Posts

Showing posts from August, 2018

Intuisi

Menarik, ketika keyakinan memulai sesuatu sama besarnya dengan saat menyudahi hal tersebut. Hal besar, berat, tapi yaaa.. terasa benar aja. Nggak ada penyesalan, nggak juga main salah-salahan. Semua baik dan membaikkan.
Konteksnya apa nih, Del? Hehe, apa aja bisa sih. Tapi saya mau cerita pengalaman beberapa waktu belakangan.
Jadi, saya impulsif belajar tarot. Awalnya sih karena mengernyit saat dapat info tentang workshop tarot yang katanya bisa bantu mengasah intuisi. Ah, masa sih? Lalu saya putuskan daftar kelasnya, supaya nggak langsung menghakimi dan skeptis. Mau membuktikan aja, bener apa nggak.
Dalam kelas itu, tiap orang dipersilakan punya interpretasi bebas terhadap kartu yang muncul. Saya mikirnya ini mah ilmu cucoklogi aja. Barnum Effect. Tapi nggak bisa dipungkiri, ternyata saya menikmati. Hahaha.
Lagian, kalau saya bisa menikmati dan nggak malu mengakui kalau saya suka cucoklogi karakter orang sama zodiak, yang dikombinasi sama berbagai konsep lainnya seperti DISC Assessm…

Happy (very belated) Birthday, Cune!

"I think I have problem. Punya rekomen temen psikolog atau siapa pun yang bisa dikontak nggak?" Dengan mata yang masih sembab, saya kirim pesan pada seorang teman.
"Sama gw mau ngga?" Dia menawarkan diri. Namanya Cune. Teman dengan banyak lingkaran yang beririsan tapi nggak pernah bener-bener ada dalam satu lingkaran. Teman refleksi paling menyenangkan yang menemani perjalanan metamorfosis diri bertahun-tahun. Salah satu go-to person kalau butuh bantuan. Dalam konteks ini, dukungan moral. Bahkan kalau saya nggak cerita pun, dia yang nanya duluan.

Saya yakin Cune akan baca tulisan ini, dan memang saya tulis sepenuh sadar untuk dibaca. Mungkin akan canggung kalau dibahas, haha, tapi nggak apa-apa lah. Tulisan ini emang spesial buat Cune.

Tahun lalu, Cune genap kepala tiga. Tahun ini belum ulang tahun lagi. Jadi entahlah ini sebetulnya kado yang kelamaan apa kecepetan. Bahahahaha. Tapi anggep aja kelamaan karena saya juga sebetulnya nulisnya tahun lalu. Cuma ngejog…

Kenapa Manusia Butuh Pengakuan?

Di suatu obrolan siang bareng tim LC, teman saya bilang kalau dia pernah punya tujuan hidup punya banyak uang dan dapat pengakuan. Saya tanya, "kenapa lo butuh pengakuan?" dia bilang ya karena menyenangkan, lo diakui banyak orang.

Oke baiklah. Saya belum paham, tapi mungkin karena saya nggak ngalamin aja.

Lalu dia melanjutkan, "...tapi ada satu momen di mana gw sadar bahwa tujuan cari uang sebanyak-banyaknya itu nggak abadi. Lo mati juga nggak bawa apa-apa. Cari pengakuan dari orang lain juga nggak abadi. Makanya, sekarang tujuan gw ya ngelakuin apapun buat cari pengakuan Allah."

Selesai dia cerita, saya nggak bisa berkata-kata selain WOW! WOW! Dan WOW!

Sebagai orang yang nggak terlalu religius tapi percaya 'sesuatu yang lebih besar dari kuasa manusia', iming-iming surga jadi masuk akal, karena yang dicari ya pengakuan Tuhan-nya. Dan ketika ada orang yang bilang takut dosa dan masuk neraka, bisa jadi mereka sebenernya takut nggak diakui Dia.

Hmm..

Terus say…

Standar yang Nggak Standar

Belakangan, saya baru ngeh bahwa kebanyakan masalah yang saya alami ternyata berpusat pada standar yang berbeda dengan ortu, terutama mama. Mungkin selama ini tau (YA IYALAH) tapi nggak betul-betul mengakui. Nganggepnya "yaudalah, emang begitu. Kalau nggak berantem malah aneh".

Mulai dari hal sederhana seperti beberes rumah. Ini selalu jadi momok bagi saya, karena standar beres saya adalah nggak terlalu berantakan. Sementara bagi mama, standar beres adalah saat semua rapi jali.

Nggak heran, mama sering ngomel apa yang saya kerjakan nggak pernah beres dan saya membela diri "udah beres semua kok". Kalau lagi sensitif, saya merasa minim apresiasi, sementara mama merasa mengerjakan semuanya sendirian.

Solusinya adalah mempekerjakan Mbak (kalau sekarang, Si Mbak maunya dipanggil Teteh). Tapi tetep aja, drama pekerjaan domestik kembali terjadi kalau Si Teteh pulang kampung.

Nah, ini baru urusan rumah. Urusan pendidikan, karir, dan standar kesuksesan pun jauh berbeda. Ten…

Jeda

"Kayaknya gw butuh jeda karena 2 tahun belakangan nggak punya waktu buat berduka deh"
Penemuan baru ini saya ungkapkan dalam rapat internal Limitless Campus pada Rabu lalu. Iya, rapat kami kadang-kadang emang se-personal itu. Nggak melulu soal kerjaan.
Saya baru benar-benar sadar bahwa keinginan besar untuk 'meledak' ternyata akar masalahnya adalah saya seringkali buru-buru lompat ke solusi. Jadinya diredam abis-abisan deh gejolak emosi yang lagi dirasakan.
Hal ini juga menjawab keanehan seperti "kenapa gw mati rasa? Kenapa gw tenang banget di saat seharusnya panik? Kenapa gw mempertanyakan banyak hal yang keliatannya baik-baik aja?"
Teman saya ada yang pernah bilang, siklus 4 tahun libur panjang tuh penting banget. Kalau dipikir-pikir, libur terpanjang saya ya 2012. Itu pun terpaksa karena patah kaki. Ya mau gimana lagi kan. Mau ngapa-ngapain juga nggak bisa -_-
Setelah itu, kayaknya tancap gas teruuusss. Istirahat sebentar, belum pol, udah ngebut lagi. …