Tanya Jawab Ya Gitu #6

Apa ketakutan terbesar yang masih lo hadapi sampai sekarang?

BANYAK JIR! Pada dasarnya, gw ini anaknya penakut dan pencemas. Dari hal cetek kayak takut kejedot plang otomatis parkiran kalau naik ojek, takut kejeblos lubang kalau lagi jalan gelap malem-malem, takut liat pocong kalau lewat kebun isinya pohon pisang, takut nyebrang, takut gagal, takut nggak bisa memenuhi ekspektasi orang lain, dsb.

Gw cemas kalau mau pergi ke suatu tempat dan packing ada yang ketinggalan, cemas nyasar (apalagi gw anaknya buta jalan), cemas kalau ketemu banyak orang baru, cemas tiap maju ke depan panggung/presentasi, cemas sama berbagai ketidakpastian, dsb.

Tapi ya mau gimana. Satu-satunya cara ya hadapi. Apa boleh buat. Melarikan diri nggak bikin takutnya hilang, malah makin horor karena jadi membayangkan yang nggak-nggak.

Hidup dengan berbagai ketakutan, gw malah jadi bertanya-tanya kayak apa rasanya nggak punya rasa takut. Kayak apa rasanya nggak ngalamin sensasi 'degdegser’ yang nggak nyaman tapi familiar itu. Kayak apa rasanya nggak perlu berjuang menghadapi berbagai ketakutan.

I really can’t imagine myself being fearless. Because I believe that the bravest man is not one who ain’t afraid of everything. The bravest man is one who befriend with his enemy: fear.

Dan satu hal sih: nelayan tangguh nggak lahir dari lautan yang tenang. Buat gw, 'lautan’ itu ya semua ketakutan, kecemasan, dan berbagai perasaan nggak nyaman yang bisa tiba-tiba datang seperti badai. Tugas gw cuma satu: bertahan hidup. Bertahan waras. Jadi ‘nelayan tangguh’.

***

Bekerja, untuk apa?

Pas kasih pertanyaan ini, sebetulnya gw lagi bertanya ke diri sendiri tapi terlalu bingung jawabnya. Tepatnya, males usaha mendeskripsikan kebingungan gw. Harapannya, bisa curhat pasif. Pada akhirnya, pertanyaan ini malah kembali ke gw, haha, sial.

Jadi ceritanya, seperti yang semua orang udah alami, realita hidup itu ya nggak ada pekerjaan yang ideal di dunia. Nggak bisa lo ngarep gaji besar, waktu luang banyak, dan kerja sesuai passion. Mustahil.

Nah, ini gw dihadapkan pada kondisi yang bukan cuma nggak ideal, tapi juga di luar ekspektasi. Jatohnya bingung. Takut. Cemas. Sedih. Marah. Kecewa. Yang nggak tau ke siapa. Tapi di sisi lain, super bersemangat. Energi berlimpah.

Dalam kondisi begini, rasanya lelah banget. Tenggelam sama perasaan sendiri yang naik-turun nggak karuan, tapi nggak ngerasa kenapa-kenapa juga. Kerja udah kayak dispenser aja ini mah: hot and cold :))

Lalu gw coba inget lagi, kenapa gw ngelakuin ini? Kenapa gw menolak kesempatan lain? Apakah gw menyesal? Apa yang men-trigger berbagai emosi negatif? Apa yang bikin sebaliknya, emosi positif meluap? Gimana cara menyeimbangkannya?

Dan terakhir: bekerja, untuk apa?

Akhirnya sampai pada kesimpulan sementara: gw bekerja untuk belajar. Belajar paham diri, belajar paham fenomena sosial, belajar untuk terus menjadi relevan dan berguna, dsb. Lalu senyum-senyum sendiri, bersyukur. Apa yang lebih menyenangkan, dari mendapat kesempatan belajar dan dibayar? Dan semoga bermanfaat bagi sekitar. Aamiin.

Comments