Posts

Showing posts from 2018

Feedback 2018

"Del, lo ngapain niat banget sampe bikin feedback form segala?"
Jadi, dalam bulan ini, saya minta ke beberapa orang yang selama setahun ini pernah bekerjasama lewat Survey Monkey.

Sebetulnya saya cukup selektif memilih siapa yang saya ingin tanya feedbacknya. Tapi kali aja ada yang iseng mampir ke blog ini dan pengen kasih feedback juga, dengan senang hatiii.. diterima. Linknya di:

Sini.

Kembali ke pertanyaan teman saya itu, kalau ditanya alasan, simpel. Saya memang terbiasa meminta feedback. Masalah mentalitas aja sih. Buat saya, mentalitas evaluasi itu penting. Percuma bikin sesuatu kalau nggak tahu apa yang udah baik dan perlu diperbaiki. Dan kadang, ini nggak bisa kita sendiri yang menentukan. Butuh masukan dari luar juga.
Sayangnya, banyak saya temukan orang-orang yang habis selesai sebuah kegiatan tuh yaudah kelar aja. Laporan evaluasi cuma formalitas. Boro-boro kasih feedback antar tim. Yang ada selebrasi macem acara pembubaran panitia :))

Nggak salah sih. Cuma buat s…

Nekat, nggak

Della 1 (membujuk dengan segala cara): "ini ada, itu ada. Apa yang lo takutin sih?"Della 2: "banyak."Della 1: "tinggal nekat aja seperti biasa kan?"Della 2: "justru karna biasanya nekat, kali ini nggak mau. Gw takut."Della 1: "Biasanya lo takut tapi tetep nekat. Sekarang kenapa?"Della 2: "kenapa nggak?"Della 1: "yaaa.. pokoknya kabarin kalo udah siap nekat lagi. Time's ticking."Della 2: "fuck time and fuck you. I don't need anyone to push me nor decide for me. I'm here in my comfort bubble until I, myself, decide when I'll take a next step. I know I'm slow and it's okay. I'm okay."Della 1: "no you're not, my dear stubborn Taurean princess. The scar is pretty bad, huh?"Della 2: "the worst."Della 1: "yearite. Like it couldn't be worse."Della 2: "you bet. So, just shooo~ I'm busy binge-Webtoon-ing."Della 1: "Easy, girl, easy.…

How to NOT Feel Like Shit

Boy oh boy,
How to stop feeling you don't deserve people's acknowledgement just because you think you're not doing good enough?
Oh dear,
Even if it's true that you're not doing good enough, do you think people have no right to acknowledge your work?
Oh dear,
Have I told you that nothing's worse than rejection? Especially from yourself, to yourself.
Oh dear,
Chin up, smile, and be grateful. Feeling proud is not a sin. Don't be too hard on yourself.

Honesty

Shit, I miss you. But I ain't gonna tell you. Not because of fucking pride, but because you don't deserve appearing in my dream these freaking days.
Geez, why are you so damn bothersome? Ugh!
Della is typing..........
Hai. Apa kabar?

Pemantik

Ada kata yang bisa membuat situasi dingin jadi hangat. Kata ini pun bisa membuat yang hangat jadi panas. Lalu yang panas jadi dingin.

Hati-hati dengan kata pemantik.

Midwife Story

Once, there was a midwife. In her world, man could be pregnant and gave birth. One day, after helping a man giving birth to a baby boy, the man went away, left her a short note that said "if you could reimagine a kid, would you mind raising mine? I need to fix my own life first."
Confused but excited, the midwife decided to adopt him, took over the parenting responsibility, poured her heart and soul to take care this cute baby.
He grew up fast and by the time he was 2, the man came back. "Now as my life is fixed and awesome, I'd like to take my son back. He must've missed his dad a lot. Thank you for raising him and be wonderful foster mother. You're doing such great job."
She stunned in silence.
"If you still want to take care of him, you can live with us," he kindly made an offer. Politely, she refused it and walked away.
Just by that, the midwife lost him.
Soon after she could digest what had happened, she bursted in tears. Though she knew…

