Posts

Showing posts from 2017

Let's Grow Our Food!

Pernah dengar ungkapan "eat what you kill"?
Saya nggak percaya itu. Sebegitu kejamnya kah dunia sampai harus membunuh untuk makan? Rasa-rasanya ada yang ganjil.
Tunggu dulu. Ini konteksnya apa ya?
Mari saya ceritakan sebuah kisah. Tentang seorang karyawan yang mengeluhkan gajinya yang kecil, bahkan di bawah UMR, padahal dia merasa sudah bekerja sangat keras.
Ketika ia mengajukan kenaikan gaji pada atasannya, dibalas "eat what you kill" a.k.a. "kita cuma mampu bayar kamu segitu. Kalau mau lebih, kamu usahakan dengan cara lain".

Sementara dari sisinya, ia merasa diperlakukan tidak adil. Kalau pun dituntut untuk berburu, pinjamkan senjata dan ajarkan caranya. Buatnya, ini hanya tipu muslihat saja agar perusahaan bisa hemat pengeluaran untuk gaji.
Tentu saja cerita ini fiktif. Hanya ilustrasi bagaimana kapitalisme bekerja. Semakin kuat kamu, menguasai senjata dan lihai menggunakannya, semakin banyak makanan yang bisa kamu makan.

Sementara ada mereka yang jug…

2017. Ada Apa?

12 bulan ini berjalan luar biasa sampai saya sendiri bingung mana yang mau di-highlight. Mungkin secara acak dan teringat ada beberapa:
Mengutarakan sesuatu yang nggak pernah terpikir seumur hidup akan melakukan ini. Ada di tahap memastikan kesiapan diri dan punya ekspektasi jawaban.Mengalami sesuatu yang cukup mengobrak-abrik apa-apa yang tadinya saya percaya. Walaupun sebetulnya nggak boleh melabeli diri, tapi bisa dibilang ini 'depresi mini'. Karena satu tingkat di atas sedih, tapi barangkali 1 tingkat di bawah depresi yang sebenarnya.Membuktikan sendiri ungkapan yang bilang "orang yang jarang marah biasanya sekalinya marah, ngeri banget" dan bersyukur masih ada yang peduli.Sambungan poin 1. Secara mengejutkan, tak lagi mencari jawaban. Yang dicari adalah ketenangan. Menikmati ketidakpastian.Mendapat 2 panggung besar: syuting Big Circle di Metro TV dan isi acara di Idea Fest. Malah makin sadar, saya tak butuh panggung sedemikian besarnya.Ohya, 1 panggung lagi: acar…

Resep Rahasia

Garam.
Cuka.
Lada.Kecuali gula.Jadi cerita.
Pada masanya.

Akui Saja

Akui saja. Tak ada yang suka di-judge, meski mati-matian bilang nggak peduli omongan orang.
Akui saja. Ada omongan yang sangat dipedulikan, meski mati-matian bilang nggak usah baper kalau orang komen.
Akui saja. Bahwa selalu ada ketakutan itu. Takut di-judge, takut dikritik, dan yang paling bikin takut: nggak didukung sama orang yang paling diharapkan mendukung.
Kau tahu kepanjangan emosi? Emotion. Energy in motion. Kau tahu hukum kekelan energi? Bahwa energi tak bisa hilang, hanya berpindah tempat.
Jadi akui saja beragam emosi yang mampir ke hidupmu. Bukan cuma kamu, bukan cuma milikmu.
Aku-i saja. Meng-aku. Meng-kamu. Meng-kita.

Dua Sendok Teh

"Jadi, lo suka nggak sama dia?" Saya gelagapan mendapati diri bertanya monolog. Padahal, rasanya mau bilang "gimana bisa nggak?"

Suka.

Nggak harus konteksnya hubungan romantis. Bleh. Makin ke sini saya makin merasa orang-orang memaknai 'romantisme' sedikit terlalu berlebihan. Bikin giung.

Suka.

Kadang sesederhana warna favorit. Atau alasan kenapa beli baju yang motifnya aneh. Atau keputusan untuk memilih destinasi wisata. Atau jawaban ketika urek-urek lembar SPMB dan menentukan jurusan.

Suka.

Jungkir-balik mencari alasan yang masuk akal, dan akhirnya menemukan bahwa manusia memang makhluk irasional yang mencoba berpikir. Bukan sebaliknya, makhluk rasional yang mencoba merasa.

