Saturday, June 24, 2017

Tanya Jawab Ya Gitu #5

0 comments
Jadi ceritanya, setelah kelar jawab 4 pertanyaan dari Cune dan Shasha selama 4 minggu berturut-turut, Cune bikin jebakan Betmen: jawab pertanyaan sendiri. Terus nyesel, kenapa bikin pertanyaan susah-susah amat. Tapi yaudah. Challenge accepted! Per dua dulu ya. Sisanya menyusul minggu depan.

***
"Kalau jadi warna, lo warna apa dan kenapa?" -Della
Dalam kondisi normal, sepertinya krem cukup mewakili. Mungkin karena gw anaknya elemen tanah kali ya? Calm and grounded. Eh tapi krem yang agak cokelat. Pantone warna kulit gitu. Duh gimana ya jelasinnya? Kalau di make up, semacam baseline. Primer. Foundation. Concealer. Atau ala ala 'no make up make up’.

Eh tapi di beberapa situasi, kadang bisa merah banget sih. Outspoken and vibrant. Kayak gincu cetar. Atau rambutnya Ariel Little Mermaid. Terutama kalau udah mau sesuatu, ‘kecolek’ dan merasa harus menyampaikan aspirasi, atau ketika kekeuh mempertahankan sikap.

Nggak tau sih ini udah cukup tepat menggambarkan soal warna atau belum. Debatable.

***
"Ceritain dong life-changing moment di hidup lo" -Della
Kayaknya pernah cerita deh. I see my life as series of check points. So there’s no such thing as life changing moments.

Tapi kalau kudu kasih contoh satu evidence, itu adalah saat jadi Pengajar Muda. Sepulang dari penempatan, banyak banget hal yang berubah dari diri gw, terutama dalam memandang isu sosial. Baru ngeh gitu, oh ternyata gw bisa peduli juga ya. Utamanya soal pendidikan.

Maklum sis, anak gedongan yang nggak pernah hidup susah. Jadinya kadar kepekaan sosialnya ya gitu-gitu aja. Tapi selama setahun itu, karena betul-betul mengamati, mengalami, bahkan menghayati, jadi sedikit banyak mengasah empati.

Makanya bisa meradang banget soal Full Day School karena langsung membayangkan anak-anak di berbagai penempatan harus belajar sampai jam 5 sore. Apa sih yang ada di pikiran Pak Menteri?

Emang dikira perjalanan anak-anak ke sekolah mulus aja? Masih ada loh yang naik-turun gunung, nyebrang naik kapal, melewati tanah becek, hutan sawit, dsb. Dan itu nggak sebentar. Mereka bisa sampai rumah jam berapa? Belum ngerjain peer. Belajar buat ulangan. Kapan mainnya? Saking sewotnya, gw pernah sampai ikut protes, kumpul bareng para aktivis pendidikan di LBH.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw cuma akan baca berita soal Full Day School sambil lalu.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw nggak akan sadar bahwa akses pendidikan yang berkualitas sekrusial itu dampaknya. All of my life, I take education for granted. Little did I know, not everyone has that privilege.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw nggak akan berpikir buat terima tawaran kerja di Kemdikbud, bantu kampanye, maupun terjun bebas bangun Limitless Campus kayak sekarang.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw nggak akan bener-bener paham betapa yang namanya berbagi itu nilainya bukan berkurang, justru bertambah.

If this evidence counts as life changing moment, then I’m glad I’ve changed. Like.......... A LOT!

Anak Rumah Tangga 2.0

0 comments

Walaupun nggak selalu ditulis, tiap lebaran, pasti ada aja materi refleksi. Mumpung lagi mood, kali ini saya mau bahas topik pekerjaan rumah tangga.

Di beberapa kesempatan, saya pernah menulis tentang balada mengurus rumah. Tahun 2010, 2014, dan 2016. Sampai tahun lalu, saya masih konsisten ingin mencari pasangan yang bisa memastikan alokasi anggaran untuk mbak terpenuhi. Bahkan beberapa teman sudah bosan mendengar syarat ini karena saya ulang-ulang terus :))

But things change overtime. I don't know since when, I feel like things get clearer now.

