Syukuri, Jangan Iri

"Makin lo paham diri lo sendiri, makin peka lo sama hal-hal yang nggak cocok dengan diri lo, jangan harap hidup lo makin mudah" -insight dalam sebuah perjalanan jeda dari ibukota
Mengerjakan Limitless Campus yang berangkat dari kegelisahan pribadi, sebetulnya jadi keuntungan tersendiri. Saya tau betul apa yang sedang dikerjakan. Tapi selayaknya semua hal yang punya berbagai sisi, hal ini kadang merugikan. Saya jadi agak sulit kompromi dengan idealisme.

Saya pikir, saya hanya perlu terbiasa. Tapi ternyata, jadi makin jelas bahwa bukan perkara adaptasi. Banyak banget kejadian di mana saya segitu terganggunya dengan hal-hal yang nggak 'satu frekuensi'.

Kenapa rasanya 'salah' banget? Apakah saya perlu bikin yang 'salah' jadi 'benar' atau biarin aja? Toh salah-benar itu relatif, kan? Pertanyaan ini menggantung nggak terjawab.

Penampakan luarnya mungkin nggak keliatan, dan bukan pura-pura juga. Saya benar-benar berusaha fit in. But I just can't. Ibaratnya nih ya, lo punya indera keenam. Trus lo sengaja mengasahnya, supaya lo terbiasa liat hantu yang menurut lo serem banget. Yang ada, lo makin ketakutan.

Tapi di sisi lain, dengan lo bisa liat hantu, lo bisa nolong lebih banyak orang yang digangguin hantu jahat. Juga nolong hantu-hantu yang nggak jahat, cuma butuh dibantu aja. What you do really gives impact.

Tiap rapat mingguan, yang saya lakukan dengan tim adalah refleksi diri. Apa hal baru yang dipelajari, apa yang disyukuri, apa yang bisa diperbaiki, juga trivia lainnya. Rapatnya bisa seharian, lama di refleksi. Yang beneran bahas kerjaan paling lama juga sejam.

Saya cuma pengen budaya reflektif mengakar di tim LC. Bergerak di bidang pendidikan, ngasih wadah belajar buat orang lain, ya harus walk the talk. Timnya juga harus mau belajar, terutama buat memahami diri sendiri.

Lalu gara-gara pembiasaan ini, saya makin bisa dengan mudah tau mana yang paling relevan buat saya dan tim, juga LC sebagai lembaga yang menaungi.

Bahkan saya sempat 'panik'. I can really picture the vision. Like... crystal clear.

Trus 'numpang panik' ke temen yang bisa dipercaya, dia malah bingung. "Kenapa lo panik? Bagus dong?" Trus saya yang bingung. Ya siapa juga yang nggak panik? Ibaratnya ada canvas kosong nih, tapi yang lo liat adalah gambar pemandangan. Bahkan bisa gerak dan ada suaranya. Gimana coba ngejelasinnya ke orang lain?

Apalagi, ketika lo pengen bilang "bok, kalau diterusin dengan cara X, gw nggak yakin hasilnya sesuai sama yang kita bayangkan" tapi nggak bisa membuktikan. That so called gut feeling is real.

Saya ngerti, nggak semua orang seberuntung saya. Gila kali kalau nggak bersyukur. Tapi nggak perlu iri. Apa yang nggak lo punya, bisa jadi sebenernya berkah. Sebaliknya, apa yang lo punya, barangkali dikasih Tuhan sebagai ujian.

No comments:

Powered by Blogger.