Suka.

Kata yang tepat untuk mewakili rasa 'dua sendok teh'.

Rambling Thoughts, Rambling Feelings

What does writing mean to you?
For me,
I don’t write to impress.
Nor give information.
Or something like create legacy. Nope. I write to express.
Like now.
When I avoid conflict.
Avoid uncomfortable conversation.
Avoid eye contact.
Avoid showing my real feeling.
Avoid everything. Things going on in my head.
In my heart.
Aching.
And I keep denying. And to know someone noticing things I hide.
It sucks. There are times when I confront.
But the rest, I prefer back off.
Fuck off. No need to discuss.
No need to argue.
Even, no need to compromise. So, what does writing mean to me?
An emotional outlet.
For things that can't be said. Why is it so hard?
Why am I so defensive?

###

From my draft writing long ago, finally posted as a reminder that:

We're not okay most of times, but at least there are times when we really mean what we say "I'm okay to be not okay". Okay?

Life Mission

"Del, gimana ya ngejelasin life mission?" Eh gimana?

Di suatu sore, teman saya out of nowhere lempar pertanyaan sederhana yang mengingatkan saya pada kata-kata Pak Anies waktu reshuffle: "jabatan bisa berganti, tapi setialah pada misi".

Eta terangkanlah. Misi naon?

Makin ke sini, saya makin skeptis sama berbagai jargon. Mungkin saking seringnya mengorbit sama orang-orang yang mahir retorika sekaligus bergaul dengan mereka dengan tipe "cut the flowery words. So what's the point? What are you trying to say?"

Sisi positifnya, saya jadi terlatih untuk menyeimbangkan keduanya. Makanya, pertanyaan teman saya itu jadi pembahasan seru. Saling bertanya contoh, konteks ke diri sendiri, dan akhirnya kami menyimpulkan begini kira-kira:

Tiap orang punya peran. Misalnya saya. Kalau di rumah, peran saya sebagai anak, juga kakak. Kalau di pekerjaan, perannya ya sebagai pekerja. Tapi kalau dalam tim kecil, dalam beberapa hal, saya yang pegang peran untuk bertanggung …

Make Time

Menulis itu susah. Apalagi, menulis yang memang diniatkan agar orang lain membaca, bukan untuk buku harian biasa.
Bertemu itu susah. Apalagi, bertemu yang memang diniatkan di sela kesibukan, bukan kebetulan.
Olahraga itu susah. Apalagi, olahraga yang memang diniatkan rutin tiap pagi, bukan hanya sesekali.
Berbisnis, membuat gerakan, atau apa pun wujud inisiatif itu susah. Apalagi yang memang diniatkan untuk menghidupi diri, bukan sekadar hobi.
Kenapa susah? Apa tak cukup waktu? Karena sebenarnya, resepnya cuma satu: meluangkan waktu. Mencicil dan membiasakan apa-apa yang susah itu.
Sebelum menyerah, mari bertanya kembali pada diri: sudahkan mengusahakan?
Lagipula, kalau semua mudah, apa serunya?

How Do I Know?

"Pertanyaan 'kapan' tuh mulai bikin tertekan deh"
Akhirnya, di sebuah kesempatan curhat sama teman-teman dekat, terlontar juga keresahan ini. Bukan karena saya ngebet mau nikah tapi belum ada calonnya. Tapi karena ingat eyang-eyang kesayangan yang udah nggak muda lagi itu (IYALAH).
Tekanan datang dari mereka yang justru sangat berhati-hati tanya ke saya, tapi terasa sekali berharap banyak. Mereka yang tiap ketemu harus ritual cium tangan cium pipi lalu sekarang tambahan ritual baru: bisikan "jadi kapan?"
Dan selalu saya jawab "doain aja" lalu dibalas "jangan lama-lama ya. Mumpung eyang masih ada"
NAH YANG BEGINI INI YANG BIKIN TERTEKAN!
Sialan nih. Belakangan saya melatih empati karena banyak peristiwa yang bikin saya sadar kebutuhan untuk menjadi lebih peka. Lebih 'manusiawi'.
Efek sampingnya adalah peer baru untuk kontrol kebaperan. Mengasah rasa, belajar jadi lebih perasa, kadang bikin saya jengah sendiri.
Why are you doing t…

Paham Diri

Semalam, saya dan seorang teman ngobrol panjang. Topiknya adalah Limitless Campus dan berbagai ukurannya. Salah satu yang panjang dibahas adalah soal paham diri.
Bagaimana seseorang bisa dikatakan sudah paham diri?
Kenapa harus paham diri?
Apakah diri sebegitu pentingnya untuk dipahami?
Apa 'bahasa operasional' dari mindfulness?
Apa bedanya dengan empati?

