Feedback 2018

"Del, lo ngapain niat banget sampe bikin feedback form segala?"

Jadi, dalam bulan ini, saya minta ke beberapa orang yang selama setahun ini pernah bekerjasama lewat Survey Monkey.

Sebetulnya saya cukup selektif memilih siapa yang saya ingin tanya feedbacknya. Tapi kali aja ada yang iseng mampir ke blog ini dan pengen kasih feedback juga, dengan senang hatiii.. diterima. Linknya di:

Sini.

Kembali ke pertanyaan teman saya itu, kalau ditanya alasan, simpel. Saya memang terbiasa meminta feedback. Masalah mentalitas aja sih. Buat saya, mentalitas evaluasi itu penting. Percuma bikin sesuatu kalau nggak tahu apa yang udah baik dan perlu diperbaiki. Dan kadang, ini nggak bisa kita sendiri yang menentukan. Butuh masukan dari luar juga.

Sayangnya, banyak saya temukan orang-orang yang habis selesai sebuah kegiatan tuh yaudah kelar aja. Laporan evaluasi cuma formalitas. Boro-boro kasih feedback antar tim. Yang ada selebrasi macem acara pembubaran panitia :))

Nggak salah sih. Cuma buat saya, acara ngumpul-ngumpul pasca kegiatan tuh ya kurang afdol kalau nggak ada evaluasi, masing-masing individu nggak berbagi lesson learned-nya, dan saling kasih feedback. Tapi mungkin karena belum membudaya aja kali yaaa.. Jadi yaudah, saya mulai aja dari diri sendiri dulu.

Kebiasaan ini berjalan secara organik, jadi saya sendiri susah menentukan mulai dari kapan dan apa asal usulnya. Tapi makin ke sini emang makin terstruktur, contohnya lewat Survey Monkey ini.

Beberapa jawaban bikin saya senyum-senyum sendiri karena geer. Masa sih saya segitunya? Kayaknya biasa aja deh. Ada juga yang cuma kayak validasi, karena saya udah tahu. Tapi ada yang cukup nampol, contohnya pesan yang berbunyi:

"Stop asking people personal feedback and start your own business, then let market tells how good (or bad) you are."

Dengan kata lain: cari feedback dari karya lo. Nggak usah sibuk sama personal development mulu. JLEB #1.

"Gw kagum betapa keras kepala lo. Gw yakin apa yang lo lakukan pasti berhasil kalau lo tetep keras kepala."

Saya selalu merasa watak ini negatif, harus saya ubah. Baru kali ini ada yang mengagumi sesuatu yang saya justru nggak suka dari diri saya sendiri. Jadi feedback-nya seolah ingin menyampaikan pesan bahwa apa yang kita pikir sebagai kelemahan, bisa jadi sebetulnya kekuatan. JLEB #2.

"You have such great talent and abundance network. You just have to move forward."

Intinya, keberanian melangkah, karena 'aset'nya udah ada, tinggal menunggu dimanfaatkan. JLEB #3.

Dua feedback terakhir nggak disampaikan lewat tulisan, tapi lisan. Ini hal menarik lainnya dari meminta feedback. Ada orang-orang yang justru memilih untuk meluangkan waktu dan menyempatkan ketemu saya one on one hanya untuk memberi feedback.

It might be just a light chit-chat, but it warmed my heart, knowing that some people were willing to do extra mile for this simple request: feedback. It made me feel really blessed and appreciated.

Saya masih dalam proses menyaring, merangkum, mencerna, dan menempatkan masukan sesuai konteks, tapi satu hal yang nyata terasa ketika kita meminta pendapat dari orang lain adalah perasaan menyenangkan ketika mereka terlihat lega dan senang pendapatnya didengar.

So the feeling is indeed mutual :)

Comments