Posts

Showing posts from May, 2018

Mati Rasa

Tau rasanya mati rasa? Misalnya duduk bersimpuh sampai jari-jari kaki geli nggak nyaman, yang kalau dicuekin, ditoel-toel nggak kerasa apa-apa.
Atau pegang es batu terlalu lama sampai kebas, nggak bisa merasakan ujung jari tangan sendiri ketika disentuh.
Satu-satunya cara untuk meredakan mati rasa adalah dengan memberi jeda. Untuk selonjoran. Untuk gosok-gosok telapak tangan atau menghangatkan jari di depan perapian.
Untuk sedikit lebih panik dan cemas, alih-alih menjadi semakin tenang ketika situasi ada di luar kendali.
Untuk menjauh dari bahaya, bukan malah mendekati sumbernya.

Unsolved Business

Sebagai orang yang mengutamakan clarity, selalu bingung sama orang-orang yang seneng banget ngegantungin keputusan.
Penasaran. Apa enaknya menunda nggak menjawab, padahal pertanyaan yang diajukan jelas-jelas mendesak untuk dijawab? Bukannya malah jadi ngerasa dihantui ya?
Apa enaknya menghindari konflik ketika konflik nggak terhindarkan? Malahan, semakin menghindar, semakin nggak beres-beres.
Padahal jawab tinggal jawab. Atau kalau emang butuh waktu, tinggal bilang, kapan tenggatnya. Biar gimanapun, berkomunikasi secara terbuka selalu menjadi pilihan yang lebih baik ketimbang diem aja, seolah nggak ada masalah.
Yaudalah ya, Del. Seenggaknya lo udah cukup gagah untuk berani bertanya, memulai percakapan.
The rest, it's not your business nor your fault, though you know it's still unsolved business and you (indirectly) contribute small part to the mess. At least you're being responsible. Don't feel guilty for no reason -_-

Yakin?

Beberapa hari lalu, saya main ke Jepang, berkunjung ke sebuah lembaga belajar yang menyebut diri democratic university.
Iya, seniat itu bela-belain banget karena saya mau meyakinkan diri kalau apa yang dikerjakan sekarang memang apa yang mau saya kerjakan.
Namanya Shure University. Sudah berdiri selama 11 tahun. Biarpun namanya universitas, tapi Shure ini nggak dapet pengakuan dari pemerintah karena nggak kasih gelar. Belajar ya belajar aja.
Sebagai penganut mahzab demokratis, di Shure, semuanya ditentukan secara terbuka. Uang pangkal hasil kesepakatan bersama. Kurikulum nggak ada, karena muridnya ngerancang sendiri study plan selama setahun. Bahkan lulusnya pun nggak ditentukan dosen, tapi memutuskan sendiri kapan.
Walaupun, tetep ada tuh semacam 'sidang skripsi' dan ada sesi diskusi intens, menguji kesiapan murid tersebut untuk kembali ke masyarakat.
Menariknya lagi, ada yang namanya "Clapping of Destiny" di mana orang-orang yang nonton 'sidang' tersebut k…

Perspektif

Dulu punya cita-cita berkarir jadi copywriter, sampai ambil jurusan iklan pas kuliah. Nggak kesampean, tapi punya banyak kesempatan main kata walau bukan di agensi.
Dulu pengen banget jadi penari, sampai ikut kursus jazz ballet, UKM tari, color guard, dsb. Nggak kesampean, tapi punya banyak kesempatan nari walau bukan penari profesional.
Dulu pengen banget kerja pake baju kantor keren, ala ala wanita karir eksekutif muda gitu. Nggak kesampean, tapi punya banyak kesempatan interaksi dengan korporat walau jenjang karirnya nggak ke sana.
Dulu nggak pernah kebayang jadi konsultan pemasaran, ngurusin agenda sains bareng para profesor, jadi guru di pedalaman, kerja di pemerintahan, terlibat kampanye politik, bahkan jalanin bisnis.
Kalau kekeuh sama 'menjadi apa', pasti bawaannya kesel, nyesel. Tapi kalau ubah perspektif 'membantu (si)apa', peran tuh jadi nggak terlalu signifikan. Karena bisa gonta-ganti seabsurd itu.
Kalau terus-terusan ngiri, nggak bakal ngeh tuh bahwa apa…

Abu-abu

Di dunia ini, yang hitam-putih bisa jadi seperti catur. Saling makan satu sama lain. Tiap langkah dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh strategi.
Lalu bagaimana kalau Sang Ratu mendadak jadi abu-abu? Mungkinkah bisa mencegah yang hitam-putih jadi abu? Mungkinkah permainan terjaga abadi, tak ada Raja yang mati?

Motivasi

"Gw nggak percaya motivasi tertinggi seseorang melakukan sesuatu karena cinta." Berawal dari rasa penasaran apa yang menjadi motivasi seseorang melakukan sesuatu, pernyataan ini menjadi kalimat pemecah keheningan setelah saya bertanya: "Kenapa lo memutuskan melakukan sesuatu yang lo tau resikonya besar?"
Pertanyaan 'kenapa' barangkali memang serumit itu untuk dijawab, dan bisa jadi malah mengintimidasi.
Teman saya asal menyahut: "Lo nggak harus suka sama orangnya, untuk kerjasama kan?"
Dan saya hanya senyum, menahan diri untuk nggak balik komentar.