Berat ya bok!
Setelah penjelasan berbelit-belit, akhirnya saya sadar. Barangkali, paham diri sesederhana paham apa yang disukai dan yang penting. Bukan penting menurut orang lain, tapi menurut diri sendiri. Dan nggak perlu galau kalau nggak bisa memilih keduanya. Hidup kan nggak selalu ideal.
Ada kalanya kita menyukai sesuatu walaupun nggak penting-penting amat. Atau sebaliknya, hal penting yang nggak kita sukai. It's okay. Deal with it, make peace with yourself.
Kalau mencoba refleksi, apakah saya bisa bilang sudah paham diri? Mungkin, jawabnya ada di ujung langit. Kita ke sana dengan seorang anak. Anak yang tangkas dan…

About Belief and Other Random Stuff

Dua malam ini, saya ngobrol sampai larut bersama beberapa orang teman sepulang bekerja. Bahasannya berat: agama. Saya bukan orang yang religius, jadi tulisan kali ini bukan tentang ilmu agama, tapi bagaimana kebaikan, ketaatan, dan berbagai elemen lainnya melekat di agama manapun. Atau mari sebut saja: kepercayaan.

Menariknya, di balik kepercayaan, ada satu elemen yang perannya adalah mempertentangkan. Misalnya dalam kepercayaan Sunda Wiwitan, ada yang namanya Wiwaha Yudha Narada, sifat dasar manusia yang selalu memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya.

Well, sepertinya saya harus banyak baca lagi soal si Wiwaha Yudha Narada ini.

###

Anyway, saya nggak tahu ini berhubungan atau justru super nggak nyambung, dompet saya semalam hilang. HP saya pun mati, tombol powernya eror. Anehnya, saya sama sekali nggak merasa panik. Hanya langsung terbayang berbagai prosedur administratif seperti blokir kartu ATM, bikin surat keterangan hilang ke kantor polisi, pengajuan surat keterangan identi…

Different

(Percakapan saat sarapan)
Papa: "Kamu ditanyain terus tuh sama Bu X dari Bank Y. Della sekarang sibuk di mana?"
Della (sambil ketawa santai): "Bilang aja lagi sibuk bikin kerjaan. Nanti kalau udah nyerah, baru cari kerjaan, hahaha"
Mama: "Beda ya. Seumuran kamu harusnya udah bisa nyicil rumah, nikah, gendong anak. Mama dulu blablabla. Kamu ngapain?"
Well dear mom, I'm not you. I'm not everyone else. And I'm not sorry for that. For being different. Kalem.

Tanya Jawab Ya Gitu #6

"Apa ketakutan terbesar yang masih lo hadapi sampai sekarang?" BANYAK JIR! Pada dasarnya, gw ini anaknya penakut dan pencemas. Dari hal cetek kayak takut kejedot plang otomatis parkiran kalau naik ojek, takut kejeblos lubang kalau lagi jalan gelap malem-malem, takut liat pocong kalau lewat kebun isinya pohon pisang, takut nyebrang, takut gagal, takut nggak bisa memenuhi ekspektasi orang lain, dsb.
Gw cemas kalau mau pergi ke suatu tempat dan packing ada yang ketinggalan, cemas nyasar (apalagi gw anaknya buta jalan), cemas kalau ketemu banyak orang baru, cemas tiap maju ke depan panggung/presentasi, cemas sama berbagai ketidakpastian, dsb.
Tapi ya mau gimana. Satu-satunya cara ya hadapi. Apa boleh buat. Melarikan diri nggak bikin takutnya hilang, malah makin horor karena jadi membayangkan yang nggak-nggak.
Hidup dengan berbagai ketakutan, gw malah jadi bertanya-tanya kayak apa rasanya nggak punya rasa takut. Kayak apa rasanya nggak ngalamin sensasi 'degdegser’ yang nggak…

Tanya Jawab Ya Gitu #5

Jadi ceritanya, setelah kelar jawab 4 pertanyaan dari Cune dan Shasha selama 4 minggu berturut-turut, Cune bikin jebakan Betmen: jawab pertanyaan sendiri. Terus nyesel, kenapa bikin pertanyaan susah-susah amat. Tapi yaudah. Challenge accepted! Per dua dulu ya. Sisanya menyusul minggu depan.