Intuisi

Menarik, ketika keyakinan memulai sesuatu sama besarnya dengan saat menyudahi hal tersebut. Hal besar, berat, tapi yaaa.. terasa benar aja. Nggak ada penyesalan, nggak juga main salah-salahan. Semua baik dan membaikkan.
Konteksnya apa nih, Del? Hehe, apa aja bisa sih. Tapi saya mau cerita pengalaman beberapa waktu belakangan.
Jadi, saya impulsif belajar tarot. Awalnya sih karena mengernyit saat dapat info tentang workshop tarot yang katanya bisa bantu mengasah intuisi. Ah, masa sih? Lalu saya putuskan daftar kelasnya, supaya nggak langsung menghakimi dan skeptis. Mau membuktikan aja, bener apa nggak.
Dalam kelas itu, tiap orang dipersilakan punya interpretasi bebas terhadap kartu yang muncul. Saya mikirnya ini mah ilmu cucoklogi aja. Barnum Effect. Tapi nggak bisa dipungkiri, ternyata saya menikmati. Hahaha.
Lagian, kalau saya bisa menikmati dan nggak malu mengakui kalau saya suka cucoklogi karakter orang sama zodiak, yang dikombinasi sama berbagai konsep lainnya seperti DISC Assessm…

Happy (very belated) Birthday, Cune!

"I think I have problem. Punya rekomen temen psikolog atau siapa pun yang bisa dikontak nggak?" Dengan mata yang masih sembab, saya kirim pesan pada seorang teman.
"Sama gw mau ngga?" Dia menawarkan diri. Namanya Cune. Teman dengan banyak lingkaran yang beririsan tapi nggak pernah bener-bener ada dalam satu lingkaran. Teman refleksi paling menyenangkan yang menemani perjalanan metamorfosis diri bertahun-tahun. Salah satu go-to person kalau butuh bantuan. Dalam konteks ini, dukungan moral. Bahkan kalau saya nggak cerita pun, dia yang nanya duluan.

Saya yakin Cune akan baca tulisan ini, dan memang saya tulis sepenuh sadar untuk dibaca. Mungkin akan canggung kalau dibahas, haha, tapi nggak apa-apa lah. Tulisan ini emang spesial buat Cune.

Tahun lalu, Cune genap kepala tiga. Tahun ini belum ulang tahun lagi. Jadi entahlah ini sebetulnya kado yang kelamaan apa kecepetan. Bahahahaha. Tapi anggep aja kelamaan karena saya juga sebetulnya nulisnya tahun lalu. Cuma ngejog…

Kenapa Manusia Butuh Pengakuan?

Di suatu obrolan siang bareng tim LC, teman saya bilang kalau dia pernah punya tujuan hidup punya banyak uang dan dapat pengakuan. Saya tanya, "kenapa lo butuh pengakuan?" dia bilang ya karena menyenangkan, lo diakui banyak orang.

Oke baiklah. Saya belum paham, tapi mungkin karena saya nggak ngalamin aja.

Lalu dia melanjutkan, "...tapi ada satu momen di mana gw sadar bahwa tujuan cari uang sebanyak-banyaknya itu nggak abadi. Lo mati juga nggak bawa apa-apa. Cari pengakuan dari orang lain juga nggak abadi. Makanya, sekarang tujuan gw ya ngelakuin apapun buat cari pengakuan Allah."

Selesai dia cerita, saya nggak bisa berkata-kata selain WOW! WOW! Dan WOW!

Sebagai orang yang nggak terlalu religius tapi percaya 'sesuatu yang lebih besar dari kuasa manusia', iming-iming surga jadi masuk akal, karena yang dicari ya pengakuan Tuhan-nya. Dan ketika ada orang yang bilang takut dosa dan masuk neraka, bisa jadi mereka sebenernya takut nggak diakui Dia.