Kalau lihat kilas balik tulisan lama, banyak yang isinya curhat keluh-kesah tentang nyokab yang nggak tersampaikan. Iya emang saya anaknya drama. Menulis blog saya jadikan tempat katarsis. Ya daripada disalurkan ke aktivitas yang lebih nggak jelas lagi kan?

Jadi barangkali, 'obsesi' punya mbak itu karena sebetulnya saya cuma nggak tahan aja sama tekanan nyokab yang pada dasarnya beda standar.

Saya nggak terlalu bermasalah barang-barang sedikit berantakan, cucian piring menumpuk, dan jemuran kering yang nggak langsung diangkat. Sementara nyokab, berantakan dikit, ngomel. Menunda cuci piring, ngomel (padahal emang sengaja, biar sekalian nyucinya. Efisien). Bahkan nyuruh ambil jemuran pun pakai ngomel. Emang nggak bisa santai.

She works harder than everyone in our house. No wonder she feels freaking tired and complains about us doing nothing. While in fact, we're doing all things she told us. It's just... her KPI is too damn high :))

Dari sini, saya jadi sadar. Tekanan nyokab nggak seharusnya saya bebankan pada pasangan di masa depan. Syarat anggaran mbak bisa dialokasikan untuk hal lain atau ditabung. Justru yang lebih penting adalah soal bagi tanggung jawab mengurus rumah.

Ya kalau ada mbak mah alhamdulillah banget, karena saya nggak hobi beres-beres. Tapi kalau nggak ada, nggak perlu dijadikan momok. Karena kekeuh punya mbak bisa jadi malah nambah masalah. Susah nyarinya, misalnya. Atau mbaknya nggak jujur, attitude-nya buruk, dsb.

Berpikir bahwa solusi rumah berantakan adalah mbak itu sama kayak solusi jomblo adalah menikah. Nggak solutif.

Tantangan saya sekarang, mencari solusi dari 'serangan' pertanyaan "kapan kawin" dan peran sebagai anak rumah tangga di bawah tekanan nyokab perfeksionis. Mungkin ada yang bisa bantu?

Monday, June 19, 2017

Tanya Jawab Ya Gitu #4

0 comments
"Kalo lo Animagus, lo mau jd hewan apa dan kenapa?" -Shasha
Gw sampai Googling dulu loh buat inget-inget list Animagus ada apa aja:
  • Silver Tabby Cat
  • Black Cat
  • Tall Red Stag
  • Shaggy Black Dog
  • Fat Grey Rat
  • Big Blue Bettle
Duh, nggak ada yang sreg. Ngarang boleh nggak? Gw pengen bisa menjelma menjadi dua bentuk Animagus. Kalau lagi kalem, jadi Snow Peacock yang bulunya putih dan matanya biru. Cakep! Lenggok sana-sini, keliatannya nggak berbahaya. Tapi di masa-masa tertentu, bisa berubah jadi Fire Peacock. Sangar tapi tetep effortlessly anggun. Kenapa? Nggak ada alasan spesifik sih. Keren aja.

"Superpower apa yang lu pengen punya, dan 'superpower' apa yang lu udah punya?" -Cune
Sebetulnya kayaknya seru punya superpower kaya Prof. Xavier, bisa mengendalikan dunia lewat pikiran. Seru aja gitu kalau lagi PMS, bisa bikin abang jualan kasih cokelat atau es krim gratis. Atau kalau kamar lagi berantakan, pilih acak aja orang buat dateng terus beresin. Semacam semi hipnotis. Tapi sebetulnya, dengan kekuatan sedahsyat itu, peer juga kontrol diri. Harus mode Zen tiap saat.

Soal 'superpower' yang udah gw punya, hmmm.. not sure if I have any.

Saturday, June 17, 2017

Tanya Jawab Ya Gitu #3

0 comments
"Ceritain dong curhat pasif kalian yang kalian rasa paling seru" –Shasha

Sebelum menjawab, mungkin ada baiknya didefinisikan dulu apa itu curhat pasif. Alkisah (tsah), gw pernah menjabarkan seperti ini:

Curhat pasif adalah curhat 'males' di mana lo nggak harus ngoceh nggak karuan, berharap ada yang mau dengerin dan ngertiin. Bukan males curhat tapi ya, bedain.

