Tanya Jawab Ya Gitu #5

Jadi ceritanya, setelah kelar jawab 4 pertanyaan dari Cune dan Shasha selama 4 minggu berturut-turut, Cune bikin jebakan Betmen: jawab pertanyaan sendiri. Terus nyesel, kenapa bikin pertanyaan susah-susah amat. Tapi yaudah. Challenge accepted! Per dua dulu ya. Sisanya menyusul minggu depan.

***
"Kalau jadi warna, lo warna apa dan kenapa?" -Della
Dalam kondisi normal, sepertinya krem cukup mewakili. Mungkin karena gw anaknya elemen tanah kali ya? Calm and grounded. Eh tapi krem yang agak cokelat. Pantone warna kulit gitu. Duh gimana ya jelasinnya? Kalau di make up, semacam baseline. Primer. Foundation. Concealer. Atau ala ala 'no make up make up’.

Eh tapi di beberapa situasi, kadang bisa merah banget sih. Outspoken and vibrant. Kayak gincu cetar. Atau rambutnya Ariel Little Mermaid. Terutama kalau udah mau sesuatu, ‘kecolek’ dan merasa harus menyampaikan aspirasi, atau ketika kekeuh mempertahankan sikap.

Nggak tau sih ini udah cukup tepat menggambarkan soal warna atau belum. Debatable.

***
"Ceritain dong life-changing moment di hidup lo" -Della
Kayaknya pernah cerita deh. I see my life as series of check points. So there’s no such thing as life changing moments.

Tapi kalau kudu kasih contoh satu evidence, itu adalah saat jadi Pengajar Muda. Sepulang dari penempatan, banyak banget hal yang berubah dari diri gw, terutama dalam memandang isu sosial. Baru ngeh gitu, oh ternyata gw bisa peduli juga ya. Utamanya soal pendidikan.

Maklum sis, anak gedongan yang nggak pernah hidup susah. Jadinya kadar kepekaan sosialnya ya gitu-gitu aja. Tapi selama setahun itu, karena betul-betul mengamati, mengalami, bahkan menghayati, jadi sedikit banyak mengasah empati.

Makanya bisa meradang banget soal Full Day School karena langsung membayangkan anak-anak di berbagai penempatan harus belajar sampai jam 5 sore. Apa sih yang ada di pikiran Pak Menteri?

Emang dikira perjalanan anak-anak ke sekolah mulus aja? Masih ada loh yang naik-turun gunung, nyebrang naik kapal, melewati tanah becek, hutan sawit, dsb. Dan itu nggak sebentar. Mereka bisa sampai rumah jam berapa? Belum ngerjain peer. Belajar buat ulangan. Kapan mainnya? Saking sewotnya, gw pernah sampai ikut protes, kumpul bareng para aktivis pendidikan di LBH.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw cuma akan baca berita soal Full Day School sambil lalu.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw nggak akan sadar bahwa akses pendidikan yang berkualitas sekrusial itu dampaknya. All of my life, I take education for granted. Little did I know, not everyone has that privilege.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw nggak akan berpikir buat terima tawaran kerja di Kemdikbud, bantu kampanye, maupun terjun bebas bangun Limitless Campus kayak sekarang.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw nggak akan bener-bener paham betapa yang namanya berbagi itu nilainya bukan berkurang, justru bertambah.

If this evidence counts as life changing moment, then I’m glad I’ve changed. Like.......... A LOT!

Comments