Hmm..

Terus say…

Standar yang Nggak Standar

Belakangan, saya baru ngeh bahwa kebanyakan masalah yang saya alami ternyata berpusat pada standar yang berbeda dengan ortu, terutama mama. Mungkin selama ini tau (YA IYALAH) tapi nggak betul-betul mengakui. Nganggepnya "yaudalah, emang begitu. Kalau nggak berantem malah aneh".

Mulai dari hal sederhana seperti beberes rumah. Ini selalu jadi momok bagi saya, karena standar beres saya adalah nggak terlalu berantakan. Sementara bagi mama, standar beres adalah saat semua rapi jali.

Nggak heran, mama sering ngomel apa yang saya kerjakan nggak pernah beres dan saya membela diri "udah beres semua kok". Kalau lagi sensitif, saya merasa minim apresiasi, sementara mama merasa mengerjakan semuanya sendirian.

Solusinya adalah mempekerjakan Mbak (kalau sekarang, Si Mbak maunya dipanggil Teteh). Tapi tetep aja, drama pekerjaan domestik kembali terjadi kalau Si Teteh pulang kampung.

Nah, ini baru urusan rumah. Urusan pendidikan, karir, dan standar kesuksesan pun jauh berbeda. Ten…

Jeda

"Kayaknya gw butuh jeda karena 2 tahun belakangan nggak punya waktu buat berduka deh"
Penemuan baru ini saya ungkapkan dalam rapat internal Limitless Campus pada Rabu lalu. Iya, rapat kami kadang-kadang emang se-personal itu. Nggak melulu soal kerjaan.
Saya baru benar-benar sadar bahwa keinginan besar untuk 'meledak' ternyata akar masalahnya adalah saya seringkali buru-buru lompat ke solusi. Jadinya diredam abis-abisan deh gejolak emosi yang lagi dirasakan.
Hal ini juga menjawab keanehan seperti "kenapa gw mati rasa? Kenapa gw tenang banget di saat seharusnya panik? Kenapa gw mempertanyakan banyak hal yang keliatannya baik-baik aja?"
Teman saya ada yang pernah bilang, siklus 4 tahun libur panjang tuh penting banget. Kalau dipikir-pikir, libur terpanjang saya ya 2012. Itu pun terpaksa karena patah kaki. Ya mau gimana lagi kan. Mau ngapa-ngapain juga nggak bisa -_-
Setelah itu, kayaknya tancap gas teruuusss. Istirahat sebentar, belum pol, udah ngebut lagi. …

Nyicil Patah Hati

Saya punya kebiasaan aneh dalam mengantisipasi kekecewaan dan/atau perubahan, yaitu nyicil patah hati.
Istilahnya aja udah aneh kan? Analoginya begini. Lo punya pacar, tapi kayaknya mulai bau-bau putus. Sebelum putus beneran, nyicil ngebayangin dulu, pasca putus gimana ya? Kalau biasanya ada yang nelfon tiap hari, kalau tau-tau nggak telfonan, kayak apa ya? Kalau biasanya dijemput trus makan malem bareng, kalau makan sendirian, apa rasanya ya?
Semacam itulah.
Konteks nyata, waktu saya nyaris keterima jadi PM. Saat itu, 'nyicil'-nya justru kalau nggak keterima, bakal kapok nggak ya? Bakal self blaming atau justru banyak introspeksi? Masih semangat kerja nggak?
Terus ternyata keterima, skenario cicilan buyar semua. Hahaha.
Mungkin selain aneh, sebagian orang menganggap apa yang saya lakukan sia-sia. Tapi ada kalanya nggak se-percuma itu karena beneran kejadian tuh patah hati.
Salah satu momennya adalah saat saya nembak cowok (sekali-kalinya seumur hidup) dan ditolak. Tapi karen…

Kepikiran

Saturn return. Mulai dari nol. Melepas atau tetap. Value and purpose. Jacotot. Mindfulness. Sense of authority. Ruang diskusi. Feedback. Pendidikan. Belajar cara belajar. Pembelajar sebagai pembuat keputusan. Memutuskan. Prioritas. Identitas. Idealisme. Realita. Ruang kompromi. Kesiapan dan persiapan. Random. Chaos. Uncertainty. Bingung. Menciptakan pilihan. Memilih.

