#13 Confessing

Disclaimer: this post will be so cheesy you can even make pizza out of it. Honestly speaking, I fear to death that anyone will read this, but obviously there will be. It's a public space anyway. But I feel like writing, thus I write. Sooo.. here I present you my longlife drama. Enjoy the show!

Hai Tuan,

Apa kabar? Aku sebenarnya mau pengakuan. Langsung saja ya, aku tak mahir basa-basi. Jadi begini. Aku punya beberapa tokoh yang kusebut Tuan, tapi ujung-ujungnya, yang paling spesial cuma kamu. Aku sampai kesal sendiri karena ini bukan cuma gombal. Tapi kupikir, tak apa juga. Toh begitu juga sebaliknya. Kamu punya banyak tokoh yang kau sebut Nona, tapi bagimu, aku masih berkesan kan? Akui saja ;p

Omong-omong Tuan, kamu tahu kan kamu menyebalkan? Sangat bahkan! Aku cari kamu terus, tapi kamu susah ditemui. Ya salah aku juga sih, mencari lewat telepati. Mana sampai? Memangnya kamu alien? Iya sih, mirip. Haha.

Tapi yang mungkin tak kamu tahu, aku tak kalah menyebalkan. Aku sekeras kepala itu untuk tidak menyerah. Aku butuh mencari apa yang ingin ku cari dari kamu. Lalu yang aku temukan adalah rasanya waktu sayang banget sama kamu. Perasaan sayang tulus ini yang berharga, walaupun tiap kali hadir bak gelombang tsunami, ia selalu berhasil memporak-porandakan jam tidur dan selera makanku.

Biasanya setelah surut, doa, rindu, dan ungkapan syukur pernah dipertemukan denganmu itu kutitipkan pada Semesta, memasrahkan pada bagaimana Dia bekerja.

Sayang, umm.. maksudku, Tuan, aku tak tahu racauan ini gunanya apa. Yang aku tahu, aku mau peduli lebih banyak pada diriku, supaya peduli padamu rasanya tak terlalu menyakitkan. Dan untungnya, sekarang aku lebih bisa mengendalikan itu. Aku belajar giat untuk mengenali dan mengakui 'rasa'.

Kalau menyadari sejauh ini aku berkembang, aku jadi bangga pada diriku sendiri. Aku merasa makin naik level. Aku sudah bisa lebih sayang pada diriku. Jadi, kalau pun aku masih sayang sama kamu, hal itu takkan lagi menggangguku. Lagipula, kamu gangguan terbaikku kok!

Kamu tahu, mendoakanmu itu ibarat hujan turun. Ia jatuh, tapi tak pernah mengeluh. Karena ia tahu, tugasnya adalah terus memberi pada bumi pertiwi. Nanti juga ia naik lagi ke langit, lalu turun lagi. Begitu terus siklusnya. Ia takkan kehabisan dirinya.

Begitu juga denganku. Mungkin tugasku adalah menyayangimu selalu. Stok sayang ini sepertinya takkan habis karena didaur ulang terus seperti siklus hujan. Bedanya, kalau hujan berhenti bertugas maka dunia kiamat, kalau aku berhenti bertugas, aku yang kiamat. Jadi, apa boleh buat, kan?

Intinya, terima kasih, Tuan! Semoga kamu sehat dan bahagia selalu, dengan siapa pun Nona-mu.

Salam sayang,
Nona

Comments