Tuesday, February 14, 2017

Happy or Ready?

0 comments
"Di dunia ini ada dua tipe orang: yang mencari dan mencari tahu"

Dalam sebuah percakapan santai sambil ngopi-ngopi, seorang teman mencoba berteori. Kalau tipe yang pertama, orang yang mencari pasangan. Minta dijodohin. Penuh intensi saat bertemu orang baru.

Sementara tipe yang kedua, lihat-lihat dulu. Memperluas pergaulan sambil mencari tahu siapa yang paling cocok buat dirinya.

Menurutnya, saya yang sekian tahun anteng menjomblo ini masuk tipe yang kedua.

Kening saya berkerut-kerut mendengar penjelasannya. Rasanya kok ya masih kurang pas teorinya. Saya hanya belum ketemu aja. Lagipula, tak ada yang salah dengan sendiri dan mandiri, kan?

Maksud teman saya itu baik. Ia mau saya happy ketemu jodoh. Lebih tepatnya, dia penasaran, jodoh saya nantinya seperti apa? Haha.

Saya jadi ingat sesi Razi Thalib --CEO Setipe.com, sebuah start up online dating-- saat acara Idea Fest. Di sesi yang isinya cinta melulu itu, dia bilang gini:
"Find someone who can make you happier, not happy. Karena kalau cari pasangan tujuannya supaya bahagia, kalau pisah, kebahagiaan lo dibawa sama dia."

Ini juga bikin berkerut-kerut. Lama-lama saya keriput lah kalau keseringan denger teori cinta berbagai versi. If I'm already happy, should I risk it? How if that person actually make me less happy rather that happier?

Di hari Valentine ini, saya yang belakangan super skeptis dan lebih suka bahas Pilkada #eh, jadi pengen mendefinisikan ulang. Tanya lagi ke diri sendiri, jujur-jujuran maunya apa.

Maybe it's not that I'm not happy. Or I'm seeking for the right person who can make me happier. Maybe well... I'm just not ready yet to take the risk, that relationship might work but it also might fail.

Maybe, I'm just not ready for commitment yet.

Reframe Worklife

0 comments
"Bersetialah pada nilai, bukan figur" -diingatkan oleh seorang teman yang mengutip dari teman lainnya.

Buat saya, figur itu penting. Dari awal bekerja, yang saya cari tau dulu itu siapa bosnya. Saya baru sadar pola itu sekarang, setelah saya berganti pekerjaan 7 kali dalam 5 tahun.

Mungkin kesannya kutu loncat, tapi saya punya alasan kuat di tiap pergantian kerja. Kalau interview kerja dan saya ditanya kenapa resign, saya bisa bercerita dengan ringan hati tanpa harus ada yang ditutup-tutupi.

Dan yang terpenting, semua bos saya selalu mendukung apa pun keputusan karir saya. Dari sini, saya bisa bilang saya super beruntung. Walaupun selayaknya semua hal di dunia, nggak selamanya kerja itu enak. Kadang kesel, capek, bosen, dsb.

Tapi kalau dipikir-pikir, punya bos-bos yang suportif gini, gimana bisa nggak bersyukur? Saya ingat betul semua memori ketika saya mengajukan resign.

Pertama, saya resign karena lolos seleksi awal jadi Pengajar Muda. Saat itu, bos saya malah mengucapkan selamat dengan super antusias. Walaupun setelah itu gagal sih di seleksi kedua. Haha. Dan udah kadung resign. Nasib :))

Kedua, lagi-lagi, saya resign karena keterima jadi Pengajar Muda setelah mencoba daftar lagi untuk kedua kalinya. Waktu itu bos saya dua. Dan dua-duanya merespon secara menakjubkan. Yang satu cuma tersenyum teduh dan mengangguk sambil bilang "I know". Yang satunya lagi malah terharu dan semangat banget dukung saya jadi Pengajar Muda.

Lalu pekerjaan ketiga, jadi Pengajar Muda. Kalau ini, emang jatahnya setahun aja.

Keempat, di kantor Indonesia Mengajar. Baru sebentar, karena saya dapat tawaran untuk kerja di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saya sebetulnya super nggak enak bilangnya, bahkan menawarkan akan segera membantu mencari pengganti dan menyiapkan semua materi transisi.

Tapi bos saya geleng-geleng dan menenangkan "nggak usah terbebani dengan cari pengganti. Kamu fokus aja buat kerjaan di Kemdikbud. Semoga sukses ya" Speechless.

Kelima, karena re-shuffle. Apa boleh buat. Haha.

Keenam dan ketujuh, mengurus kampanye Pilkada DKI dan Limitless Campus sekaligus. Bos saya yang notabene juga teman dekat Anies Baswedan sangat maklum. Sempet dikerjain, tapi ujung-ujungnya dia bilang "see you on February!"