*** "Kalau jadi warna, lo warna apa dan kenapa?" -Della Dalam kondisi normal, sepertinya krem cukup mewakili. Mungkin karena gw anaknya elemen tanah kali ya? Calm and grounded. Eh tapi krem yang agak cokelat. Pantone warna kulit gitu. Duh gimana ya jelasinnya? Kalau di make up, semacam baseline. Primer. Foundation. Concealer. Atau ala ala 'no make up make up’.
Eh tapi di beberapa situasi, kadang bisa merah banget sih. Outspoken and vibrant. Kayak gincu cetar. Atau rambutnya Ariel Little Mermaid. Terutama kalau udah mau sesuatu, ‘kecolek’ dan merasa harus menyampaikan aspirasi, atau ketika kekeuh mempertahankan sikap.
Nggak tau sih ini udah cukup tepat menggambarkan soal warna atau be…

Anak Rumah Tangga 2.0

Walaupun nggak selalu ditulis, tiap lebaran, pasti ada aja materi refleksi. Mumpung lagi mood, kali ini saya mau bahas topik pekerjaan rumah tangga.
Di beberapa kesempatan, saya pernah menulis tentang balada mengurus rumah. Tahun 2010, 2014, dan 2016. Sampai tahun lalu, saya masih konsisten ingin mencari pasangan yang bisa memastikan alokasi anggaran untuk mbak terpenuhi. Bahkan beberapa teman sudah bosan mendengar syarat ini karena saya ulang-ulang terus :))
But things change overtime. I don't know since when, I feel like things get clearer now.
Kalau lihat kilas balik tulisan lama, banyak yang isinya curhat keluh-kesah tentang nyokab yang nggak tersampaikan. Iya emang saya anaknya drama. Menulis blog saya jadikan tempat katarsis. Ya daripada disalurkan ke aktivitas yang lebih nggak jelas lagi kan?
Jadi barangkali, 'obsesi' punya mbak itu karena sebetulnya saya cuma nggak tahan aja sama tekanan nyokab yang pada dasarnya beda standar.
Saya nggak terlalu bermasalah barang-…

Tanya Jawab Ya Gitu #4

"Kalo lo Animagus, lo mau jd hewan apa dan kenapa?" -Shasha Gw sampai Googling dulu loh buat inget-inget list Animagus ada apa aja:
Silver Tabby CatBlack CatTall Red StagShaggy Black DogFat Grey RatBig Blue Bettle
Duh, nggak ada yang sreg. Ngarang boleh nggak? Gw pengen bisa menjelma menjadi dua bentuk Animagus. Kalau lagi kalem, jadi Snow Peacock yang bulunya putih dan matanya biru. Cakep! Lenggok sana-sini, keliatannya nggak berbahaya. Tapi di masa-masa tertentu, bisa berubah jadi Fire Peacock. Sangar tapi tetep effortlessly anggun. Kenapa? Nggak ada alasan spesifik sih. Keren aja.

"Superpower apa yang lu pengen punya, dan 'superpower' apa yang lu udah punya?" -Cune Sebetulnya kayaknya seru punya superpower kaya Prof. Xavier, bisa mengendalikan dunia lewat pikiran. Seru aja gitu kalau lagi PMS, bisa bikin abang jualan kasih cokelat atau es krim gratis. Atau kalau kamar lagi berantakan, pilih acak aja orang buat dateng terus beresin. Semacam semi hipnotis.…

Tanya Jawab Ya Gitu #3

"Ceritain dong curhat pasif kalian yang kalian rasa paling seru" –Shasha
Sebelum menjawab, mungkin ada baiknya didefinisikan dulu apa itu curhat pasif. Alkisah (tsah), gw pernah menjabarkan seperti ini:

Curhat pasif adalah curhat 'males' di mana lo nggak harus ngoceh nggak karuan, berharap ada yang mau dengerin dan ngertiin. Bukan males curhat tapi ya, bedain.

