Tuesday, June 13, 2017

Tanya Jawab Ya Gitu #2

Prolog:

Jadi ceritanya, dua minggu yang lalu saya diajak Cune main tanya-jawab. Terus ajak Shasha ikutan juga. Intinya sih tiap orang kasih satu pertanyaan, jadi masing-masing akan jawab dua pertanyaan.

Minggu pertama, karena masih pemanasan, jawabnya via Path. Tapi berhubung minggu kedua ini pertanyaannya agak berat, jadi jawabannya kepanjangan kalau di Path. Lebih cocok di sini.

Untuk proyek "Tanya Jawab Ya Gitu" kali ini, alih-alih pakai kata 'saya', sepertinya lebih sreg pakai 'gw' biar rasanya kayak beneran ngobrol tanya-jawab sama Shasha dan Cune.

So... here we go!

***
"Life value apa yg menurut lo sangat penting dan dirasa sangat harus lo ajarkan ke anak lo (kelak)?" -Shasha

Beberapa hari yang lalu, seorang teman cerita, pacarnya lagi bingung. Ada kode etik di kantornya yang melarang terima uang selain dari gaji. Tapi di sisi lain, kantornya nunggak gaji 3 bulan. Dilema moral. Kami sih kasih saran untuk ambil aja dengan argumen, itu haknya.

Ternyata, pacarnya keren banget! Biar seret keuangan begitu, dia (dan timnya) tetap mempertahankan kode etik kantor untuk nggak terima uang sepeser pun.

Mencelos. Ini soal prinsip, dan gw seakan diingatkan kembali bahwa integritas yang utama. Kedua, kejujuran. Ketiga, ikhlas. Iya, langsung ketampol sama 3 life value sekaligus.

Apa sih integritas? Ketika lo tetap memegang prinsip bahkan saat nggak ada yang mengawasi.

Lalu tentang kejujuran yang kayaknya ideal banget. Padahal, white lie, omit fact, atau apa pun istilahnya, dalam konteks tertentu bisa jadi terasa benar walaupun nggak baik. Cuma seenggaknya, dengan punya moral compass, semoga mempermudah memutuskan berbagai dilema hidup ya, Nak (ceritanya lagi ngomong sama anak di masa depan).

Berikutnya, ikhlas. Berat aselik jir. Tapi cuma ini satu-satunya cara mencapai 'inner peace'. Ah atuhlah, ngomongin ikhlas tuh berasa paling bijak aja. Padahal gw sendiri pun masih perlu belajar banyak.

Dan ini mengarah pada prinsip berikutnya: rendah hati.

Boleh lah cita-cita, pencapaian, dan ambisi setinggi langit. Tapi tetap harus menjejak tanah. Rugi euy sombong. Banyak pelajaran berharga di dunia yang cuma numpang lewat karena ngerasa paling hebat, paling pintar, paling benar, paling segalanya. Kira-kira itu yang mau gw ajarkan ke anak gw nantinya.

Sebetulnya masih banyak lagi sih. Tapi biar genap (ganjil?), dibulatkan jadi 5 prinsip aja, yang mana yang terakhir adalah kebaikan. Gw selalu percaya, kita nggak akan kehabisan orang-orang baik selama kita pun terus berbuat baik. Mungkin kesannya naif banget. But well, being kind is never a bad thing, yes? As long as it's with sincere motive.

***
"Ceritain dong momen dalam hidup lu yg meningkatkan rasa percaya diri lu banget, yang bikin lu 'udah bisa ngelewatin/ngelakuin ini, gw bisa ngelewatin/ngelakuin apapun'" -Cune
Hmm.. apa ya? Gw coba jawab dengan kejadian belakangan deh. Btw, boleh modifikasi sedikit nggak pertanyaannya? Karena fase ini belum berlalu, jadi modal gw cuma yakin bahwa kalau bisa ngelewatin/ngelakuin ini, bisa ngelewatin/ngelakuin apa pun.

Jadi begini. Gw selalu berpikir bahwa hidup itu ibarat game. Tiap naik level pasti ada tantangan baru. Yang sedang gw alami sekarang, tema 'game of life' nya adalah tentang menjadi berani. Mengalahkan 'musuh' yang namanya ketakutan.

I just confess something I've never done before. Ever.

Belum ada jawaban. Bisa jadi malah nggak pernah tau jawabannya apa. Ini sempet bikin super uring-uringan. Kalau istilah Shasha: drama sepihak. Istilahnya pas banget, sial.

But besides this uncertainty, I'm really proud of myself for going this far. A check point.

Dengan menandai check point ini, gw cukup yakin seenggaknya kalau game over, minimal nggak perlu balik ke level sebelumnya. It won't be the same me anymore.

"Bitter-sweet and strange. Finding you can change. Learning you."

Sebait lagu Beauty and the Beast ini seharusnya mewakili ya. Gw bener-bener tersentak ketika sadar makna film ini. Bukan tentang Si Cantik yang jatuh cinta sama Si Buruk Rupa, tapi cerita perjalanan Si Buruk Rupa mencari jati diri. Dalam proses pencarian itulah ia menemukan Si Cantik.

Cantik maupun Buruk Rupa di sini jelas lepas dari perkara paras. 

It's actually telling us about the beauty of life, a journey to learn ourself. One bitter-sweet and strange way to realize that we can be metamorphosed into better person.

Gitulah pokoknya.

0 comments: