Jeda

"Kayaknya gw butuh jeda karena 2 tahun belakangan nggak punya waktu buat berduka deh"

Penemuan baru ini saya ungkapkan dalam rapat internal Limitless Campus pada Rabu lalu. Iya, rapat kami kadang-kadang emang se-personal itu. Nggak melulu soal kerjaan.

Saya baru benar-benar sadar bahwa keinginan besar untuk 'meledak' ternyata akar masalahnya adalah saya seringkali buru-buru lompat ke solusi. Jadinya diredam abis-abisan deh gejolak emosi yang lagi dirasakan.

Hal ini juga menjawab keanehan seperti "kenapa gw mati rasa? Kenapa gw tenang banget di saat seharusnya panik? Kenapa gw mempertanyakan banyak hal yang keliatannya baik-baik aja?"

Teman saya ada yang pernah bilang, siklus 4 tahun libur panjang tuh penting banget. Kalau dipikir-pikir, libur terpanjang saya ya 2012. Itu pun terpaksa karena patah kaki. Ya mau gimana lagi kan. Mau ngapa-ngapain juga nggak bisa -_-

Setelah itu, kayaknya tancap gas teruuusss. Istirahat sebentar, belum pol, udah ngebut lagi. Padahal alam udah ngasih kode buat jeda.

Yang paling keciri ya pas reshuffle. Seharusnya itu jadi momen paling tepat untuk 'napas dulu'. Rasakan nyesek, marah, nggak adil, sedih, dan berbagai perasaan negatif yang muncul.

Baru deh setelah 'sirkus emosi' tersebut surut, biarkan berlalu. Tapi malah saya cuekin, ngelongkap proses krusial 'merasakan rasa' sebelum 'melalukan rasa'.

Cuma yaaa.. nyesel nggak ada gunanya kan. Seenggaknya saya akhirnya sadar, nggak menyangkal. Lagipula, kalau bisa putar waktu, saya nggak mau mengubah apa pun sih.
Intinya mah, kalau kayaknya mulai ngerasa 'perasaan nggak enak', coba perbanyak ngobrol sama diri sendiri. Tanya, ada apa? Karena intuisi itu kuncian untuk membaca kode alam. Dan cara bacanya ya lewat jeda.

Selalu ada waktu kok buat berduka, sebagaimana mengeluh nggak selalu dosa. Nggak juga melulu harus usaha.

Jeda aja.

No comments:

Powered by Blogger.