Auk ah.

Perang Abadi

Apa kamu pernah merasa terjebak di sebuah situasi di mana kamu yakin banget nggak akan menang?
Di mana kamu tau, sang lawan pun nggak mau menang.
Di mana kamu sadar, bukan pemenang yang dicari, melainkan siapa yang akhirnya memutuskan untuk menyudahi.
Pertanyaannya, bagaimana bisa berakhir kalau nggak pernah dimulai?

Pembenaran

Biasanya, sederet argumen disiapkan untuk membuktikan kita benar. Padahal, yang perlu dibuktikan adalah apakah kita bicara kebenaran atau pembenaran?
Sebetulnya gampang mendeteksi pembenaran, karena menyangkal kebenaran rasanya nggak nyaman.

Yang susah adalah menjawab pertanyaan "yakin bukan pembenaran?"

Mati Rasa

Tau rasanya mati rasa? Misalnya duduk bersimpuh sampai jari-jari kaki geli nggak nyaman, yang kalau dicuekin, ditoel-toel nggak kerasa apa-apa.
Atau pegang es batu terlalu lama sampai kebas, nggak bisa merasakan ujung jari tangan sendiri ketika disentuh.
Satu-satunya cara untuk meredakan mati rasa adalah dengan memberi jeda. Untuk selonjoran. Untuk gosok-gosok telapak tangan atau menghangatkan jari di depan perapian.
Untuk sedikit lebih panik dan cemas, alih-alih menjadi semakin tenang ketika situasi ada di luar kendali.
Untuk menjauh dari bahaya, bukan malah mendekati sumbernya.

Unsolved Business

Sebagai orang yang mengutamakan clarity, selalu bingung sama orang-orang yang seneng banget ngegantungin keputusan.
Penasaran. Apa enaknya menunda nggak menjawab, padahal pertanyaan yang diajukan jelas-jelas mendesak untuk dijawab? Bukannya malah jadi ngerasa dihantui ya?
Apa enaknya menghindari konflik ketika konflik nggak terhindarkan? Malahan, semakin menghindar, semakin nggak beres-beres.
Padahal jawab tinggal jawab. Atau kalau emang butuh waktu, tinggal bilang, kapan tenggatnya. Biar gimanapun, berkomunikasi secara terbuka selalu menjadi pilihan yang lebih baik ketimbang diem aja, seolah nggak ada masalah.
Yaudalah ya, Del. Seenggaknya lo udah cukup gagah untuk berani bertanya, memulai percakapan.
The rest, it's not your business nor your fault, though you know it's still unsolved business and you (indirectly) contribute small part to the mess. At least you're being responsible. Don't feel guilty for no reason -_-

Yakin?

Beberapa hari lalu, saya main ke Jepang, berkunjung ke sebuah lembaga belajar yang menyebut diri democratic university.
Iya, seniat itu bela-belain banget karena saya mau meyakinkan diri kalau apa yang dikerjakan sekarang memang apa yang mau saya kerjakan.
Namanya Shure University. Sudah berdiri selama 11 tahun. Biarpun namanya universitas, tapi Shure ini nggak dapet pengakuan dari pemerintah karena nggak kasih gelar. Belajar ya belajar aja.
Sebagai penganut mahzab demokratis, di Shure, semuanya ditentukan secara terbuka. Uang pangkal hasil kesepakatan bersama. Kurikulum nggak ada, karena muridnya ngerancang sendiri study plan selama setahun. Bahkan lulusnya pun nggak ditentukan dosen, tapi memutuskan sendiri kapan.
Walaupun, tetep ada tuh semacam 'sidang skripsi' dan ada sesi diskusi intens, menguji kesiapan murid tersebut untuk kembali ke masyarakat.
Menariknya lagi, ada yang namanya "Clapping of Destiny" di mana orang-orang yang nonton 'sidang' tersebut k…

