Posts

Showing posts from April, 2018

Takut

"Di balik kegilaan, kenekatan, keras kepala dan ngeyel nan rebel, gw ini sebenernya penakut" -pengakuan ke seorang teman.
Jadi ada tawaran super menarik yang saking menariknya, bikin saya takut. Saya minta saran sama temen saya itu. Tanya kenapa percaya sama saya. Tanya resikonya. Lalu setelah menjelaskan dan kasih perspektif yang bikin saya makin galau, dia cuma bilang:
"Yang penting lo jujur."
Baiklah. Dia bener. Seenggaknya, saya udah jujur. Mengakui rasa takut akan berbagai resiko (yang kata teman saya cuma asumsi). Mengakui berbagai keraguan, juga keyakinan. Mengakui. Sesuatu yang kalau kata teman saya yang lainnya, udah jadi langkah awal yang bagus banget.

Ya ampun, udah lama juga nggak curhat di blog.

Tentang Menjadi Enterpreneur

Saya selalu heran ketika ada yang punya cita-cita jadi enterpreneur. Apalagi sekarang lagi zamannya start up. Gelar Founder dan CEO udah kayak tahu bulat. Digoreng dadakan langsung jadi. Bahkan, berani resign dari pekerjaan tetap untuk banting setir jadi enterpreneur.

Yearite. Terdengar keren sih. Tapi nggak buat saya. Yang saya pedulikan, bukan tentang menjadi enterpreneurnya. Tapi apa yang dilakukan dengan peran tersebut.

Masih tentang LC, saya nggak pernah kebayang ngurusin inisiatif model begini. Yang saya kebayang, ya mental 'pembantu umum' aja. Cukup bahagia dengan bisa membantu orang lain. Apalagi, kalau bisa estafet. Bantuan saya ke orang lain bisa bikin dia bisa bantu yang lainnya lagi.

Nah, kalau menjadi enterpreneur bisa berfungsi sebagai tongkat estafet kebaikan, baru deh masuk akal. Soalnya yang sering ditemukan, pengen ya pengen aja. Kurang tergali 'why' nya. Setia pada peran, padahal, yang esensial itu setia sama misinya.

Syukuri, Jangan Iri

"Makin lo paham diri lo sendiri, makin peka lo sama hal-hal yang nggak cocok dengan diri lo, jangan harap hidup lo makin mudah" -insight dalam sebuah perjalanan jeda dari ibukota Mengerjakan Limitless Campus yang berangkat dari kegelisahan pribadi, sebetulnya jadi keuntungan tersendiri. Saya tau betul apa yang sedang dikerjakan. Tapi selayaknya semua hal yang punya berbagai sisi, hal ini kadang merugikan. Saya jadi agak sulit kompromi dengan idealisme.

Saya pikir, saya hanya perlu terbiasa. Tapi ternyata, jadi makin jelas bahwa bukan perkara adaptasi. Banyak banget kejadian di mana saya segitu terganggunya dengan hal-hal yang nggak 'satu frekuensi'.

Kenapa rasanya 'salah' banget? Apakah saya perlu bikin yang 'salah' jadi 'benar' atau biarin aja? Toh salah-benar itu relatif, kan? Pertanyaan ini menggantung nggak terjawab.

Penampakan luarnya mungkin nggak keliatan, dan bukan pura-pura juga. Saya benar-benar berusaha fit in. But I just can't…