How Do I Know?

"Pertanyaan 'kapan' tuh mulai bikin tertekan deh"

Akhirnya, di sebuah kesempatan curhat sama teman-teman dekat, terlontar juga keresahan ini. Bukan karena saya ngebet mau nikah tapi belum ada calonnya. Tapi karena ingat eyang-eyang kesayangan yang udah nggak muda lagi itu (IYALAH).

Tekanan datang dari mereka yang justru sangat berhati-hati tanya ke saya, tapi terasa sekali berharap banyak. Mereka yang tiap ketemu harus ritual cium tangan cium pipi lalu sekarang tambahan ritual baru: bisikan "jadi kapan?"

Dan selalu saya jawab "doain aja" lalu dibalas "jangan lama-lama ya. Mumpung eyang masih ada"

NAH YANG BEGINI INI YANG BIKIN TERTEKAN!

Sialan nih. Belakangan saya melatih empati karena banyak peristiwa yang bikin saya sadar kebutuhan untuk menjadi lebih peka. Lebih 'manusiawi'.

Efek sampingnya adalah peer baru untuk kontrol kebaperan. Mengasah rasa, belajar jadi lebih perasa, kadang bikin saya jengah sendiri.

Why are you doing this to yourself, Del? Letting yourself off guard -_-

Anyway, teman saya malah komentar "nggak mungkin nggak ada yang deketin lo" dan saya makin jengkel. How do I know? Boleh nggak untuk urusan hati, kita bikin sederhana aja? Kalau suka, bilang suka. I already practice what I preach. I confess. Also ask. But since there's no answer, I'll just take it as a no and it's totally fine. Clarity, at least.

Lalu soal kapan. How do I know? Kata orang, jodoh harus dijemput. Lah ya dijemput ke mana? Lalu ada juga yang bilang, jodoh di tangan Tuhan, tapi harus kita yang ambil. Lah ya ambil ke mana? Gojekin aja bisa nggak?

Teman saya yang manggut-manggut aja denger saya ngomel sendiri, kemudian nanya, "tapi lo siap nikah nggak?"

Lagi-lagi, how do I know? Gimana jawab siap apa nggak? Ibaratnya, kayak mahasiswa tingkat akhir ditanya "siap nggak masuk dunia kerja?" trus melotot "lulus aja belum tentu. Harusnya nanya 'siap sidang nggak?'"

Trus temen yang agak religius menasehati buat doa dikasih jodoh yang tepat di waktu yang tepat. Oh well, how do I know WHEN is the right time? Pada akhirnya mereka nyerah. Saya ngeyel dan keras kepala banget mungkin. Hahaha.

Bahkan saya aja lupa nitip doa buat Rene yang lagi naik haji, supaya saya didekatkan dengan jodoh.

Gampangnya gini deh. Saya nggak percaya kata kerja 'cari jodoh'. Apalagi 'minta jodoh'. Harusnya 'mengusahakan jodoh'.

Ketika orientasinya mencari, percayalah, takkan benar-benar menemukan. Nggak ada tuh yang namanya jodoh kalau konteksnya menikah. Adanya komitmen untuk menjalani bersama. Tadi, kata kuncinya adalah mengusahakan.

Lalu soal cinta. Siapa sih yang menciptakan konsep aneh itu, menikah karena cinta? Saya mah lebih percaya menikah lalu cinta. Atau sekalian, menikah walaupun cinta.

Ganjil ya terdengarnya? Sebetulnya begini. Saya percaya cinta itu harusnya membebaskan. Sementara menikah justru mengikat. Jadi kata hubung yang tepat itu 'walaupun', bukan 'karena'.

Intinya, akhirnya saya mengatur napas dan bilang ke diri sendiri:

Del, gw nggak akan sok-sokan kasihan. Gw tau lo nggak perlu itu. Nggak perlu juga disemangati, sabar, dan berbagai kata penghiburan. Gw cuma berdoa semoga lo selalu ada dalam zona 'inner peace' apa pun bentuk stimulus dari luar.

Semoga lo selalu berani mengakui, mandiri, dan nggak gegabah memutuskan karena tekanan sekitar. Semoga lo senantiasa dipenuhi cinta kasih. Memberi sedikit lebih banyak. Berharap jauh lebih sedikit.

Terakhir, semoga pada saatnya nanti, lo akan merevisi 'how do I know?' dengan 'I do now'.

2 comments:

Ajenk said...

Keren banget del refleksinya! sukak dan sepakat! :)

apalagi bagian paragraf akhir, "memberi lebih banyak, berharap lebih sedikit"

fidella anandhita savitri said...

Hehe, thank you. Btw, ini Ajenk mana? Balada nama Ajeng di mana-mana :))

Powered by Blogger.