Dalam curhat pasif, mulut lo bungkam, tapi ada kepuasan dan kelegaan hati yang setara dengan curhat aktif. Contoh aktivitasnya adalah baca buku, dengerin lagu, nonton film, cari quote, dengerin cerita orang, dll.

http://fidellanandhita.blogspot.co.id/2013/02/curhat-pasif.html

***

Sebenernya yang seru ada banyak! Mungkin karena gw hobinya curhat, baik aktif maupun pasif. Haha. Yang terkini, gw copas aja yah di sini:

Orang-orang yang menulis itu sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada masalahnya, pada amarahnya, pada kegelisahannya. Sehingga ia mau repot-repot menuangkan menjadi sebuah rekaman kata. Sesuatu yang mungkin tidak pernah ia lakukan untuk hal-hal lain, sesuatu yang mungkin terpaksa ia lakukan untuk pelajaran di sekolah. 

Mereka jatuh cinta pada segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya. Mungkin mereka tidak menyadari itu hingga kelak di suatu hari mereka membaca tulisannya sendiri. Saat keadaan telah berubah, saat hidup berjalan lebih baik, saat pikiran semakin lurus dan jernih.

Mereka akan tersenyum membacanya dan menertawakan dirinya sendiri. Menyadari ternyata mereka pernah seperti itu.

http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/112234040847/orang-orang-yang-menulis

***

NAH PERSIS!

Jadi, beberapa waktu belakangan, gw ditawari komitmen menulis. Tapi belum apa-apa, udah pesimis duluan. Ya gimana dooong, yang berbau komitmen tuh agak mengerikan soalnya. Padahal, sebagian diri gw super bersemangat mau terlibat! Galau deh.

Lalu mendaratlah pada coretan “Orang-orang yang Menulis” karya Kurniawan Gunadi ini. Seketika, rasanya menghangat. Seolah dapat dukungan tak terlihat dari semesta yang dihadirkan lewat tulisan. Semoga cinta gw cukup kuat untuk mau repot-repot menggali rasa. Menggali masalah, gelisah, marah, maupun senyum sumringah.

Terus gali, walaupun susah payah.

***

"When you leave this world, what kind of person do you want to be remembered as and what do you want to leave as legacy?" -Cune

Wadaw. Pertanyaan berat. Entah kenapa, terlintas lagu Lucky Man-nya Mocca ini:

Some people say you're a lucky man
to win the first prize lottery

Some people say you’re a lucky man
to have a high-flying bright career

But I know they're wrong
and I'm sure they're wrong 

Some people say you're a lucky man
to have a lot of friends out there 

Some people say you're a lucky man
to have doors open everywhere

But I know they're wrong

You're a very lucky man
to know such a girl like her

Sederhana, cheesy, dan mungkin terdengar egois. Tapi gw ingin membuat orang merasa beruntung telah mengenal gw. Cukup? Oke kurang. Pertanyaan soal legacy belum terjawab.

Hmm.. ternyata susah juga ya. Katanya, gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama. Mungkin, satu-satunya legacy yang bisa gw tinggalkan adalah nama baik.

Auk ah. Sulit. Haha.

Tuesday, June 13, 2017

Tanya Jawab Ya Gitu #2

0 comments
Prolog:

Jadi ceritanya, dua minggu yang lalu saya diajak Cune main tanya-jawab. Terus ajak Shasha ikutan juga. Intinya sih tiap orang kasih satu pertanyaan, jadi masing-masing akan jawab dua pertanyaan.

Minggu pertama, karena masih pemanasan, jawabnya via Path. Tapi berhubung minggu kedua ini pertanyaannya agak berat, jadi jawabannya kepanjangan kalau di Path. Lebih cocok di sini.

Untuk proyek "Tanya Jawab Ya Gitu" kali ini, alih-alih pakai kata 'saya', sepertinya lebih sreg pakai 'gw' biar rasanya kayak beneran ngobrol tanya-jawab sama Shasha dan Cune.

So... here we go!

***
"Life value apa yg menurut lo sangat penting dan dirasa sangat harus lo ajarkan ke anak lo (kelak)?" -Shasha

Beberapa hari yang lalu, seorang teman cerita, pacarnya lagi bingung. Ada kode etik di kantornya yang melarang terima uang selain dari gaji. Tapi di sisi lain, kantornya nunggak gaji 3 bulan. Dilema moral. Kami sih kasih saran untuk ambil aja dengan argumen, itu haknya.

