Demam Dilan

Sebenernya saya udah lama pengen nulis soal ini. Tapi urung dilakukan karena yaaa.. blom mood aja. Perkara selera sih, cuma menurut saya mah Dilan ini giung. Kemanisan gitu, kayak sirup Marjan setengah botol terus ditambah susu kental manis dan satu centong gula pasir, aduk rata. Gombalannya ngilu, bikin sakit gigi.

Di berbagai lingkaran pertemanan, mayoritas suka film ini. Jadi buat kaum minoritas macem saya yang komentar "Dilan giung", reaksi mereka lucu-lucu. Misalnya soal umur. "Mungkin bukan pasarnya aja, karena itu film buat SMP/SMA."

Lalu saya mikir. Kayaknya seumuran Milea, saya lagi sibuk ekskul, les, dan organisasi. Nggak kepengen pacaran dan nggak tertarik model Dilan. Lagipula, yang sebaya saya bahkan lebih tua pun seneng-seneng aja nontonnya. Bahkan heboh fangirling. Jadi argumennya nggak valid.

Ada juga yang bales "pantesan lo jomblo, Del". Padahal yang ngomong jomblo juga :))

Nah, gara-gara bahasan Dilan nggak berujung ini, saya girang mendapati bagian diri saya yang blom berubah, yang geuleuh sama roman picisan dan menjunjung kesetaraan (bukan gender, tapi hak dan kesempatan). Ditambah, tulisan Cune, ini, dan ini. Makin girang karena ngerasa nggak sendirian.

Saya tuh kasian sama Milea. Mau-maunya aja kemakan rayuan gombal. Bukannya anti gombal, tapi kenapa oh kenapa patriarkis sekaliii? Misalnya yang paling populer:
"Rindu itu berat, kamu nggak akan kuat. Biar aku saja."

Ini maksudnya apa teh? Alih-alih unyu, kok ya kesannya cewek lemah banget? Walaupun emang kadang cewek gengsian sih, sok kuat. Makanya yang asik seharusnya begini:
"Rindu itu berat, tapi aku tahu kamu kuat. Kasih kabar saja kalau butuh bantuan."

Atau ketika Dilan kasih kado TTS ke Milea:
"Selamat ulang tahun, Milea. Ini hadiah untukmu, cuma TTS. Tapi sudah kuisi semua. Aku sayang kamu. Aku tidak mau kamu pusing karena harus mengisinya."

Ya out of the box sih, tapi sama kayak Cune, saya mah bakal sewot deh TTSnya udah diisi semua. Kayak... eh gimana? Ngeremehin kemampuan otak gitu? Minimal gini masih aman lah:
"Selamat ulang tahun, Milea. Ini hadiah untukmu, cuma TTS. Tapi maaf sudah kuisi sebagian. Aku sayang kamu. Makanya kusisakan untuk kita isi berdua."

Intinya tuh, yang namanya pasangan ya harus kerjasama. Jangan peran berdua dikerjain sendiri. Even worse, yang harusnya tiap peran punya porsinya, jadi diambil alih seolah nggak mampu.

Terus setuju banget sama poin Mbak April soal cara deketin Dilan ke Milea. Bok ya risih kali lo lagi jalan terus digodain mang-mang ngajakin naik motor barengan. Situ tukang ojek?

Belom lagi yang receh malesin kayak bagian makan kerupuk terus sama Dilan suruh bagi dua, separonya dibungkus. Melempem atuh, A. Mau-maunya Milea nurut dan malah mesem-mesem -_-

Cukup menghibur sih soalnya pemerannya cakep-cakep dan ada beberapa adegan absurd kayak adeknya Dilan kenalan terus nyebut nama panjang jadi "Dissaaaaaaaaaa.." atau ketika Wati ngeplak kepala Dilan terus merepet pakai bahasa Sunda.

Sisanya campuran kesel sama sikap Milea yang submisif plus capek sama aksi Dilan dan gombal patriarkinya yang kental. Untung saya bukan Milea. Kalau saya jadi dia, mungkin malah jengkel dan balikin berbagai gombalannya:
"Dilan yang baik, terima kasih atas limpahan perhatiannya. Tapi dengan segala hormat, maaf saya nggak bisa sama kamu. Berat, biar yang lainnya saja."

No comments:

Powered by Blogger.