, pasangan saya yang heran. Saat melek, dia tanya “kok nangis? Kan bahagia?”

Iya, saya nggak bisa nangis saat inget pengalaman sedih. Malah nangis ketika inget momen membahagiakan. Soalnya saya jadi merasa bersyukur. Saat masa down, saya nggak pernah sendirian. Selalu ada pertolongan. Selalu ada dukungan. Makanya malah sesenggukan ketika inget yang bikin bahagia.

Tears of bliss. Tears of joy.

Terus jadi salah fokus. Yang disuruh itu latihan berempati, bukan refleksi diri, Del. Zzz. Anyway, saya pengen banget menghadirkan empathy drill apa pun bentuknya di berbagai sesi Limitless Campus setelah ini. Batch 2, 3, 4, dst.

Demi mewujudkan misi hidup “connecting the dots, understanding the odds”. Mempersatukan manusia lewat interaksi, lewat empati.

Friday, April 21, 2017

Buat Kamu

2 comments
Saya menulis ini karena saya mau kamu tahu.

Saya mau kamu tahu bahwa saya tak percaya kesetaraan gender. Yang saya percaya adalah kesetaraan hak dan kesempatan. Utamanya, pendidikan. Juga --ehem-- kesetaraan urusan domestik. HAHAHA. Tolong. Saya payah sekali perkara ini.

Saya mau kamu tahu bahwa saya tak percaya pria dan wanita diciptakan untuk bersaing. Saya sih amat sangat nggak keberatan mengalah. Menikah, pindah, berkarir di rumah, dsb. Terserah. Mungkin saya hanya menuntut kerjasama. Mengurus rumah, mengurus anak, mengurus satu sama lain.

Saya mau kamu tahu bahwa saya tak percaya cinta milik satu orang saja. Cinta itu buat semua. Bukan kamu seorang, jangan geer. Tapi semoga sampai tua dan mati, prinsip ini tetap sama: komitmen untuk setia. Semoga, kamu juga sama.

Terakhir, saya mau kamu tahu bahwa saya terlalu malu memberi tahu. Bahwa sekarang, saya sedang mencari siap. Kalaupun saya sudah ketemu kamu, kamu kan belum tentu mau. Dan saya belum siap untuk itu.

Iya, ini buat kamu.

Monday, April 17, 2017

Gubernur untuk Siapa?

0 comments
"Saya mau tanya. Kalau KJP Plus itu bisa buat anak-anak yang 'kurang' (maksudnya Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK) juga ndak?"
Dalam sebuah kesempatan sosialisasi program di kampung, seorang ibu mengajukan pertanyaan pada kami selaku pembicara. Saya bertanya balik.

"Di sini, anak-anak 'spesial' (alih-alih 'kurang', saya lebih nyaman menggunakan istilah 'spesial') pada sekolah nggak bu?"
Ibu itu menggeleng. Ibu sebelahnya menyahut "nggak ada sekolah yang mau nampung anak kayak gitu. Diolok-olok malah. Tetangga saya anaknya di rumah aja."

Hati saya mencelos. Buat mereka, ya itulah nasib. Terima saja.

***

Beberapa hari setelahnya, saya membaca tulisan Om Piring, idola saya. Biasanya, saya sependapat dengan pemikiran yang dia tuangkan di blognya itu. Tapi kali ini, dada saya berdebar kencang.

Campur aduk antara marah, sedih, dan kecewa mendapati bagaimana seorang yang bisa mewakili suara kelas menengah nggak melihat gubernur sebagai pemimpin, melainkan pelayan. Mental majikan.

Kalau istilahnya Om Piring di tulisan itu: "gubernur bukan pemimpin gw, tapi gubernur bisa menentukan apakah urusan gw dengan kota ini lebih nyaman atau tidak".

Pertanyaannya, buat mereka yang digusur, apakah gubernur sudah memastikan mereka hidup nyaman? Iya, dipindah ke rusun, sewa seumur hidup. Ngontrak di tanah kelahiran. Tanya kembali pada mereka, apakah hidup mereka nyaman?

Lalu untuk ABK dari keluarga pra-sejahtera. Apakah gubernur sudah memastikan anak mereka tetap mendapatkan pendidikan yang sama adilnya dengan ABK dari keluarga yang bisa bayar mahal untuk sekolah dan mendapat pendampingan khusus?

Apakah gubernur sudah memastikan subsidi untuk memenuhi hak pendidikan bagi semua anak usia sekolah? Hak mendapat kesempatan bekerja dan berdaya? Hak memiliki hunian?

***

Mundur ke beberapa bulan lalu, ketika saya ngebet banget bikin festival yang targetnya swing voters menengah-atas. Tapi festival ini akhirnya diganti acara lain yang lebih sederhana.

Sebetulnya, idenya adalah menyentil status quo.

Mahasiswa tingkat akhir akan tetap pusing karena dosen pembimbing susah dihubungi. Untuk para karyawan, bos ngehek tetap akan jadi bos ngehek. Para eksekutif muda akan tetap macet-macetan PP rumah-kantor.

Tak akan ada banyak perubahan dalam hidup mereka, siapa pun gubernurnya.

Tapi untuk menengah-bawah, yang tadinya nggak bisa sekolah jadi bisa sekolah. Yang tadinya pengangguran, jadi bisa kerja, bahkan menciptakan lapangan kerja baru. Yang tadinya nggak punya rumah, jadi punya rumah.

Buat mereka, siapa gubernurnya akan menentukan seperti apa nasib mereka.

Intinya, hak suara lo mungkin nggak signifikan pengaruhnya sama hidup lo. Bumi tetap berputar. Skripsi tetap belum kelar. Deadline kerjaan tetap bikin modyaaar.

Tapi hak suara lo sangat berpengaruh untuk mereka yang menitipkan harapan perubahan taraf hidup pada pemimpinnya.

Setidaknya, untuk Jakarta 5 tahun mendatang.

Wednesday, April 5, 2017

Inner Peace

2 comments
Beberapa hari yang lalu, kaki kanan saya bengkak tanpa sebab dan nyeri seharian. Untung hari Minggu, jadi nggak masalah guling-guling kesakitan di rumah, ribut cari cara menghilangkan nyeri --yang mana yang paling ampuh adalah tidur.

Rasanya seperti De Javu, kurang lebih mirip tulisan ini. Lagi-lagi, masalah kaki.

Di hari Senin, akhirnya saya cek juga ke dokter. Karena masih nyut-nyutan, mau nggak mau pakai kursi roda. Saya sebetulnya benci banget ketemu benda ginian lagi. Mengingatkan pada masa struggle lahir batin waktu patah kaki 6 tahun yang lalu -_-

Ketika itu, yang patah bukan cuma kaki, tapi patah asa juga. Lebay banget deh pokoknya, soalnya saya jadi batal ikut volunteer acara Jember Fashion Carnaval, batal pentas Jazz Dance, juga batal ikutan Madah Bahana in Concert.

Bahkan, selamanya harus mengubur ambisi jadi pramugari Garuda karena salah satu persyaratannya ya kulit harus muluuusss.. tanpa cacat (bekas luka, bekas jahitan, keloid, dsb).

Tapi tadi, saat saya kelupaan daftar 2 kegiatan penting yang deadline nya hari ini, saya malah takjub sama respon sendiri.

Jujur, saya sebetulnya super cemas ini kenapa. Patah bukan, keseleo bukan, kepentok bukan, pokoknya nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba bengkak dan nyeri. Makanya bisa sampai skip banget daftar sesuatu. Hiks.

Cuma alih-alih menyesal, saya kaget bisa sedemikian bersyukur. Barangkali, nggak mendapatkan apa yang saya inginkan adalah berkah tersendiri. Kenapa? Karena terhindar dari sifat serakah, mau mengerjakan ini-itu, banyak hal dalam satu waktu. Kalau saya jadi daftar, mungkin akan makin bercabang fokusnya.

Di situ kadang saya merasa... I finally find my inner peace :)

Tuesday, February 14, 2017

Happy or Ready?

0 comments
"Di dunia ini ada dua tipe orang: yang mencari dan mencari tahu"

Dalam sebuah percakapan santai sambil ngopi-ngopi, seorang teman mencoba berteori. Kalau tipe yang pertama, orang yang mencari pasangan. Minta dijodohin. Penuh intensi saat bertemu orang baru.

Sementara tipe yang kedua, lihat-lihat dulu. Memperluas pergaulan sambil mencari tahu siapa yang paling cocok buat dirinya.

Menurutnya, saya yang sekian tahun anteng menjomblo ini masuk tipe yang kedua.

Kening saya berkerut-kerut mendengar penjelasannya. Rasanya kok ya masih kurang pas teorinya. Saya hanya belum ketemu aja. Lagipula, tak ada yang salah dengan sendiri dan mandiri, kan?

Maksud teman saya itu baik. Ia mau saya happy ketemu jodoh. Lebih tepatnya, dia penasaran, jodoh saya nantinya seperti apa? Haha.

Saya jadi ingat sesi Razi Thalib --CEO Setipe.com, sebuah start up online dating-- saat acara Idea Fest. Di sesi yang isinya cinta melulu itu, dia bilang gini:
"Find someone who can make you happier, not happy. Karena kalau cari pasangan tujuannya supaya bahagia, kalau pisah, kebahagiaan lo dibawa sama dia."

Ini juga bikin berkerut-kerut. Lama-lama saya keriput lah kalau keseringan denger teori cinta berbagai versi. If I'm already happy, should I risk it? How if that person actually make me less happy rather that happier?

Di hari Valentine ini, saya yang belakangan super skeptis dan lebih suka bahas Pilkada #eh, jadi pengen mendefinisikan ulang. Tanya lagi ke diri sendiri, jujur-jujuran maunya apa.

Maybe it's not that I'm not happy. Or I'm seeking for the right person who can make me happier. Maybe well... I'm just not ready yet to take the risk, that relationship might work but it also might fail.

Maybe, I'm just not ready for commitment yet.

Reframe Worklife

0 comments
"Bersetialah pada nilai, bukan figur" -diingatkan oleh seorang teman yang mengutip dari teman lainnya.

Buat saya, figur itu penting. Dari awal bekerja, yang saya cari tau dulu itu siapa bosnya. Saya baru sadar pola itu sekarang, setelah saya berganti pekerjaan 7 kali dalam 5 tahun.

Mungkin kesannya kutu loncat, tapi saya punya alasan kuat di tiap pergantian kerja. Kalau interview kerja dan saya ditanya kenapa resign, saya bisa bercerita dengan ringan hati tanpa harus ada yang ditutup-tutupi.

Dan yang terpenting, semua bos saya selalu mendukung apa pun keputusan karir saya. Dari sini, saya bisa bilang saya super beruntung. Walaupun selayaknya semua hal di dunia, nggak selamanya kerja itu enak. Kadang kesel, capek, bosen, dsb.

Tapi kalau dipikir-pikir, punya bos-bos yang suportif gini, gimana bisa nggak bersyukur? Saya ingat betul semua memori ketika saya mengajukan resign.

Pertama, saya resign karena lolos seleksi awal jadi Pengajar Muda. Saat itu, bos saya malah mengucapkan selamat dengan super antusias. Walaupun setelah itu gagal sih di seleksi kedua. Haha. Dan udah kadung resign. Nasib :))

Kedua, lagi-lagi, saya resign karena keterima jadi Pengajar Muda setelah mencoba daftar lagi untuk kedua kalinya. Waktu itu bos saya dua. Dan dua-duanya merespon secara menakjubkan. Yang satu cuma tersenyum teduh dan mengangguk sambil bilang "I know". Yang satunya lagi malah terharu dan semangat banget dukung saya jadi Pengajar Muda.

Lalu pekerjaan ketiga, jadi Pengajar Muda. Kalau ini, emang jatahnya setahun aja.

Keempat, di kantor Indonesia Mengajar. Baru sebentar, karena saya dapat tawaran untuk kerja di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saya sebetulnya super nggak enak bilangnya, bahkan menawarkan akan segera membantu mencari pengganti dan menyiapkan semua materi transisi.

Tapi bos saya geleng-geleng dan menenangkan "nggak usah terbebani dengan cari pengganti. Kamu fokus aja buat kerjaan di Kemdikbud. Semoga sukses ya" Speechless.

Kelima, karena re-shuffle. Apa boleh buat. Haha.

Keenam dan ketujuh, mengurus kampanye Pilkada DKI dan Limitless Campus sekaligus. Bos saya yang notabene juga teman dekat Anies Baswedan sangat maklum. Sempet dikerjain, tapi ujung-ujungnya dia bilang "see you on February!"

Sampai sini, walaupun jenjang karir saya agak absurd untuk ditulis di CV, saya jadi ngeh kalau saya mengorbit pada figur. Saya mengorbit pada orang-orang yang bekerja sepenuh hati, dari hati.

Ternyata, pun ketika bersetia pada figur, saya sesungguhnya sekaligus bersetia pada nilai yang dianut figur tersebut.

