About Belief and Other Random Stuff

Dua malam ini, saya ngobrol sampai larut bersama beberapa orang teman sepulang bekerja. Bahasannya berat: agama. Saya bukan orang yang religius, jadi tulisan kali ini bukan tentang ilmu agama, tapi bagaimana kebaikan, ketaatan, dan berbagai elemen lainnya melekat di agama manapun. Atau mari sebut saja: kepercayaan.

Menariknya, di balik kepercayaan, ada satu elemen yang perannya adalah mempertentangkan. Misalnya dalam kepercayaan Sunda Wiwitan, ada yang namanya Wiwaha Yudha Narada, sifat dasar manusia yang selalu memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya.

Well, sepertinya saya harus banyak baca lagi soal si Wiwaha Yudha Narada ini.

###

Anyway, saya nggak tahu ini berhubungan atau justru super nggak nyambung, dompet saya semalam hilang. HP saya pun mati, tombol powernya eror. Anehnya, saya sama sekali nggak merasa panik. Hanya langsung terbayang berbagai prosedur administratif seperti blokir kartu ATM, bikin surat keterangan hilang ke kantor polisi, pengajuan surat keterangan identitas (e-KTP versi selembar kertas HVS), dsb.

Karena ketidakpanikan itu, malah saya jadi bertanya-tanya. Kok bisa? Padahal isinya barang berharga. Mama saya saja langsung marah-marah barusan, tapi saya cuek dan hanya berusaha mengingat rangkaian kejadian, hilang di mana? Dan setelah ini harus bagaimana?

And now, here, writing out loud, I begin to think that maybe I already let go all material possession. What for? If it's meant to be lost, be it. Even for things that have memorable value, still, those won't last forever.

###

Btw, beberapa waktu lalu, saya bongkar lemari baju dan buku. Sebagian disumbangkan, sebagian masih disimpan di kardus, menunggu 'diadopsi'. Beberapa di antaranya adalah buku bagus dan baju favorit yang sekarang sudah tak cukup lagi.

Mama saya protes. "Kok baju yang ini mau dikasih? Baju yang itu kan masih bagus? Buku yang bakal dibaca lagi disimpen dong! Jangan lupa kalau ketemu Pak Anies minta tanda tangan di buku." Dan berbagai komentar lainnya, sambil menyortir mana yang 'lolos seleksi'.

Kalau nggak inget saya masih butuh baju dan berbagai bacaan agar tetap waras, rasanya malah satu lemari mau saya kosongkan semua. Tapi yaaa.. lumayan. Cukup lega lah lemari berkurang separuhnya.

Melepaskan rasa ingin menguasai materi ternyata semenyenangkan itu. Seperti terbebas dari beban dan hasrat memiliki, walaupun masih teronggok kardus-kardus yang belum ketemu pemiliknya.

###

Di titik ketenangan ini, menurut saya, yang paling penting justru peran mama. Mama sebagai Wiwaha Yudha Narada. Bahkan barusan, saat saya bilang dompet saya hilang, mama malah suruh saya solat karena melihat saya gelisah. Malah saya yang bingung. Memangnya saya terlihat seperti seorang yang gelisah? Well, mungkin iya, gelisah karena nggak gelisah. Gelisahception. Halah.

Entah kenapa, apa pun yang saya lakukan, mama selalu ada di sana untuk menentang. Seringkali hal ini bikin saya jengkel setengah mati, bahkan sakit hati. Merusak mood yang sudah disusun sedemikian rupa jadi berantakan semua.

But it's such a waste if I keep my mood ruined forever. I shall be grateful. At least she always be there for me, consistently caring, persistent in her way of complaining everything I do. This is one fundamental thing that never can be changed: mom will always be mom and I will always be her rebel daughter :))

No comments:

Powered by Blogger.