Anak Rumah Tangga 2.0

Walaupun nggak selalu ditulis, tiap lebaran, pasti ada aja materi refleksi. Mumpung lagi mood, kali ini saya mau bahas topik pekerjaan rumah tangga.

Di beberapa kesempatan, saya pernah menulis tentang balada mengurus rumah. Tahun 2010, 2014, dan 2016. Sampai tahun lalu, saya masih konsisten ingin mencari pasangan yang bisa memastikan alokasi anggaran untuk mbak terpenuhi. Bahkan beberapa teman sudah bosan mendengar syarat ini karena saya ulang-ulang terus :))

But things change overtime. I don't know since when, I feel like things get clearer now.

Kalau lihat kilas balik tulisan lama, banyak yang isinya curhat keluh-kesah tentang nyokab yang nggak tersampaikan. Iya emang saya anaknya drama. Menulis blog saya jadikan tempat katarsis. Ya daripada disalurkan ke aktivitas yang lebih nggak jelas lagi kan?

Jadi barangkali, 'obsesi' punya mbak itu karena sebetulnya saya cuma nggak tahan aja sama tekanan nyokab yang pada dasarnya beda standar.

Saya nggak terlalu bermasalah barang-barang sedikit berantakan, cucian piring menumpuk, dan jemuran kering yang nggak langsung diangkat. Sementara nyokab, berantakan dikit, ngomel. Menunda cuci piring, ngomel (padahal emang sengaja, biar sekalian nyucinya. Efisien). Bahkan nyuruh ambil jemuran pun pakai ngomel. Emang nggak bisa santai.

She works harder than everyone in our house. No wonder she feels freaking tired and complains about us doing nothing. While in fact, we're doing all things she told us. It's just... her KPI is too damn high :))

Dari sini, saya jadi sadar. Tekanan nyokab nggak seharusnya saya bebankan pada pasangan di masa depan. Syarat anggaran mbak bisa dialokasikan untuk hal lain atau ditabung. Justru yang lebih penting adalah soal bagi tanggung jawab mengurus rumah.

Ya kalau ada mbak mah alhamdulillah banget, karena saya nggak hobi beres-beres. Tapi kalau nggak ada, nggak perlu dijadikan momok. Karena kekeuh punya mbak bisa jadi malah nambah masalah. Susah nyarinya, misalnya. Atau mbaknya nggak jujur, attitude-nya buruk, dsb.

Berpikir bahwa solusi rumah berantakan adalah mbak itu sama kayak solusi jomblo adalah menikah. Nggak solutif.

Tantangan saya sekarang, mencari solusi dari 'serangan' pertanyaan "kapan kawin" dan peran sebagai anak rumah tangga di bawah tekanan nyokab perfeksionis. Mungkin ada yang bisa bantu?

Comments