Happy or Ready?

"Di dunia ini ada dua tipe orang: yang mencari dan mencari tahu"

Dalam sebuah percakapan santai sambil ngopi-ngopi, seorang teman mencoba berteori. Kalau tipe yang pertama, orang yang mencari pasangan. Minta dijodohin. Penuh intensi saat bertemu orang baru.

Sementara tipe yang kedua, lihat-lihat dulu. Memperluas pergaulan sambil mencari tahu siapa yang paling cocok buat dirinya.

Menurutnya, saya yang sekian tahun anteng menjomblo ini masuk tipe yang kedua.

Kening saya berkerut-kerut mendengar penjelasannya. Rasanya kok ya masih kurang pas teorinya. Saya hanya belum ketemu aja. Lagipula, tak ada yang salah dengan sendiri dan mandiri, kan?

Maksud teman saya itu baik. Ia mau saya happy ketemu jodoh. Lebih tepatnya, dia penasaran, jodoh saya nantinya seperti apa? Haha.

Saya jadi ingat sesi Razi Thalib --CEO Setipe.com, sebuah start up online dating-- saat acara Idea Fest. Di sesi yang isinya cinta melulu itu, dia bilang gini:
"Find someone who can make you happier, not happy. Karena kalau cari pasangan tujuannya supaya bahagia, kalau pisah, kebahagiaan lo dibawa sama dia."

Ini juga bikin berkerut-kerut. Lama-lama saya keriput lah kalau keseringan denger teori cinta berbagai versi. If I'm already happy, should I risk it? How if that person actually make me less happy rather that happier?

Di hari Valentine ini, saya yang belakangan super skeptis dan lebih suka bahas Pilkada #eh, jadi pengen mendefinisikan ulang. Tanya lagi ke diri sendiri, jujur-jujuran maunya apa.

Maybe it's not that I'm not happy. Or I'm seeking for the right person who can make me happier. Maybe well... I'm just not ready yet to take the risk, that relationship might work but it also might fail.

Maybe, I'm just not ready for commitment yet.

No comments:

Powered by Blogger.