Perspektif

Dulu punya cita-cita berkarir jadi copywriter, sampai ambil jurusan iklan pas kuliah. Nggak kesampean, tapi punya banyak kesempatan main kata walau bukan di agensi.
Dulu pengen banget jadi penari, sampai ikut kursus jazz ballet, UKM tari, color guard, dsb. Nggak kesampean, tapi punya banyak kesempatan nari walau bukan penari profesional.
Dulu pengen banget kerja pake baju kantor keren, ala ala wanita karir eksekutif muda gitu. Nggak kesampean, tapi punya banyak kesempatan interaksi dengan korporat walau jenjang karirnya nggak ke sana.
Dulu nggak pernah kebayang jadi konsultan pemasaran, ngurusin agenda sains bareng para profesor, jadi guru di pedalaman, kerja di pemerintahan, terlibat kampanye politik, bahkan jalanin bisnis.
Kalau kekeuh sama 'menjadi apa', pasti bawaannya kesel, nyesel. Tapi kalau ubah perspektif 'membantu (si)apa', peran tuh jadi nggak terlalu signifikan. Karena bisa gonta-ganti seabsurd itu.
Kalau terus-terusan ngiri, nggak bakal ngeh tuh bahwa apa…

Abu-abu

Di dunia ini, yang hitam-putih bisa jadi seperti catur. Saling makan satu sama lain. Tiap langkah dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh strategi.
Lalu bagaimana kalau Sang Ratu mendadak jadi abu-abu? Mungkinkah bisa mencegah yang hitam-putih jadi abu? Mungkinkah permainan terjaga abadi, tak ada Raja yang mati?

Motivasi

"Gw nggak percaya motivasi tertinggi seseorang melakukan sesuatu karena cinta." Berawal dari rasa penasaran apa yang menjadi motivasi seseorang melakukan sesuatu, pernyataan ini menjadi kalimat pemecah keheningan setelah saya bertanya: "Kenapa lo memutuskan melakukan sesuatu yang lo tau resikonya besar?"
Pertanyaan 'kenapa' barangkali memang serumit itu untuk dijawab, dan bisa jadi malah mengintimidasi.
Teman saya asal menyahut: "Lo nggak harus suka sama orangnya, untuk kerjasama kan?"
Dan saya hanya senyum, menahan diri untuk nggak balik komentar.

Takut

"Di balik kegilaan, kenekatan, keras kepala dan ngeyel nan rebel, gw ini sebenernya penakut" -pengakuan ke seorang teman.
Jadi ada tawaran super menarik yang saking menariknya, bikin saya takut. Saya minta saran sama temen saya itu. Tanya kenapa percaya sama saya. Tanya resikonya. Lalu setelah menjelaskan dan kasih perspektif yang bikin saya makin galau, dia cuma bilang:
"Yang penting lo jujur."
Baiklah. Dia bener. Seenggaknya, saya udah jujur. Mengakui rasa takut akan berbagai resiko (yang kata teman saya cuma asumsi). Mengakui berbagai keraguan, juga keyakinan. Mengakui. Sesuatu yang kalau kata teman saya yang lainnya, udah jadi langkah awal yang bagus banget.

Ya ampun, udah lama juga nggak curhat di blog.

Tentang Menjadi Enterpreneur

Saya selalu heran ketika ada yang punya cita-cita jadi enterpreneur. Apalagi sekarang lagi zamannya start up. Gelar Founder dan CEO udah kayak tahu bulat. Digoreng dadakan langsung jadi. Bahkan, berani resign dari pekerjaan tetap untuk banting setir jadi enterpreneur.

