Posts

Showing posts from February, 2017

Happy or Ready?

"Di dunia ini ada dua tipe orang: yang mencari dan mencari tahu"
Dalam sebuah percakapan santai sambil ngopi-ngopi, seorang teman mencoba berteori. Kalau tipe yang pertama, orang yang mencari pasangan. Minta dijodohin. Penuh intensi saat bertemu orang baru.
Sementara tipe yang kedua, lihat-lihat dulu. Memperluas pergaulan sambil mencari tahu siapa yang paling cocok buat dirinya.

Menurutnya, saya yang sekian tahun anteng menjomblo ini masuk tipe yang kedua.

Kening saya berkerut-kerut mendengar penjelasannya. Rasanya kok ya masih kurang pas teorinya. Saya hanya belum ketemu aja. Lagipula, tak ada yang salah dengan sendiri dan mandiri, kan?

Maksud teman saya itu baik. Ia mau saya happy ketemu jodoh. Lebih tepatnya, dia penasaran, jodoh saya nantinya seperti apa? Haha.
Saya jadi ingat sesi Razi Thalib --CEO Setipe.com, sebuah start up online dating-- saat acara Idea Fest. Di sesi yang isinya cinta melulu itu, dia bilang gini:
"Find someone who can make you happier, not happy…

Reframe Worklife

"Bersetialah pada nilai, bukan figur" -diingatkan oleh seorang teman yang mengutip dari teman lainnya.
Buat saya, figur itu penting. Dari awal bekerja, yang saya cari tau dulu itu siapa bosnya. Saya baru sadar pola itu sekarang, setelah saya berganti pekerjaan 7 kali dalam 5 tahun.

Mungkin kesannya kutu loncat, tapi saya punya alasan kuat di tiap pergantian kerja. Kalau interview kerja dan saya ditanya kenapa resign, saya bisa bercerita dengan ringan hati tanpa harus ada yang ditutup-tutupi.

Dan yang terpenting, semua bos saya selalu mendukung apa pun keputusan karir saya. Dari sini, saya bisa bilang saya super beruntung. Walaupun selayaknya semua hal di dunia, nggak selamanya kerja itu enak. Kadang kesel, capek, bosen, dsb.

Tapi kalau dipikir-pikir, punya bos-bos yang suportif gini, gimana bisa nggak bersyukur? Saya ingat betul semua memori ketika saya mengajukan resign.

Pertama, saya resign karena lolos seleksi awal jadi Pengajar Muda. Saat itu, bos saya malah mengucapkan…

More Than Votes (part 2)

Tapi satu hal yang saya pelajari: kadang, kita hanya perlu mencoba memahami dari berbagai sudut pandang. Berempati.
Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang anaknya putus sekolah karena KJP hanya bisa meng-cover kebutuhan sekolah. Padahal, mereka juga butuh ongkos transportasi, butuh uang jajan, dsb.
Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang tinggal di pinggir pantai yang jadi korban reklamasi. Yang makin sulit cari ikan.
Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang kena gusur. Yang puluhan tahun tinggal tapi dalam sekejap rumahnya rata dengan tanah. Mereka terpaksa tinggal di rusun, jauh dari mata pencaharian, harus bayar sewa pula!
"Mbak, Jakarta itu bagus aja dipandang. Di hati ngga" -seorang warga penghuni rusun. Pilkada ini mengajarkan saya bukan hanya tentang bagaimana memperoleh suara, tapi juga tentang memandang ibukota dari sisi lain.
Kalau awalnya saya hanya berpikir sederhana bahwa saya ingin berangkat ke Jakarta dengan nyaman da…

More Than Votes (part 1)

Image
"Lo pilih nggak penting tapi lo suka atau penting walaupun lo nggak suka?"
Di sebuah kesempatan, saya pernah mengajukan pertanyaan ini pada kurang lebih 500 orang dan menyeleksi jawaban mereka. Nggak ada jawaban benar-salah. Saya hanya ingin tahu alasan pilihan mereka, tanpa menduga bahwa saya dihadapkan oleh pertanyaan saya sendiri.
Terjun membantu kampanye dalam Pilkada DKI, saya memilih melakukan hal yang penting walaupun saya nggak suka. Iya, saya ngaku saya nggak suka politik.
Saat itu, saya sebetulnya masih mengerjakan sebuah proyek Limitless Campus (LC), sebuah wadah yang kalau istilah Rene Suhardono "reimagine education". Kalau diminta menjelaskan apa itu LC, saya juga sebetulnya masih bingung, haha.
Tapi kira-kira gambarannya gini:
"Kalau lo dikasih kesempatan untuk melakukan hal yang penting dan lo suka, apa yang akan lo lakukan?" Buat saya, LC adalah jawabannya.
Makanya, mengiyakan terlibat kampanye itu sebetulnya resiko yang agak gila. Tapi y…