Reframe Worklife

"Bersetialah pada nilai, bukan figur" -diingatkan oleh seorang teman yang mengutip dari teman lainnya.

Buat saya, figur itu penting. Dari awal bekerja, yang saya cari tau dulu itu siapa bosnya. Saya baru sadar pola itu sekarang, setelah saya berganti pekerjaan 7 kali dalam 5 tahun.

Mungkin kesannya kutu loncat, tapi saya punya alasan kuat di tiap pergantian kerja. Kalau interview kerja dan saya ditanya kenapa resign, saya bisa bercerita dengan ringan hati tanpa harus ada yang ditutup-tutupi.

Dan yang terpenting, semua bos saya selalu mendukung apa pun keputusan karir saya. Dari sini, saya bisa bilang saya super beruntung. Walaupun selayaknya semua hal di dunia, nggak selamanya kerja itu enak. Kadang kesel, capek, bosen, dsb.

Tapi kalau dipikir-pikir, punya bos-bos yang suportif gini, gimana bisa nggak bersyukur? Saya ingat betul semua memori ketika saya mengajukan resign.

Pertama, saya resign karena lolos seleksi awal jadi Pengajar Muda. Saat itu, bos saya malah mengucapkan selamat dengan super antusias. Walaupun setelah itu gagal sih di seleksi kedua. Haha. Dan udah kadung resign. Nasib :))

Kedua, lagi-lagi, saya resign karena keterima jadi Pengajar Muda setelah mencoba daftar lagi untuk kedua kalinya. Waktu itu bos saya dua. Dan dua-duanya merespon secara menakjubkan. Yang satu cuma tersenyum teduh dan mengangguk sambil bilang "I know". Yang satunya lagi malah terharu dan semangat banget dukung saya jadi Pengajar Muda.

Lalu pekerjaan ketiga, jadi Pengajar Muda. Kalau ini, emang jatahnya setahun aja.

Keempat, di kantor Indonesia Mengajar. Baru sebentar, karena saya dapat tawaran untuk kerja di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saya sebetulnya super nggak enak bilangnya, bahkan menawarkan akan segera membantu mencari pengganti dan menyiapkan semua materi transisi.

Tapi bos saya geleng-geleng dan menenangkan "nggak usah terbebani dengan cari pengganti. Kamu fokus aja buat kerjaan di Kemdikbud. Semoga sukses ya" Speechless.

Kelima, karena re-shuffle. Apa boleh buat. Haha.

Keenam dan ketujuh, mengurus kampanye Pilkada DKI dan Limitless Campus sekaligus. Bos saya yang notabene juga teman dekat Anies Baswedan sangat maklum. Sempet dikerjain, tapi ujung-ujungnya dia bilang "see you on February!"

Sampai sini, walaupun jenjang karir saya agak absurd untuk ditulis di CV, saya jadi ngeh kalau saya mengorbit pada figur. Saya mengorbit pada orang-orang yang bekerja sepenuh hati, dari hati.

Ternyata, pun ketika bersetia pada figur, saya sesungguhnya sekaligus bersetia pada nilai yang dianut figur tersebut.

Mungkin suatu saat, saya akan punya orbit sendiri, dengan warisan nilai yang dibawa dari para figur pemimpin yang saya pernah ikuti. Semoga. Aamiin.

No comments:

Powered by Blogger.