Yearite. Terdengar keren sih. Tapi nggak buat saya. Yang saya pedulikan, bukan tentang menjadi enterpreneurnya. Tapi apa yang dilakukan dengan peran tersebut.

Masih tentang LC, saya nggak pernah kebayang ngurusin inisiatif model begini. Yang saya kebayang, ya mental 'pembantu umum' aja. Cukup bahagia dengan bisa membantu orang lain. Apalagi, kalau bisa estafet. Bantuan saya ke orang lain bisa bikin dia bisa bantu yang lainnya lagi.

Nah, kalau menjadi enterpreneur bisa berfungsi sebagai tongkat estafet kebaikan, baru deh masuk akal. Soalnya yang sering ditemukan, pengen ya pengen aja. Kurang tergali 'why' nya. Setia pada peran, padahal, yang esensial itu setia sama misinya.

Syukuri, Jangan Iri

"Makin lo paham diri lo sendiri, makin peka lo sama hal-hal yang nggak cocok dengan diri lo, jangan harap hidup lo makin mudah" -insight dalam sebuah perjalanan jeda dari ibukota Mengerjakan Limitless Campus yang berangkat dari kegelisahan pribadi, sebetulnya jadi keuntungan tersendiri. Saya tau betul apa yang sedang dikerjakan. Tapi selayaknya semua hal yang punya berbagai sisi, hal ini kadang merugikan. Saya jadi agak sulit kompromi dengan idealisme.

Saya pikir, saya hanya perlu terbiasa. Tapi ternyata, jadi makin jelas bahwa bukan perkara adaptasi. Banyak banget kejadian di mana saya segitu terganggunya dengan hal-hal yang nggak 'satu frekuensi'.

Kenapa rasanya 'salah' banget? Apakah saya perlu bikin yang 'salah' jadi 'benar' atau biarin aja? Toh salah-benar itu relatif, kan? Pertanyaan ini menggantung nggak terjawab.

Penampakan luarnya mungkin nggak keliatan, dan bukan pura-pura juga. Saya benar-benar berusaha fit in. But I just can't…

Nikah atau Kuliah?

That annoying question, again.
Dear Mom, if I told you man I consider to marry and he's planning to pursue doctoral degree but unfortunately he's with someone else, what would you react?
As if it's easy to just hang around finding somebody to marry.
Well anyway, even there's one, why in rush?
I can wait, I'd take my time to go easy, for sure. So why so much pressure? Can I beg you to stop, please? Can you just give up giving me options you know I can't choose?
Because really, Mom, it burdens me when you keep showing your dissatisfaction that I can't meet your expectation of that ideal 3M world: Married, have Master degree, and be Mother like you. And it burdens me even more if I'm being blunt to say your pressure is a burden to me.
Burdenception.
You matter to me, and if you keep acting like that, I'd hate myself for being 'anak durhaka'. So for now, until that time comes, let me have my own inner peace, move on, and please, have a little f…

H4: Senin yang Biasa

Tipikal hari Senin: hectic.

Padahal udah janji untuk 'napas' dan kasih libur buat diri sendiri setelah akhir pekan yang lumayan menguras energi (walaupun super menyenangkan). Tapi ternyata, susah ya sodara-sodara, haha.

Kebanyakan kaum urban memang terlalu tenggelam dalam kesibukan, tanpa sadar jadi budak waktu. Mungkin, termasuk saya.

Makanya, punya keleluasaan untuk mengatur waktu dan menyeimbangkan antara kerja, istirahat, dan kegiatan lainnya jadi mewah bangeeet di Jakarta. Sesuatu yang saking mahalnya sampai nggak bisa dibeli dengan uang.

Well anyway, intinya mah, Senin saya padat merayap dan ritmenya cepat. Untungnya, nggak pakai ngeluh "yaaah.. udah Senin lagi" karena saya menikmati Senin saya yang biasa.

