Saturday, April 22, 2017

Empathy Drill

0 comments
Empathy drill. Salah satu materi yang kudu banget ada di Limitless Campus (LC). Saya pernah bahas soal LC nggak ya? Sampai lupa euy! Intinya sih, LC ini wadah belajar. Apa aja yang dipelajari? Ada tiga fundamental:
  1. Paham diri.
  2. Kenal sekitar.
  3. Ambil peran.

Iya absurd banget emang. Saya pun sampai sekarang masih meramu bentuknya. Awalnya tuh ide Rene Suhardono. Katanya, dari 3 tahun yang lalu. Kemudian saya dan teman saya --Lintang-- ditawari urus ini, tanpa tahu makhluk apaan. Ya udah, kita coba aja dulu. Nggak akan tahu kalau belum dicoba kan?

Singkat cerita, rangkaian Limitless Campus Batch 1 ini selesai. Yaaa.. not bad lah sebagai 'proyek babat alas’. Sekarang masuk tahap yang lebih serius di Batch 2. Lumayan juga bekal di Batch 1, plusss.. berbagai pembelajaran berharga yang saya dapat saat urus kampanye Pilkada DKI.

Nah, salah satunya ya tentang empathy drill. Saya menyimpan kegelisahan ini sejak lama, terutama tentang 'understanding the odds’. Betapa susahnya menerapkan 'memahami sebelum menghakimi’.

Mungkin ini topik sensitif, misal LGBT. Waktu di Batch 1, ada seorang Student yang protes setelah menonton video ini:



Ia berkesimpulan LC ini pro-LGBT. Wakwaaaw!

Padahal, video itu hanya referensi yang pesannya adalah “love has no labels”. Buat kami, pesan itu kuat banget, tapi ditangkap berbeda sama dia. Well, yaudalah. Barangkali kita juga perlu mencoba paham dari sisi dia, walaupun ujungnya dia mundur dari LC. Ini saya nggak tau persis alasannya sih.

Masih soal label, kali ini tentang identitas. Agama. Konteksnya Pilkada DKI. Teman-teman saya di LC kebanyakan pendukung Ahok, dan kami baik-baik saja. Tak ada sentimen berlebih terhadap hak pilih masing-masing. Praktek manis 'understanding the odds'.

Hal lainnya, saya pernah ikut training Impact Factory, sesinya Didi Mudita yang menyebut dirinya monster creator. Orang ajaib tapi keren! Dia bikin sesi empathy drill.

Peserta diminta duduk berpasangan. Yang satu memikirkan hal sedih sambil merem, yang satunya diam mengamati. Beberapa menit, lalu gantian. Yang tadi merem jadi pengamat, yang tadinya mengamati jadi merem.

Setelah itu berganti pasangan. Masih dengan aktivitas yang sama, cuma kali ini yang dibayangkan adalah momen membahagiakan.

Menarik mengamati respon berbagai pasangan. Ada yang ikut menangis, ada juga yang tertawa terbahak-bahak. Padahal mungkin nggak tau apa yang dibayangkan dan dirasakan pasangannya.

Saya sendiri merasa gagal karena pasangan saya nggak ada perubahan ekspresi. Padahal, saya sudah berusaha keras berempati. Mungkin susah peka aja -_- Malahan, pasangan saya yang heran. Saat melek, dia tanya “kok nangis? Kan bahagia?”

Iya, saya nggak bisa nangis saat inget pengalaman sedih. Malah nangis ketika inget momen membahagiakan. Soalnya saya jadi merasa bersyukur. Saat masa down, saya nggak pernah sendirian. Selalu ada pertolongan. Selalu ada dukungan. Makanya malah sesenggukan ketika inget yang bikin bahagia.

Tears of bliss. Tears of joy.

Terus jadi salah fokus. Yang disuruh itu latihan berempati, bukan refleksi diri, Del. Zzz. Anyway, saya pengen banget menghadirkan empathy drill apa pun bentuknya di berbagai sesi Limitless Campus setelah ini. Batch 2, 3, 4, dst.

Demi mewujudkan misi hidup “connecting the dots, understanding the odds”. Mempersatukan manusia lewat interaksi, lewat empati.

Friday, April 21, 2017

Buat Kamu

2 comments
Saya menulis ini karena saya mau kamu tahu.

Saya mau kamu tahu bahwa saya tak percaya kesetaraan gender. Yang saya percaya adalah kesetaraan hak dan kesempatan. Utamanya, pendidikan. Juga --ehem-- kesetaraan urusan domestik. HAHAHA. Tolong. Saya payah sekali perkara ini.

Saya mau kamu tahu bahwa saya tak percaya pria dan wanita diciptakan untuk bersaing. Saya sih amat sangat nggak keberatan mengalah. Menikah, pindah, berkarir di rumah, dsb. Terserah. Mungkin saya hanya menuntut kerjasama. Mengurus rumah, mengurus anak, mengurus satu sama lain.

Saya mau kamu tahu bahwa saya tak percaya cinta milik satu orang saja. Cinta itu buat semua. Bukan kamu seorang, jangan geer. Tapi semoga sampai tua dan mati, prinsip ini tetap sama: komitmen untuk setia. Semoga, kamu juga sama.

Terakhir, saya mau kamu tahu bahwa saya terlalu malu memberi tahu. Bahwa sekarang, saya sedang mencari siap. Kalaupun saya sudah ketemu kamu, kamu kan belum tentu mau. Dan saya belum siap untuk itu.

Iya, ini buat kamu.

Monday, April 17, 2017

Gubernur untuk Siapa?

