Intuisi

Menarik, ketika keyakinan memulai sesuatu sama besarnya dengan saat menyudahi hal tersebut. Hal besar, berat, tapi yaaa.. terasa benar aja. Nggak ada penyesalan, nggak juga main salah-salahan. Semua baik dan membaikkan.

Konteksnya apa nih, Del? Hehe, apa aja bisa sih. Tapi saya mau cerita pengalaman beberapa waktu belakangan.

Jadi, saya impulsif belajar tarot. Awalnya sih karena mengernyit saat dapat info tentang workshop tarot yang katanya bisa bantu mengasah intuisi. Ah, masa sih? Lalu saya putuskan daftar kelasnya, supaya nggak langsung menghakimi dan skeptis. Mau membuktikan aja, bener apa nggak.

Dalam kelas itu, tiap orang dipersilakan punya interpretasi bebas terhadap kartu yang muncul. Saya mikirnya ini mah ilmu cucoklogi aja. Barnum Effect. Tapi nggak bisa dipungkiri, ternyata saya menikmati. Hahaha.

Lagian, kalau saya bisa menikmati dan nggak malu mengakui kalau saya suka cucoklogi karakter orang sama zodiak, yang dikombinasi sama berbagai konsep lainnya seperti DISC Assessment, MBTI Indicator, Four Temperament Theory, golongan darah, dsb, kenapa yang beginian pakai gengsi segala? Anggep aja belajar hal baru. Nggak ada salahnya kan? Toh ngebaca buat diri sendiri, bukan buat sotoy ke orang lain.

Sepulang dari kelas itu, akhirnya saya beli salah satu tarot punya gurunya. Karena buku panduan manualnya nggak ada, makin bebas deeeh belajar melatih intuisi. Supaya perkembangannya bisa kelihatan, saya catat tiap hari kartu apa yang saya dapat dan interpretasinya gimana.

Emang kesannya nggak masuk akal sih. Tapi ada aja gitu kartu yang muncul terus, padahal udah dikocok 3x. Trus ya kayak yang tadi saya bilang. Ternyata saya menikmati banget cucoklogi kartu. Misalnya nih saya pilih 3 kartu, trus meniatkan apa pun yang terbaca, percaya aja itu kode-kode semesta yang bertebaran. Percaya bahwa semua petunjuk yang dihadirkan tuh mengarahkan pada hal-hal baik. Bukan jadi musyrik lalu menuhankan kartu loooh! Anggep aja proses nyusun puzzle.

Dari situ, kepingan-kepingan keyakinan mulai muncul. Yang tadinya ragu mengambil keputusan, khawatir ini-itu, jadi mantap aja. Kalaupun nantinya berubah, ya gpp juga, selama percaya bahwa kita yang pegang kendali terhadap diri sendiri. Kita yang bertanggung jawab sama apa pun pilihan yang diambil. Semua lelah, semua punya konsekuensi. Tergantung kita mau pilih, berlelah-lelah untuk apa?

Saya baru ngeh gitu. Selama ini saya mengabaikan intuisi "kok kayaknya ada yang salah ya?" karena nggak bisa menjelaskan dengan baik. Ternyata akar masalahnya adalah karena saya bahkan nggak percaya kalau saya pegang nilai-nilai hidup yang kuat banget, jadinya yang kerasa salah itu tuh sebetulnya alarm yang mengarahkan saya memutuskan untuk melepas demi memperjuangkan sesuatu yang lebih pas.

Gila sihhh.. bisa-bisanya kompromi nilai demi dianggap nggak idealis-idealis amat. Padahal idealisme itulah yang mendasari berbagai keputusan penting di hidup saya.

Intinya, walaupun nggak punya peta, kalau masih punya kompas, biarpun meleset dan nyasar-nyasar, harusnya masih aman. Masih bisa kembali pada nilai-nilai yang diyakini benar. Dan semua orang punya kompasnya kok, namanya intuisi. Cuma emang agak peer sih bacanya :))

Comments