H3: Asih, Asuh, Asah

"Asah-asih-asuh itu buatan Belanda. Yang benar, urutannya kebalik: asih-asuh-asah" -Mas Adjie, seorang penggerak lokal di sebuah kampung di Gandaria. Ini senada juga sama istilah Mas Ivan: amati-alami-asah. Kalau dipikir-pikir, bener juga. Yang pertama ya kenal dulu. Amati. Asih.
Lalu dihayati perannya. Alami. Asuh.
Terakhir baru didalami. Asah.
Saya terlalu ngantuk untuk lanjut mikir dan nulis. Jadi yaudah segini aja deh.

H2: Bantar Gebang

Ternyata nggak asik kalau main ginian sendirian. Nggak ada kontrol sosial. Saya mau curang ya. Jadi ini copas dari Instagram:
###
"WE CAN FIX THIS"
"We're lacking of empathy. We need more exercise on experience-based learning" Saya ingat betul pertemuan pertama dengan Yuri dan Mbak Peggy, mendengarkan masukan untuk Limitless Campus batch 2 dan merumuskan bagaimana menghadirkan pengalaman belajar berempati. Lalu saya dan Lintang ketemu salah satu penggerak Bantar Gebang, namanya Resa Boenard di sebuah acara.
Saat mendengar cerita Mbak Resa yang inspiratif, kami kode-kodean sepakat “this is the perfect place to learn!”
Dan dugaan kami tepat. Pengalaman belajar di sana sungguh………. mindblowing.
Kompleksnya permasalahan bikin bingung harus mulai dari mana untuk membantu. Kebayang nggak lo, liat anak-anak mungutin makanan di tumpukan sampah trus dimakan? Atau ada makanan jatoh, dirubung lalat, keinjek, terus dimakan lagi? Atau tiap lo sadar lagi napas, yang bisa lo …

12 Hari Bercerita: Sebuah Prolog

Beberapa waktu belakangan, saya baca-baca tulisan lama. Mengenang aktivitas waktu bekerja pertama kali. Bekerja sebagai 'pelarian' patah hati. Mencari kesibukan melawan lupa.

Tapi saya ogah melabeli diri cari pelarian. Apalagi kerja cari duit. Maka saya dengan keras kepala menanamkan mindset "bekerja itu belajar yang dibayar". Ah rasanya malas kembali menuliskannya. Sudah terekam di Instagram.

Saya mau cerita dari sudut pandang lain.

Ternyata banyak yang terjadi dalam (hampir) 2 tahun kerja perdana sebagai creative officer di sebuah konsultan marketing yang baru berdiri. Mulai dari bikin billboard, balon udara, desain stiker mobil, TVC, jadi event organizer, trainer SPG, instruktur outbond, daaannn.. banyak lagi. Gila sih kalau dipikir-pikir!

Pekerjaan saya sekarang juga hampir 2 tahun. Dibilang nggak kerasa, namanya dusta. Soalnya KERASA BANGET JIR!!!

Mungkin karena makin ke sini saya makin 'hadir', jadi apa-apa yang kejadian nggak lewat gitu aja. Bener-bene…

Demam Dilan

Sebenernya saya udah lama pengen nulis soal ini. Tapi urung dilakukan karena yaaa.. blom mood aja. Perkara selera sih, cuma menurut saya mah Dilan ini giung. Kemanisan gitu, kayak sirup Marjan setengah botol terus ditambah susu kental manis dan satu centong gula pasir, aduk rata. Gombalannya ngilu, bikin sakit gigi.

Di berbagai lingkaran pertemanan, mayoritas suka film ini. Jadi buat kaum minoritas macem saya yang komentar "Dilan giung", reaksi mereka lucu-lucu. Misalnya soal umur. "Mungkin bukan pasarnya aja, karena itu film buat SMP/SMA."

Lalu saya mikir. Kayaknya seumuran Milea, saya lagi sibuk ekskul, les, dan organisasi. Nggak kepengen pacaran dan nggak tertarik model Dilan. Lagipula, yang sebaya saya bahkan lebih tua pun seneng-seneng aja nontonnya. Bahkan heboh fangirling. Jadi argumennya nggak valid.