0 comments
"Saya mau tanya. Kalau KJP Plus itu bisa buat anak-anak yang 'kurang' (maksudnya Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK) juga ndak?"
Dalam sebuah kesempatan sosialisasi program di kampung, seorang ibu mengajukan pertanyaan pada kami selaku pembicara. Saya bertanya balik.

"Di sini, anak-anak 'spesial' (alih-alih 'kurang', saya lebih nyaman menggunakan istilah 'spesial') pada sekolah nggak bu?"
Ibu itu menggeleng. Ibu sebelahnya menyahut "nggak ada sekolah yang mau nampung anak kayak gitu. Diolok-olok malah. Tetangga saya anaknya di rumah aja."

Hati saya mencelos. Buat mereka, ya itulah nasib. Terima saja.

***

Beberapa hari setelahnya, saya membaca tulisan Om Piring, idola saya. Biasanya, saya sependapat dengan pemikiran yang dia tuangkan di blognya itu. Tapi kali ini, dada saya berdebar kencang.

Campur aduk antara marah, sedih, dan kecewa mendapati bagaimana seorang yang bisa mewakili suara kelas menengah nggak melihat gubernur sebagai pemimpin, melainkan pelayan. Mental majikan.

Kalau istilahnya Om Piring di tulisan itu: "gubernur bukan pemimpin gw, tapi gubernur bisa menentukan apakah urusan gw dengan kota ini lebih nyaman atau tidak".

Pertanyaannya, buat mereka yang digusur, apakah gubernur sudah memastikan mereka hidup nyaman? Iya, dipindah ke rusun, sewa seumur hidup. Ngontrak di tanah kelahiran. Tanya kembali pada mereka, apakah hidup mereka nyaman?

Lalu untuk ABK dari keluarga pra-sejahtera. Apakah gubernur sudah memastikan anak mereka tetap mendapatkan pendidikan yang sama adilnya dengan ABK dari keluarga yang bisa bayar mahal untuk sekolah dan mendapat pendampingan khusus?

Apakah gubernur sudah memastikan subsidi untuk memenuhi hak pendidikan bagi semua anak usia sekolah? Hak mendapat kesempatan bekerja dan berdaya? Hak memiliki hunian?

***

Mundur ke beberapa bulan lalu, ketika saya ngebet banget bikin festival yang targetnya swing voters menengah-atas. Tapi festival ini akhirnya diganti acara lain yang lebih sederhana.

Sebetulnya, idenya adalah menyentil status quo.

Mahasiswa tingkat akhir akan tetap pusing karena dosen pembimbing susah dihubungi. Untuk para karyawan, bos ngehek tetap akan jadi bos ngehek. Para eksekutif muda akan tetap macet-macetan PP rumah-kantor.

Tak akan ada banyak perubahan dalam hidup mereka, siapa pun gubernurnya.

Tapi untuk menengah-bawah, yang tadinya nggak bisa sekolah jadi bisa sekolah. Yang tadinya pengangguran, jadi bisa kerja, bahkan menciptakan lapangan kerja baru. Yang tadinya nggak punya rumah, jadi punya rumah.

Buat mereka, siapa gubernurnya akan menentukan seperti apa nasib mereka.

Intinya, hak suara lo mungkin nggak signifikan pengaruhnya sama hidup lo. Bumi tetap berputar. Skripsi tetap belum kelar. Deadline kerjaan tetap bikin modyaaar.

Tapi hak suara lo sangat berpengaruh untuk mereka yang menitipkan harapan perubahan taraf hidup pada pemimpinnya.

Setidaknya, untuk Jakarta 5 tahun mendatang.

Wednesday, April 5, 2017

Inner Peace

2 comments
Beberapa hari yang lalu, kaki kanan saya bengkak tanpa sebab dan nyeri seharian. Untung hari Minggu, jadi nggak masalah guling-guling kesakitan di rumah, ribut cari cara menghilangkan nyeri --yang mana yang paling ampuh adalah tidur.

Rasanya seperti De Javu, kurang lebih mirip tulisan ini. Lagi-lagi, masalah kaki.

Di hari Senin, akhirnya saya cek juga ke dokter. Karena masih nyut-nyutan, mau nggak mau pakai kursi roda. Saya sebetulnya benci banget ketemu benda ginian lagi. Mengingatkan pada masa struggle lahir batin waktu patah kaki 6 tahun yang lalu -_-

Ketika itu, yang patah bukan cuma kaki, tapi patah asa juga. Lebay banget deh pokoknya, soalnya saya jadi batal ikut volunteer acara Jember Fashion Carnaval, batal pentas Jazz Dance, juga batal ikutan Madah Bahana in Concert.

Bahkan, selamanya harus mengubur ambisi jadi pramugari Garuda karena salah satu persyaratannya ya kulit harus muluuusss.. tanpa cacat (bekas luka, bekas jahitan, keloid, dsb).

Tapi tadi, saat saya kelupaan daftar 2 kegiatan penting yang deadline nya hari ini, saya malah takjub sama respon sendiri.

Jujur, saya sebetulnya super cemas ini kenapa. Patah bukan, keseleo bukan, kepentok bukan, pokoknya nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba bengkak dan nyeri. Makanya bisa sampai skip banget daftar sesuatu. Hiks.

Cuma alih-alih menyesal, saya kaget bisa sedemikian bersyukur. Barangkali, nggak mendapatkan apa yang saya inginkan adalah berkah tersendiri. Kenapa? Karena terhindar dari sifat serakah, mau mengerjakan ini-itu, banyak hal dalam satu waktu. Kalau saya jadi daftar, mungkin akan makin bercabang fokusnya.

Di situ kadang saya merasa... I finally find my inner peace :)