Empathy Drill

Empathy drill. Salah satu materi yang kudu banget ada di Limitless Campus (LC). Saya pernah bahas soal LC nggak ya? Sampai lupa euy! Intinya sih, LC ini wadah belajar. Apa aja yang dipelajari? Ada tiga fundamental:
  1. Paham diri.
  2. Kenal sekitar.
  3. Ambil peran.

Iya absurd banget emang. Saya pun sampai sekarang masih meramu bentuknya. Awalnya tuh ide Rene Suhardono. Katanya, dari 3 tahun yang lalu. Kemudian saya dan teman saya --Lintang-- ditawari urus ini, tanpa tahu makhluk apaan. Ya udah, kita coba aja dulu. Nggak akan tahu kalau belum dicoba kan?

Singkat cerita, rangkaian Limitless Campus Batch 1 ini selesai. Yaaa.. not bad lah sebagai 'proyek babat alas’. Sekarang masuk tahap yang lebih serius di Batch 2. Lumayan juga bekal di Batch 1, plusss.. berbagai pembelajaran berharga yang saya dapat saat urus kampanye Pilkada DKI.

Nah, salah satunya ya tentang empathy drill. Saya menyimpan kegelisahan ini sejak lama, terutama tentang 'understanding the odds’. Betapa susahnya menerapkan 'memahami sebelum menghakimi’.

Mungkin ini topik sensitif, misal LGBT. Waktu di Batch 1, ada seorang Student yang protes setelah menonton video ini:



Ia berkesimpulan LC ini pro-LGBT. Wakwaaaw!

Padahal, video itu hanya referensi yang pesannya adalah “love has no labels”. Buat kami, pesan itu kuat banget, tapi ditangkap berbeda sama dia. Well, yaudalah. Barangkali kita juga perlu mencoba paham dari sisi dia, walaupun ujungnya dia mundur dari LC. Ini saya nggak tau persis alasannya sih.

Masih soal label, kali ini tentang identitas. Agama. Konteksnya Pilkada DKI. Teman-teman saya di LC kebanyakan pendukung Ahok, dan kami baik-baik saja. Tak ada sentimen berlebih terhadap hak pilih masing-masing. Praktek manis 'understanding the odds'.

Hal lainnya, saya pernah ikut training Impact Factory, sesinya Didi Mudita yang menyebut dirinya monster creator. Orang ajaib tapi keren! Dia bikin sesi empathy drill.

Peserta diminta duduk berpasangan. Yang satu memikirkan hal sedih sambil merem, yang satunya diam mengamati. Beberapa menit, lalu gantian. Yang tadi merem jadi pengamat, yang tadinya mengamati jadi merem.

Setelah itu berganti pasangan. Masih dengan aktivitas yang sama, cuma kali ini yang dibayangkan adalah momen membahagiakan.

Menarik mengamati respon berbagai pasangan. Ada yang ikut menangis, ada juga yang tertawa terbahak-bahak. Padahal mungkin nggak tau apa yang dibayangkan dan dirasakan pasangannya.

Saya sendiri merasa gagal karena pasangan saya nggak ada perubahan ekspresi. Padahal, saya sudah berusaha keras berempati. Mungkin susah peka aja -_- Malahan, pasangan saya yang heran. Saat melek, dia tanya “kok nangis? Kan bahagia?”

Iya, saya nggak bisa nangis saat inget pengalaman sedih. Malah nangis ketika inget momen membahagiakan. Soalnya saya jadi merasa bersyukur. Saat masa down, saya nggak pernah sendirian. Selalu ada pertolongan. Selalu ada dukungan. Makanya malah sesenggukan ketika inget yang bikin bahagia.

Tears of bliss. Tears of joy.

Terus jadi salah fokus. Yang disuruh itu latihan berempati, bukan refleksi diri, Del. Zzz. Anyway, saya pengen banget menghadirkan empathy drill apa pun bentuknya di berbagai sesi Limitless Campus setelah ini. Batch 2, 3, 4, dst.

Demi mewujudkan misi hidup “connecting the dots, understanding the odds”. Mempersatukan manusia lewat interaksi, lewat empati.

No comments:

Powered by Blogger.