Ternyata, pacarnya keren banget! Biar seret keuangan begitu, dia (dan timnya) tetap mempertahankan kode etik kantor untuk nggak terima uang sepeser pun.

Mencelos. Ini soal prinsip, dan gw seakan diingatkan kembali bahwa integritas yang utama. Kedua, kejujuran. Ketiga, ikhlas. Iya, langsung ketampol sama 3 life value sekaligus.

Apa sih integritas? Ketika lo tetap memegang prinsip bahkan saat nggak ada yang mengawasi.

Lalu tentang kejujuran yang kayaknya ideal banget. Padahal, white lie, omit fact, atau apa pun istilahnya, dalam konteks tertentu bisa jadi terasa benar walaupun nggak baik. Cuma seenggaknya, dengan punya moral compass, semoga mempermudah memutuskan berbagai dilema hidup ya, Nak (ceritanya lagi ngomong sama anak di masa depan).

Berikutnya, ikhlas. Berat aselik jir. Tapi cuma ini satu-satunya cara mencapai 'inner peace'. Ah atuhlah, ngomongin ikhlas tuh berasa paling bijak aja. Padahal gw sendiri pun masih perlu belajar banyak.

Dan ini mengarah pada prinsip berikutnya: rendah hati.

Boleh lah cita-cita, pencapaian, dan ambisi setinggi langit. Tapi tetap harus menjejak tanah. Rugi euy sombong. Banyak pelajaran berharga di dunia yang cuma numpang lewat karena ngerasa paling hebat, paling pintar, paling benar, paling segalanya. Kira-kira itu yang mau gw ajarkan ke anak gw nantinya.

Sebetulnya masih banyak lagi sih. Tapi biar genap (ganjil?), dibulatkan jadi 5 prinsip aja, yang mana yang terakhir adalah kebaikan. Gw selalu percaya, kita nggak akan kehabisan orang-orang baik selama kita pun terus berbuat baik. Mungkin kesannya naif banget. But well, being kind is never a bad thing, yes? As long as it's with sincere motive.

***
"Ceritain dong momen dalam hidup lu yg meningkatkan rasa percaya diri lu banget, yang bikin lu 'udah bisa ngelewatin/ngelakuin ini, gw bisa ngelewatin/ngelakuin apapun'" -Cune
Hmm.. apa ya? Gw coba jawab dengan kejadian belakangan deh. Btw, boleh modifikasi sedikit nggak pertanyaannya? Karena fase ini belum berlalu, jadi modal gw cuma yakin bahwa kalau bisa ngelewatin/ngelakuin ini, bisa ngelewatin/ngelakuin apa pun.

Jadi begini. Gw selalu berpikir bahwa hidup itu ibarat game. Tiap naik level pasti ada tantangan baru. Yang sedang gw alami sekarang, tema 'game of life' nya adalah tentang menjadi berani. Mengalahkan 'musuh' yang namanya ketakutan.

I just confess something I've never done before. Ever.

Belum ada jawaban. Bisa jadi malah nggak pernah tau jawabannya apa. Ini sempet bikin super uring-uringan. Kalau istilah Shasha: drama sepihak. Istilahnya pas banget, sial.

But besides this uncertainty, I'm really proud of myself for going this far. A check point.

Dengan menandai check point ini, gw cukup yakin seenggaknya kalau game over, minimal nggak perlu balik ke level sebelumnya. It won't be the same me anymore.

"Bitter-sweet and strange. Finding you can change. Learning you."

Sebait lagu Beauty and the Beast ini seharusnya mewakili ya. Gw bener-bener tersentak ketika sadar makna film ini. Bukan tentang Si Cantik yang jatuh cinta sama Si Buruk Rupa, tapi cerita perjalanan Si Buruk Rupa mencari jati diri. Dalam proses pencarian itulah ia menemukan Si Cantik.

Cantik maupun Buruk Rupa di sini jelas lepas dari perkara paras. 

It's actually telling us about the beauty of life, a journey to learn ourself. One bitter-sweet and strange way to realize that we can be metamorphosed into better person.

Gitulah pokoknya.