Dalam curhat pasif, mulut lo bungkam, tapi ada kepuasan dan kelegaan hati yang setara dengan curhat aktif. Contoh aktivitasnya adalah baca buku, dengerin lagu, nonton film, cari quote, dengerin cerita orang, dll.

http://fidellanandhita.blogspot.co.id/2013/02/curhat-pasif.html

***
Sebenernya yang seru ada banyak! Mungkin karena gw hobinya curhat, baik aktif maupun pasif. Haha. Yang terkini, gw copas aja yah di sini:

Orang-orang yang menulis itu sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada masalahnya, pada amarahnya, pada kegelisahannya. Sehingga ia mau repot-repot menuangkan menjadi sebuah rekaman kata. Sesuatu yang mungki…

Tanya Jawab Ya Gitu #2

Prolog:
Jadi ceritanya, dua minggu yang lalu saya diajak Cune main tanya-jawab. Terus ajak Shasha ikutan juga. Intinya sih tiap orang kasih satu pertanyaan, jadi masing-masing akan jawab dua pertanyaan.
Minggu pertama, karena masih pemanasan, jawabnya via Path. Tapi berhubung minggu kedua ini pertanyaannya agak berat, jadi jawabannya kepanjangan kalau di Path. Lebih cocok di sini.
Untuk proyek "Tanya Jawab Ya Gitu" kali ini, alih-alih pakai kata 'saya', sepertinya lebih sreg pakai 'gw' biar rasanya kayak beneran ngobrol tanya-jawab sama Shasha dan Cune.
So... here we go!
*** "Life value apa yg menurut lo sangat penting dan dirasa sangat harus lo ajarkan ke anak lo (kelak)?" -Shasha
Beberapa hari yang lalu, seorang teman cerita, pacarnya lagi bingung. Ada kode etik di kantornya yang melarang terima uang selain dari gaji. Tapi di sisi lain, kantornya nunggak gaji 3 bulan. Dilema moral. Kami sih kasih saran untuk ambil aja dengan argumen, itu haknya.

Ada Waktu?

"Dengerin deh!" Aku menempelkan earphone-ku tepat di telinga kirimu.
"Apaan nih?" "Udah dengerin aja. Judulnya 'I Don't Have Time to Be In Love'" "Yearite. Ain't nobody have time for that," komentarmu sinis. "Dengerin dulu sih." "Bawel ah. Mana sini!"

Bersungut, kamu mencabut earphone yang masih menggantung di telinga kananku. Aku nyengir, membiarkanmu sekalian merebut iPodku.
###

I don't have time to be in love Kissing you on the cheek 200 times a week
I don't have time to be in love Watching a foreign film Feet on a windowsill
###

Di tengah lagu, kamu menghela napas dan menekan tombol 'pause'.
"Bagus kan?" "Rese ya emang lo."
Kamu menekan kembali tombol 'play' sambil memejamkan mata. Aku mencolekmu jahil.

"Jadi, sekarang ada waktu?"

Empathy Drill

Image
Empathy drill. Salah satu materi yang kudu banget ada di Limitless Campus (LC). Saya pernah bahas soal LC nggak ya? Sampai lupa euy! Intinya sih, LC ini wadah belajar. Apa aja yang dipelajari? Ada tiga fundamental: Paham diri.Kenal sekitar.Ambil peran.
Iya absurd banget emang. Saya pun sampai sekarang masih meramu bentuknya. Awalnya tuh ide Rene Suhardono. Katanya, dari 3 tahun yang lalu. Kemudian saya dan teman saya --Lintang-- ditawari urus ini, tanpa tahu makhluk apaan. Ya udah, kita coba aja dulu. Nggak akan tahu kalau belum dicoba kan?
Singkat cerita, rangkaian Limitless Campus Batch 1 ini selesai. Yaaa.. not bad lah sebagai 'proyek babat alas’. Sekarang masuk tahap yang lebih serius di Batch 2. Lumayan juga bekal di Batch 1, plusss.. berbagai pembelajaran berharga yang saya dapat saat urus kampanye Pilkada DKI.
Nah, salah satunya ya tentang empathy drill. Saya menyimpan kegelisahan ini sejak lama, terutama tentang 'understanding the odds’. Betapa susahnya menerapkan '…

Buat Kamu

Saya menulis ini karena saya mau kamu tahu.

