Let's Grow Our Food!

Pernah dengar ungkapan "eat what you kill"?

Saya nggak percaya itu. Sebegitu kejamnya kah dunia sampai harus membunuh untuk makan? Rasa-rasanya ada yang ganjil.

Tunggu dulu. Ini konteksnya apa ya?

Mari saya ceritakan sebuah kisah. Tentang seorang karyawan yang mengeluhkan gajinya yang kecil, bahkan di bawah UMR, padahal dia merasa sudah bekerja sangat keras.

Ketika ia mengajukan kenaikan gaji pada atasannya, dibalas "eat what you kill" a.k.a. "kita cuma mampu bayar kamu segitu. Kalau mau lebih, kamu usahakan dengan cara lain".

Sementara dari sisinya, ia merasa diperlakukan tidak adil. Kalau pun dituntut untuk berburu, pinjamkan senjata dan ajarkan caranya. Buatnya, ini hanya tipu muslihat saja agar perusahaan bisa hemat pengeluaran untuk gaji.

Tentu saja cerita ini fiktif. Hanya ilustrasi bagaimana kapitalisme bekerja. Semakin kuat kamu, menguasai senjata dan lihai menggunakannya, semakin banyak makanan yang bisa kamu makan.

Sementara ada mereka yang juga ingin sehebat kamu tapi tak diperkenankan memegang senjata. Pada akhirnya, yang lemah yang akan kalah. Seleksi alam.

Hmm.. mari coba ubah sedikit sudut pandangnya.

Masih soal si karyawan. Penolakan kenaikan gaji oleh atasannya ia jadikan 'bensin' untuk membuktikan diri. Kalau tak diberi senjata, buat saja senjata dan belajar sendiri. Ia tak mempersilakan dirinya menjadi korban.

Tapi alih-alih membuat senjata untuk berburu, ia gunakan tabungannya untuk membeli sepetak tanah, bibit tanaman, cangkul, dan seekor sapi. Ia tumbuhkan sendiri makanannya dan memanen hasilnya. Berteman dengan alam. Menjadi petani dan peternak yang rendah hati, bukan sekedar berharap menjadi karyawan bergaji tinggi.

Ketika kamu punya pilihan membunuh untuk makan VS menumbuhkan makananmu, mana yang akan kamu pilih?

Comments