Standar yang Nggak Standar

Belakangan, saya baru ngeh bahwa kebanyakan masalah yang saya alami ternyata berpusat pada standar yang berbeda dengan ortu, terutama mama. Mungkin selama ini tau (YA IYALAH) tapi nggak betul-betul mengakui. Nganggepnya "yaudalah, emang begitu. Kalau nggak berantem malah aneh".

Mulai dari hal sederhana seperti beberes rumah. Ini selalu jadi momok bagi saya, karena standar beres saya adalah nggak terlalu berantakan. Sementara bagi mama, standar beres adalah saat semua rapi jali.

Nggak heran, mama sering ngomel apa yang saya kerjakan nggak pernah beres dan saya membela diri "udah beres semua kok". Kalau lagi sensitif, saya merasa minim apresiasi, sementara mama merasa mengerjakan semuanya sendirian.

Solusinya adalah mempekerjakan Mbak (kalau sekarang, Si Mbak maunya dipanggil Teteh). Tapi tetep aja, drama pekerjaan domestik kembali terjadi kalau Si Teteh pulang kampung.

Nah, ini baru urusan rumah. Urusan pendidikan, karir, dan standar kesuksesan pun jauh berbeda. Tentu banyak faktor yang mempengaruhi.

Pertama, definisi sukses.

Versi mama: sebagai generasi X, persepsi sukses buat mama adalah dapat gaji besar, bisa beli rumah, mobil, dan berbagai materi lainnya.

Versi saya: yang utama bukan mengejar stabilitas materi, tapi kebermanfaatan. Buat saya, sukses itu ketika apa yang saya lakukan bener-bener bisa bawa perubahan. Percuma gaji besar dan materi belimpah kalau jadi bagian dari masalah, bukan solusi.

Kedua, definisi bekerja.

Versi mama: pekerjaan mama dari lulus kuliah, nikah, lalu sampai sekarang adalah PNS. Buat mama, perempuan memang harus bisa mandiri dan punya pekerjaan. Tapi pekerjaannya pun harus jelas: ada kantor, tiap bulan digaji cukup, ada rutinitas berangkat pagi pulang sore. Kalau bisa, nggak ada resiko dipecat dan pensiunpun ditanggung seumur hidup.

Versi saya: pertimbangannya simpel, saya mau mengorbit pada orang-orang yang bekerja pakai hati dan penuh energi. Jadi yang saya lihat duluan adalah siapa bosnya. Jelas beda banget dooong sama definisi kerja kantoran 9-5. Bahkan 'kantor' saya adanya di ponsel dan laptop, makanya kadang kelihatan nganggur di rumah, kadang pulang larut malam.

Ketiga, jenjang karir.

Versi mama: pilihan karir yang ideal adalah yang linear. Sekolah, lulus jadi sarjana, bekerja, menikah. Bekerja pun yang 'normal' ya di pemerintah atau swasta yang jelas jenjang karirnya.

Versi saya: entah bagaimana, saya selalu dipertemukan dengan jenis karir yang nggak berjenjang karena biasanya peran saya 'babat alas'. Jadi, boro-boro ada jenjangnya, wong struktur organisasi bahkan baru dibentuk.

Dan sebagainya.

Contoh lain deh. Saya maunya SMA di sekolah yang nggak favorit tapi gaul. Mama malah daftarin di SMA favorit (yang saya nggak mau) karena NEM saya bagus. Jadinya saya masuk situ. Nyeselnya masih sampai sekarang, kenapa saya nggak daftar sendiri aja. Kenapa pasrah diurus semuanya sama mama.

Atau waktu kuliah, saya maunya ambil D3 yang langsung praktek. Mama menentang habis-habisan. Harus S1 katanya. Saya akhirnya ngalah, lalu pilih jurusan yang sesuai minat tapi di Bandung. Mama nyuruhnya jadi pilihan kedua karena passing grade-nya lebih rendah dari yang di Depok. Eh taunya saya malah keterima yang di Depok. Padahal, kalau di Depok mah D3 aja sekalian, pikir saya waktu itu.

Mau luluspun drama dulu. Saya bersikeras mau TKA, bukan skripsi. Kali ini mama yang akhirnya mengalah, karena yaudah yang penting lulus. Hahaha. Okelah, kali ini mari kompromi walaupun nggak kompromi-kompromi amat karena mama masih tetep bilang "kamu nanti susah lanjut sekolah lagi kalau nggak skripsi." FYI, mama saya gelarnya master.

Bahkan nih yaaa.. mama kan peneliti yang kerjaannya dinas keliling Indonesia. Hobinya blusukan ke desa-desa terpencil. Terus waktu saya jadi Pengajar Muda, mama yang paling keras protes "ngapain? Lama banget setahun!" Lah kok bisa-bisanyaaa.. anaknya nggak dibolehin ngajar setahun doang, padahal mama sendiri keliling Indonesia udah puluhan tahun -_-

Akhirnya bikin kesepakatan bahwa mama (plus papa dan 2 adik saya) mau mampir ke desa tempat saya mengajar. Bayarannya harga diri bececeran. Tengsin lah jir! Tapi yaudalah, daripada nggak mencapai mufakat, kan?

Kalau diingat lagi, dada sesak dan tenggrokan tercekat. Saya masih nggak ikhlas ternyata untuk menerima bahwa hidup saya dipilihkan, cuma karena standar yang nggak standar. Tapi yaaa.. suka nggak suka, udah lewat bertahun-tahun juga.

Yang bisa saya lakukan sekarang adalah menjalani apa yang sudah berjalan, juga menerima segala konsekuensinya. Kalau mama protes, marah-marah, dan sebagainya, yaudah. Anggep aja bagian dari konsekuensi bahwa yang sekarang berjalan tuh nggak masuk standar mama.

Toh kayaknya mama juga lagi 'berjuang' memahami anaknya ini, yang makin ngeyelan dan keras kepala banget. Maaf ya ma. Della udah cukup jadi penurut dengan mengikuti standar yang standar. Sekarang Della mau ikut standar yang Della bikin sendiri.

Dan Del, cuma mau ngingetin. Kalau pun usulan mama pas buat lo, akui aja kalau emang lo sepakat. Nggak usah gengsi. Mama nyuruh kuliah lagi, lo juga sebetulnya mikirin hal yang sama kan, bahkan dari bertahun-tahun yang lalu. Kalau doanya mama "kamu lanjut S2 dong, jodoh kamu ada di situ" yaudah aamiin aja. Nggak usah ngerasa tersinggung.

Intinya, kalau standar lo yang nggak standar dan standar mama yang standar papasan di tengah jalan, ya jalan bareng gpp juga kan? Kali-kali akur ;)

Comments