More Than Votes (part 2)

Tapi satu hal yang saya pelajari: kadang, kita hanya perlu mencoba memahami dari berbagai sudut pandang. Berempati.

Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang anaknya putus sekolah karena KJP hanya bisa meng-cover kebutuhan sekolah. Padahal, mereka juga butuh ongkos transportasi, butuh uang jajan, dsb.

Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang tinggal di pinggir pantai yang jadi korban reklamasi. Yang makin sulit cari ikan.

Patah hati saya tak ada apa-apanya dengan mereka yang kena gusur. Yang puluhan tahun tinggal tapi dalam sekejap rumahnya rata dengan tanah. Mereka terpaksa tinggal di rusun, jauh dari mata pencaharian, harus bayar sewa pula!

"Mbak, Jakarta itu bagus aja dipandang. Di hati ngga" -seorang warga penghuni rusun.
Pilkada ini mengajarkan saya bukan hanya tentang bagaimana memperoleh suara, tapi juga tentang memandang ibukota dari sisi lain.

Kalau awalnya saya hanya berpikir sederhana bahwa saya ingin berangkat ke Jakarta dengan nyaman dan pulang dengan aman, pada perjalanannya, saya sadar ini bukan tentang saya.

Mendukung Anies-Sandi menang berarti mendukung pemimpin yang dititipkan amanahnya untuk membereskan 'patah hati' mereka yang digusur, sulitnya mendapat pekerjaan, dan kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan, dan segala bentuk ketidakadilan lainnya.
Menyadari ini, sekedar 'patah hati' karena bersebrangan pendapat dengan teman atau dinyinyirin rasanya jadi tak penting lagi.

For me, this election is very special. It's more than votes.

Yes I might know nothing about this city and society, but I know one thing: I'm supporting candidates who can speak on behalf of them.

Good luck, Sir!

No comments:

Powered by Blogger.