Posts

Showing posts from April, 2017

Empathy Drill

Image
Empathy drill. Salah satu materi yang kudu banget ada di Limitless Campus (LC). Saya pernah bahas soal LC nggak ya? Sampai lupa euy! Intinya sih, LC ini wadah belajar. Apa aja yang dipelajari? Ada tiga fundamental: Paham diri.Kenal sekitar.Ambil peran.
Iya absurd banget emang. Saya pun sampai sekarang masih meramu bentuknya. Awalnya tuh ide Rene Suhardono. Katanya, dari 3 tahun yang lalu. Kemudian saya dan teman saya --Lintang-- ditawari urus ini, tanpa tahu makhluk apaan. Ya udah, kita coba aja dulu. Nggak akan tahu kalau belum dicoba kan?
Singkat cerita, rangkaian Limitless Campus Batch 1 ini selesai. Yaaa.. not bad lah sebagai 'proyek babat alas’. Sekarang masuk tahap yang lebih serius di Batch 2. Lumayan juga bekal di Batch 1, plusss.. berbagai pembelajaran berharga yang saya dapat saat urus kampanye Pilkada DKI.
Nah, salah satunya ya tentang empathy drill. Saya menyimpan kegelisahan ini sejak lama, terutama tentang 'understanding the odds’. Betapa susahnya menerapkan '…

Buat Kamu

Saya menulis ini karena saya mau kamu tahu.

Saya mau kamu tahu bahwa saya tak percaya kesetaraan gender. Yang saya percaya adalah kesetaraan hak dan kesempatan. Utamanya, pendidikan. Juga --ehem-- kesetaraan urusan domestik. HAHAHA. Tolong. Saya payah sekali perkara ini.

Saya mau kamu tahu bahwa saya tak percaya pria dan wanita diciptakan untuk bersaing. Saya sih amat sangat nggak keberatan mengalah. Menikah, pindah, berkarir di rumah, dsb. Terserah. Mungkin saya hanya menuntut kerjasama. Mengurus rumah, mengurus anak, mengurus satu sama lain.

Saya mau kamu tahu bahwa saya tak percaya cinta milik satu orang saja. Cinta itu buat semua. Bukan kamu seorang, jangan geer. Tapi semoga sampai tua dan mati, prinsip ini tetap sama: komitmen untuk setia. Semoga, kamu juga sama.

Terakhir, saya mau kamu tahu bahwa saya terlalu malu memberi tahu. Bahwa sekarang, saya sedang mencari siap. Kalaupun saya sudah ketemu kamu, kamu kan belum tentu mau. Dan saya belum siap untuk itu.

Iya, ini buat kamu.

Gubernur untuk Siapa?

"Saya mau tanya. Kalau KJP Plus itu bisa buat anak-anak yang 'kurang' (maksudnya Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK) juga ndak?" Dalam sebuah kesempatan sosialisasi program di kampung, seorang ibu mengajukan pertanyaan pada kami selaku pembicara. Saya bertanya balik.

"Di sini, anak-anak 'spesial' (alih-alih 'kurang', saya lebih nyaman menggunakan istilah 'spesial') pada sekolah nggak bu?" Ibu itu menggeleng. Ibu sebelahnya menyahut "nggak ada sekolah yang mau nampung anak kayak gitu. Diolok-olok malah. Tetangga saya anaknya di rumah aja."

Hati saya mencelos. Buat mereka, ya itulah nasib. Terima saja.

***

Beberapa hari setelahnya, saya membaca tulisan Om Piring, idola saya. Biasanya, saya sependapat dengan pemikiran yang dia tuangkan di blognya itu. Tapi kali ini, dada saya berdebar kencang.

Campur aduk antara marah, sedih, dan kecewa mendapati bagaimana seorang yang bisa mewakili suara kelas menengah nggak melihat gubernur …

Inner Peace

Beberapa hari yang lalu, kaki kanan saya bengkak tanpa sebab dan nyeri seharian. Untung hari Minggu, jadi nggak masalah guling-guling kesakitan di rumah, ribut cari cara menghilangkan nyeri --yang mana yang paling ampuh adalah tidur.

Rasanya seperti De Javu, kurang lebih mirip tulisan ini. Lagi-lagi, masalah kaki.

Di hari Senin, akhirnya saya cek juga ke dokter. Karena masih nyut-nyutan, mau nggak mau pakai kursi roda. Saya sebetulnya benci banget ketemu benda ginian lagi. Mengingatkan pada masa struggle lahir batin waktu patah kaki 6 tahun yang lalu -_-

Ketika itu, yang patah bukan cuma kaki, tapi patah asa juga. Lebay banget deh pokoknya, soalnya saya jadi batal ikut volunteer acara Jember Fashion Carnaval, batal pentas Jazz Dance, juga batal ikutan Madah Bahana in Concert.

Bahkan, selamanya harus mengubur ambisi jadi pramugari Garuda karena salah satu persyaratannya ya kulit harus muluuusss.. tanpa cacat (bekas luka, bekas jahitan, keloid, dsb).

Tapi tadi, saat saya kelupaan daftar…