Saya mau kamu tahu bahwa saya tak percaya kesetaraan gender. Yang saya percaya adalah kesetaraan hak dan kesempatan. Utamanya, pendidikan. Juga --ehem-- kesetaraan urusan domestik. HAHAHA. Tolong. Saya payah sekali perkara ini.

Saya mau kamu tahu bahwa saya tak percaya pria dan wanita diciptakan untuk bersaing. Saya sih amat sangat nggak keberatan mengalah. Menikah, pindah, berkarir di rumah, dsb. Terserah. Mungkin saya hanya menuntut kerjasama. Mengurus rumah, mengurus anak, mengurus satu sama lain.

Saya mau kamu tahu bahwa saya tak percaya cinta milik satu orang saja. Cinta itu buat semua. Bukan kamu seorang, jangan geer. Tapi semoga sampai tua dan mati, prinsip ini tetap sama: komitmen untuk setia. Semoga, kamu juga sama.

Terakhir, saya mau kamu tahu bahwa saya terlalu malu memberi tahu. Bahwa sekarang, saya sedang mencari siap. Kalaupun saya sudah ketemu kamu, kamu kan belum tentu mau. Dan saya belum siap untuk itu.

Iya, ini buat kamu.

Gubernur untuk Siapa?

"Saya mau tanya. Kalau KJP Plus itu bisa buat anak-anak yang 'kurang' (maksudnya Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK) juga ndak?" Dalam sebuah kesempatan sosialisasi program di kampung, seorang ibu mengajukan pertanyaan pada kami selaku pembicara. Saya bertanya balik.

"Di sini, anak-anak 'spesial' (alih-alih 'kurang', saya lebih nyaman menggunakan istilah 'spesial') pada sekolah nggak bu?" Ibu itu menggeleng. Ibu sebelahnya menyahut "nggak ada sekolah yang mau nampung anak kayak gitu. Diolok-olok malah. Tetangga saya anaknya di rumah aja."

Hati saya mencelos. Buat mereka, ya itulah nasib. Terima saja.

***

Beberapa hari setelahnya, saya membaca tulisan Om Piring, idola saya. Biasanya, saya sependapat dengan pemikiran yang dia tuangkan di blognya itu. Tapi kali ini, dada saya berdebar kencang.

Campur aduk antara marah, sedih, dan kecewa mendapati bagaimana seorang yang bisa mewakili suara kelas menengah nggak melihat gubernur …

Inner Peace

Beberapa hari yang lalu, kaki kanan saya bengkak tanpa sebab dan nyeri seharian. Untung hari Minggu, jadi nggak masalah guling-guling kesakitan di rumah, ribut cari cara menghilangkan nyeri --yang mana yang paling ampuh adalah tidur.

Rasanya seperti De Javu, kurang lebih mirip tulisan ini. Lagi-lagi, masalah kaki.

Di hari Senin, akhirnya saya cek juga ke dokter. Karena masih nyut-nyutan, mau nggak mau pakai kursi roda. Saya sebetulnya benci banget ketemu benda ginian lagi. Mengingatkan pada masa struggle lahir batin waktu patah kaki 6 tahun yang lalu -_-

Ketika itu, yang patah bukan cuma kaki, tapi patah asa juga. Lebay banget deh pokoknya, soalnya saya jadi batal ikut volunteer acara Jember Fashion Carnaval, batal pentas Jazz Dance, juga batal ikutan Madah Bahana in Concert.

Bahkan, selamanya harus mengubur ambisi jadi pramugari Garuda karena salah satu persyaratannya ya kulit harus muluuusss.. tanpa cacat (bekas luka, bekas jahitan, keloid, dsb).

Tapi tadi, saat saya kelupaan daftar…

Happy or Ready?

"Di dunia ini ada dua tipe orang: yang mencari dan mencari tahu"
Dalam sebuah percakapan santai sambil ngopi-ngopi, seorang teman mencoba berteori. Kalau tipe yang pertama, orang yang mencari pasangan. Minta dijodohin. Penuh intensi saat bertemu orang baru.
Sementara tipe yang kedua, lihat-lihat dulu. Memperluas pergaulan sambil mencari tahu siapa yang paling cocok buat dirinya.

