Posts

Showing posts from February, 2018

H4: Senin yang Biasa

Tipikal hari Senin: hectic.

Padahal udah janji untuk 'napas' dan kasih libur buat diri sendiri setelah akhir pekan yang lumayan menguras energi (walaupun super menyenangkan). Tapi ternyata, susah ya sodara-sodara, haha.

Kebanyakan kaum urban memang terlalu tenggelam dalam kesibukan, tanpa sadar jadi budak waktu. Mungkin, termasuk saya.

Makanya, punya keleluasaan untuk mengatur waktu dan menyeimbangkan antara kerja, istirahat, dan kegiatan lainnya jadi mewah bangeeet di Jakarta. Sesuatu yang saking mahalnya sampai nggak bisa dibeli dengan uang.

Well anyway, intinya mah, Senin saya padat merayap dan ritmenya cepat. Untungnya, nggak pakai ngeluh "yaaah.. udah Senin lagi" karena saya menikmati Senin saya yang biasa.

H3: Asih, Asuh, Asah

"Asah-asih-asuh itu buatan Belanda. Yang benar, urutannya kebalik: asih-asuh-asah" -Mas Adjie, seorang penggerak lokal di sebuah kampung di Gandaria. Ini senada juga sama istilah Mas Ivan: amati-alami-asah. Kalau dipikir-pikir, bener juga. Yang pertama ya kenal dulu. Amati. Asih.
Lalu dihayati perannya. Alami. Asuh.
Terakhir baru didalami. Asah.
Saya terlalu ngantuk untuk lanjut mikir dan nulis. Jadi yaudah segini aja deh.

H2: Bantar Gebang

Ternyata nggak asik kalau main ginian sendirian. Nggak ada kontrol sosial. Saya mau curang ya. Jadi ini copas dari Instagram:
###
"WE CAN FIX THIS"
"We're lacking of empathy. We need more exercise on experience-based learning" Saya ingat betul pertemuan pertama dengan Yuri dan Mbak Peggy, mendengarkan masukan untuk Limitless Campus batch 2 dan merumuskan bagaimana menghadirkan pengalaman belajar berempati. Lalu saya dan Lintang ketemu salah satu penggerak Bantar Gebang, namanya Resa Boenard di sebuah acara.
Saat mendengar cerita Mbak Resa yang inspiratif, kami kode-kodean sepakat “this is the perfect place to learn!”
Dan dugaan kami tepat. Pengalaman belajar di sana sungguh………. mindblowing.
Kompleksnya permasalahan bikin bingung harus mulai dari mana untuk membantu. Kebayang nggak lo, liat anak-anak mungutin makanan di tumpukan sampah trus dimakan? Atau ada makanan jatoh, dirubung lalat, keinjek, terus dimakan lagi? Atau tiap lo sadar lagi napas, yang bisa lo …

12 Hari Bercerita: Sebuah Prolog

Beberapa waktu belakangan, saya baca-baca tulisan lama. Mengenang aktivitas waktu bekerja pertama kali. Bekerja sebagai 'pelarian' patah hati. Mencari kesibukan melawan lupa.

Tapi saya ogah melabeli diri cari pelarian. Apalagi kerja cari duit. Maka saya dengan keras kepala menanamkan mindset "bekerja itu belajar yang dibayar". Ah rasanya malas kembali menuliskannya. Sudah terekam di Instagram.

Saya mau cerita dari sudut pandang lain.

Ternyata banyak yang terjadi dalam (hampir) 2 tahun kerja perdana sebagai creative officer di sebuah konsultan marketing yang baru berdiri. Mulai dari bikin billboard, balon udara, desain stiker mobil, TVC, jadi event organizer, trainer SPG, instruktur outbond, daaannn.. banyak lagi. Gila sih kalau dipikir-pikir!

Pekerjaan saya sekarang juga hampir 2 tahun. Dibilang nggak kerasa, namanya dusta. Soalnya KERASA BANGET JIR!!!

Mungkin karena makin ke sini saya makin 'hadir', jadi apa-apa yang kejadian nggak lewat gitu aja. Bener-bene…

Demam Dilan

Sebenernya saya udah lama pengen nulis soal ini. Tapi urung dilakukan karena yaaa.. blom mood aja. Perkara selera sih, cuma menurut saya mah Dilan ini giung. Kemanisan gitu, kayak sirup Marjan setengah botol terus ditambah susu kental manis dan satu centong gula pasir, aduk rata. Gombalannya ngilu, bikin sakit gigi.

Di berbagai lingkaran pertemanan, mayoritas suka film ini. Jadi buat kaum minoritas macem saya yang komentar "Dilan giung", reaksi mereka lucu-lucu. Misalnya soal umur. "Mungkin bukan pasarnya aja, karena itu film buat SMP/SMA."

Lalu saya mikir. Kayaknya seumuran Milea, saya lagi sibuk ekskul, les, dan organisasi. Nggak kepengen pacaran dan nggak tertarik model Dilan. Lagipula, yang sebaya saya bahkan lebih tua pun seneng-seneng aja nontonnya. Bahkan heboh fangirling. Jadi argumennya nggak valid.

Ada juga yang bales "pantesan lo jomblo, Del". Padahal yang ngomong jomblo juga :))

Nah, gara-gara bahasan Dilan nggak berujung ini, saya girang mend…

Empathy Fatigue

Kata ahli yang lainnya lagi, empathy fatigue adalah kondisi kelelahan akibat terlalu berempati. Biasanya, terjadi pada pekerja sosial atau istilahnya 'helper'. Saya nggak merasa segitu 'helper' nya, tapi masuk akal sih.

Kalau kata teman, terlalu altruistik.

Kenapa kita bisa mengalami empathy fatigue? Karena prosesnya stimultan, harus mengendalikan diri dan di saat bersamaan berusaha memahami orang lain.

Menyebalkan ketika sebetulnya saya menikmati, tapi di satu sisi barangkali memang butuh dettach dan detoks. Well, Del, kalau mau waras, coba nurut.

Tapi gimana caranya?

Desensitisasi

de·sen·si·ti·sa·si/ /des√©nsititsasi/ n Dok 1 usaha mengurangkan atau menghilangkan alergi terhadap suatu zat; 2 usaha menghilangkan suatu kompleks emosi Ketika proses desensitisasi sampai di level 'bingung-sendiri-terlalu-tenang-di-saat-harusnya-panik', kata yang ahli sih, bisa jadi karena terlalu sering mengalami (dan mengatasi) ‘krisis’ sampai nggak sensitif lagi sama emosi sendiri.

"Nggak wajar sih, Del" -seorang teman yang mulai khawatir. Iya, saya juga mulai khawatir. Kenapa ya?