Sampai sini, walaupun jenjang karir saya agak absurd untuk ditulis di CV, saya jadi ngeh kalau saya mengorbit pada figur. Saya mengorbit pada orang-orang yang bekerja sepenuh hati, dari hati.

Ternyata, pun ketika bersetia pada figur, saya sesungguhnya sekaligus bersetia pada nilai yang dianut figur tersebut.

Mungkin suatu saat, saya akan punya orbit sendiri, dengan warisan nilai yang dibawa dari para figur pemimpin yang saya pernah ikuti. Semoga. Aamiin.

More Than Votes (part 2)

0 comments
Tapi satu hal yang saya pelajari: kadang, kita hanya perlu mencoba memahami dari berbagai sudut pandang. Berempati.

Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang anaknya putus sekolah karena KJP hanya bisa meng-cover kebutuhan sekolah. Padahal, mereka juga butuh ongkos transportasi, butuh uang jajan, dsb.

Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang tinggal di pinggir pantai yang jadi korban reklamasi. Yang makin sulit cari ikan.

Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang kena gusur. Yang puluhan tahun tinggal tapi dalam sekejap rumahnya rata dengan tanah. Mereka terpaksa tinggal di rusun, jauh dari mata pencaharian, harus bayar sewa pula!

"Mbak, Jakarta itu bagus aja dipandang. Di hati ngga" -seorang warga penghuni rusun.
Pilkada ini mengajarkan saya bukan hanya tentang bagaimana memperoleh suara, tapi juga tentang memandang ibukota dari sisi lain.

Kalau awalnya saya hanya berpikir sederhana bahwa saya ingin berangkat ke Jakarta dengan nyaman dan pulang dengan aman, pada perjalanannya, saya sadar ini bukan tentang saya.

Mendukung Anies-Sandi menang berarti mendukung pemimpin yang dititipkan amanahnya untuk membereskan 'patah hati' mereka yang digusur, sulitnya mendapat pekerjaan, dan kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan, dan segala bentuk ketidakadilan lainnya
.
Menyadari ini, sekedar 'patah hati' karena bersebrangan pendapat dengan teman atau dinyinyirin rasanya jadi tak penting lagi.

For me, this election is very special. It's more than votes.

Yes I might know nothing about this city and society, but I know one thing: I'm supporting candidates who can speak on behalf of them.

Good luck, Sir!

More Than Votes (part 1)

0 comments

"Lo pilih nggak penting tapi lo suka atau penting walaupun lo nggak suka?"

Di sebuah kesempatan, saya pernah mengajukan pertanyaan ini pada kurang lebih 500 orang dan menyeleksi jawaban mereka. Nggak ada jawaban benar-salah. Saya hanya ingin tahu alasan pilihan mereka, tanpa menduga bahwa saya dihadapkan oleh pertanyaan saya sendiri.

Terjun membantu kampanye dalam Pilkada DKI, saya memilih melakukan hal yang penting walaupun saya nggak suka. Iya, saya ngaku saya nggak suka politik.

Saat itu, saya sebetulnya masih mengerjakan sebuah proyek Limitless Campus (LC), sebuah wadah yang kalau istilah Rene Suhardono "reimagine education". Kalau diminta menjelaskan apa itu LC, saya juga sebetulnya masih bingung, haha.

Tapi kira-kira gambarannya gini:

"Kalau lo dikasih kesempatan untuk melakukan hal yang penting dan lo suka, apa yang akan lo lakukan?" Buat saya, LC adalah jawabannya.

Makanya, mengiyakan terlibat kampanye itu sebetulnya resiko yang agak gila. Tapi ya mungkin saya memang perlu cek kewarasan :))

Saya hanya berpikir sederhana. Sebagai komuter, saya mau berangkat ke Jakarta dengan nyaman dan pulang dengan aman. Dan sebagai warga luar DKI, suara saya mungkin bisa diwakilkan oleh mereka yang punya hak pilih, tapi kontribusi saya nggak.

Well, win or lose, I can say proudly:
"At least I've done something"

Perjalanan Pilkada Jakarta ini ibarat naik roller coater tanpa safety belt. Adrenalin plus plus. Harus selalu siap menghadapi hal-hal tak terduga.

Termasuk patah hati.

Mungkin buat orang-orang yang 'T banget' (T = thinking, salah satu dimensi kepribadian menurut tes MBTI), saya bisa dibilang super lebay.

Saya patah hati saat tau bahwa ternyata orang bisa balik kanan begitu saja.

Saya patah hati saat tau bahwa berseberangan pilihan tak bisa selesai lewat diskusi.

Saya patah hati saat orang yang saya pikir berpikiran terbuka, ternyata memilih untuk nggak mau tau. Intinya, saya patah hati karena merasa tidak dipercaya.

Honestly, distrust issue really breaks my heart. Lebay kan? Emang -_-

(bersambung)