Menurutnya, saya yang sekian tahun anteng menjomblo ini masuk tipe yang kedua.

Kening saya berkerut-kerut mendengar penjelasannya. Rasanya kok ya masih kurang pas teorinya. Saya hanya belum ketemu aja. Lagipula, tak ada yang salah dengan sendiri dan mandiri, kan?

Maksud teman saya itu baik. Ia mau saya happy ketemu jodoh. Lebih tepatnya, dia penasaran, jodoh saya nantinya seperti apa? Haha.
Saya jadi ingat sesi Razi Thalib --CEO Setipe.com, sebuah start up online dating-- saat acara Idea Fest. Di sesi yang isinya cinta melulu itu, dia bilang gini:
"Find someone who can make you happier, not happy…

Reframe Worklife

"Bersetialah pada nilai, bukan figur" -diingatkan oleh seorang teman yang mengutip dari teman lainnya.
Buat saya, figur itu penting. Dari awal bekerja, yang saya cari tau dulu itu siapa bosnya. Saya baru sadar pola itu sekarang, setelah saya berganti pekerjaan 7 kali dalam 5 tahun.

Mungkin kesannya kutu loncat, tapi saya punya alasan kuat di tiap pergantian kerja. Kalau interview kerja dan saya ditanya kenapa resign, saya bisa bercerita dengan ringan hati tanpa harus ada yang ditutup-tutupi.

Dan yang terpenting, semua bos saya selalu mendukung apa pun keputusan karir saya. Dari sini, saya bisa bilang saya super beruntung. Walaupun selayaknya semua hal di dunia, nggak selamanya kerja itu enak. Kadang kesel, capek, bosen, dsb.

Tapi kalau dipikir-pikir, punya bos-bos yang suportif gini, gimana bisa nggak bersyukur? Saya ingat betul semua memori ketika saya mengajukan resign.

Pertama, saya resign karena lolos seleksi awal jadi Pengajar Muda. Saat itu, bos saya malah mengucapkan…

More Than Votes (part 2)

Tapi satu hal yang saya pelajari: kadang, kita hanya perlu mencoba memahami dari berbagai sudut pandang. Berempati.
Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang anaknya putus sekolah karena KJP hanya bisa meng-cover kebutuhan sekolah. Padahal, mereka juga butuh ongkos transportasi, butuh uang jajan, dsb.
Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang tinggal di pinggir pantai yang jadi korban reklamasi. Yang makin sulit cari ikan.
Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang kena gusur. Yang puluhan tahun tinggal tapi dalam sekejap rumahnya rata dengan tanah. Mereka terpaksa tinggal di rusun, jauh dari mata pencaharian, harus bayar sewa pula!
"Mbak, Jakarta itu bagus aja dipandang. Di hati ngga" -seorang warga penghuni rusun. Pilkada ini mengajarkan saya bukan hanya tentang bagaimana memperoleh suara, tapi juga tentang memandang ibukota dari sisi lain.
Kalau awalnya saya hanya berpikir sederhana bahwa saya ingin berangkat ke Jakarta dengan nyaman da…

More Than Votes (part 1)

Image
"Lo pilih nggak penting tapi lo suka atau penting walaupun lo nggak suka?"
Di sebuah kesempatan, saya pernah mengajukan pertanyaan ini pada kurang lebih 500 orang dan menyeleksi jawaban mereka. Nggak ada jawaban benar-salah. Saya hanya ingin tahu alasan pilihan mereka, tanpa menduga bahwa saya dihadapkan oleh pertanyaan saya sendiri.
Terjun membantu kampanye dalam Pilkada DKI, saya memilih melakukan hal yang penting walaupun saya nggak suka. Iya, saya ngaku saya nggak suka politik.
Saat itu, saya sebetulnya masih mengerjakan sebuah proyek Limitless Campus (LC), sebuah wadah yang kalau istilah Rene Suhardono "reimagine education". Kalau diminta menjelaskan apa itu LC, saya juga sebetulnya masih bingung, haha.
Tapi kira-kira gambarannya gini:
"Kalau lo dikasih kesempatan untuk melakukan hal yang penting dan lo suka, apa yang akan lo lakukan?" Buat saya, LC adalah jawabannya.
Makanya, mengiyakan terlibat kampanye itu sebetulnya resiko yang agak gila. Tapi y…