Ada juga yang bales "pantesan lo jomblo, Del". Padahal yang ngomong jomblo juga :))

Nah, gara-gara bahasan Dilan nggak berujung ini, saya girang mend…

Empathy Fatigue

Kata ahli yang lainnya lagi, empathy fatigue adalah kondisi kelelahan akibat terlalu berempati. Biasanya, terjadi pada pekerja sosial atau istilahnya 'helper'. Saya nggak merasa segitu 'helper' nya, tapi masuk akal sih.

Kalau kata teman, terlalu altruistik.

Kenapa kita bisa mengalami empathy fatigue? Karena prosesnya stimultan, harus mengendalikan diri dan di saat bersamaan berusaha memahami orang lain.

Menyebalkan ketika sebetulnya saya menikmati, tapi di satu sisi barangkali memang butuh dettach dan detoks. Well, Del, kalau mau waras, coba nurut.

Tapi gimana caranya?

Desensitisasi

de·sen·si·ti·sa·si/ /des√©nsititsasi/ n Dok 1 usaha mengurangkan atau menghilangkan alergi terhadap suatu zat; 2 usaha menghilangkan suatu kompleks emosi Ketika proses desensitisasi sampai di level 'bingung-sendiri-terlalu-tenang-di-saat-harusnya-panik', kata yang ahli sih, bisa jadi karena terlalu sering mengalami (dan mengatasi) ‘krisis’ sampai nggak sensitif lagi sama emosi sendiri.

"Nggak wajar sih, Del" -seorang teman yang mulai khawatir. Iya, saya juga mulai khawatir. Kenapa ya?

Mencari Patah Hati

Haha, aneh ya? Patah hati kok dicari?
Jadi gini. Saya lagi waswas nih. Sekarang saya ada dalam kondisi seharusnya merasa patah hati. Tapi kok ya malah biasa aja.
Kenapa waswas? Karena tingkatan di atas patah hati adalah mati rasa. Tapi jangan-jangan, bisa jadi bukan mati rasa, cuma nggak benar-benar sepenuh hati.
Makanya, saya lagi ‘turun gunung’ nengokin ‘album’ jatuh cinta dan membayangkan sebaliknya. Tapi jadi membingungkan. Kok ya rasanya malah hangat banget. Bukan patah hati, bukan juga mati rasa. Dibilang nggak sepenuh hati juga bukan. Beneran ternyata, bukan basa-basi.
Ah, mungkin sistem kerja otak dan hati lagi eror se-eror-eror-nya. Atau emang ingatan dan perasaan manusia tuh diragukan originalitasnya. Bisa seenaknya dikurangi atau ditambah. Banyak bumbunya. Waktu saya cerita ke seorang teman, dia aja sampai bilang “Del, kok bisa sih?” Ya nggak tau. Saya pun masih mencari patah hati.
Kenapa rumit amat sih mempelajari emosi?

Find a Name

I miss the Old Della.
Della and her raw emotion.
Della and her impulsiveness.
Della and her complicated thoughts.
Della and her colorful ways to express art.
Della and her curiosity towards things.
Della and her careless pride.
Della and her sincerity. 
Now that the Old Della is old enough, she's kind of boring.
Too content.
Too plain.
Too simple.
Too mindful.
Too distant.
Too selfless.
Too.......... adult.
Sometimes, the brand new self ain't that fun to play with anymore. It's like trying to tease your lazy cat but she doesn't even bother to move an inch.
I don't even bother to stay at home on new year, working. Perfectly fine I even wonder... do I still need to celebrate anything?
New year party.
Birthday party.
Wedding party.
Bridal shower party.
Lebaran party.
And other parties. You name it.
These things can no longer turn me on. Not that it's not important momentum. It's just... it's reaaally hard to get this New Della to get excited.
What's w…