Mungkin suatu saat, saya akan punya orbit sendiri, dengan warisan nilai yang dibawa dari para figur pemimpin yang saya pernah ikuti. Semoga. Aamiin.

More Than Votes (part 2)

0 comments
Tapi satu hal yang saya pelajari: kadang, kita hanya perlu mencoba memahami dari berbagai sudut pandang. Berempati.

Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang anaknya putus sekolah karena KJP hanya bisa meng-cover kebutuhan sekolah. Padahal, mereka juga butuh ongkos transportasi, butuh uang jajan, dsb.

Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang tinggal di pinggir pantai yang jadi korban reklamasi. Yang makin sulit cari ikan.

Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang kena gusur. Yang puluhan tahun tinggal tapi dalam sekejap rumahnya rata dengan tanah. Mereka terpaksa tinggal di rusun, jauh dari mata pencaharian, harus bayar sewa pula!

"Mbak, Jakarta itu bagus aja dipandang. Di hati ngga" -seorang warga penghuni rusun.
Pilkada ini mengajarkan saya bukan hanya tentang bagaimana memperoleh suara, tapi juga tentang memandang ibukota dari sisi lain.

Kalau awalnya saya hanya berpikir sederhana bahwa saya ingin berangkat ke Jakarta dengan nyaman dan pulang dengan aman, pada perjalanannya, saya sadar ini bukan tentang saya.

Mendukung Anies-Sandi menang berarti mendukung pemimpin yang dititipkan amanahnya untuk membereskan 'patah hati' mereka yang digusur, sulitnya mendapat pekerjaan, dan kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan, dan segala bentuk ketidakadilan lainnya
.
Menyadari ini, sekedar 'patah hati' karena bersebrangan pendapat dengan teman atau dinyinyirin rasanya jadi tak penting lagi.

For me, this election is very special. It's more than votes.

Yes I might know nothing about this city and society, but I know one thing: I'm supporting candidates who can speak on behalf of them.

Good luck, Sir!

More Than Votes (part 1)

0 comments

"Lo pilih nggak penting tapi lo suka atau penting walaupun lo nggak suka?"

Di sebuah kesempatan, saya pernah mengajukan pertanyaan ini pada kurang lebih 500 orang dan menyeleksi jawaban mereka. Nggak ada jawaban benar-salah. Saya hanya ingin tahu alasan pilihan mereka, tanpa menduga bahwa saya dihadapkan oleh pertanyaan saya sendiri.

Terjun membantu kampanye dalam Pilkada DKI, saya memilih melakukan hal yang penting walaupun saya nggak suka. Iya, saya ngaku saya nggak suka politik.

Saat itu, saya sebetulnya masih mengerjakan sebuah proyek Limitless Campus (LC), sebuah wadah yang kalau istilah Rene Suhardono "reimagine education". Kalau diminta menjelaskan apa itu LC, saya juga sebetulnya masih bingung, haha.

Tapi kira-kira gambarannya gini:

"Kalau lo dikasih kesempatan untuk melakukan hal yang penting dan lo suka, apa yang akan lo lakukan?" Buat saya, LC adalah jawabannya.

Makanya, mengiyakan terlibat kampanye itu sebetulnya resiko yang agak gila. Tapi ya mungkin saya memang perlu cek kewarasan :))

Saya hanya berpikir sederhana. Sebagai komuter, saya mau berangkat ke Jakarta dengan nyaman dan pulang dengan aman. Dan sebagai warga luar DKI, suara saya mungkin bisa diwakilkan oleh mereka yang punya hak pilih, tapi kontribusi saya nggak.

Well, win or lose, I can say proudly:
"At least I've done something"

Perjalanan Pilkada Jakarta ini ibarat naik roller coater tanpa safety belt. Adrenalin plus plus. Harus selalu siap menghadapi hal-hal tak terduga.

Termasuk patah hati.

Mungkin buat orang-orang yang 'T banget' (T = thinking, salah satu dimensi kepribadian menurut tes MBTI), saya bisa dibilang super lebay.

Saya patah hati saat tau bahwa ternyata orang bisa balik kanan begitu saja.

Saya patah hati saat tau bahwa berseberangan pilihan tak bisa selesai lewat diskusi.

Saya patah hati saat orang yang saya pikir berpikiran terbuka, ternyata memilih untuk nggak mau tau. Intinya, saya patah hati karena merasa tidak dipercaya.

Honestly, distrust issue really breaks my heart. Lebay kan? Emang -_-

(bersambung)