Avoidant vs Anxious (part 2)

Melanjutkan postingan sebelumnya, hari Sabtu (09/02) lalu, akhirnya Mendadak Kelas #2 sukses dilaksanakan.

Yang nggak sukses adalah jumlah peserta yang jauh dari target 20 orang. Tapiii.. peserta yang sedikit ternyata bikin sesinya lebih intim dan intens.

Blessing in disguise.

Pertanyaan "apa yang harus dilakukan untuk menjadi lebih secure, baik bagi yang cenderung avoidant maupun anxious?" juga terjawab, walaupun belum benar-benar diresapi dan diinternalisasi.

Apa aja tuh langkah-langkah dan tipsnya? Menurut penjelasan Tian:

1. Learn your behavioral patterns.
2. Overcome withdrawals symptoms.
3. Value small wins.
4. Embrace yourself.

Supaya gampang inget, disingkat jadi LOVE. Eaaa..

Kalau contoh yang gw tulis di postingan lalu adalah Della dan tipikal respon "yaudalah ya".

Ini peer banget sih. Karena agak nyaru antara menghindari konflik sama ikhlas ketika ada hal-hal yang terjadi di luar kendali.

Tapi dengan mempelajari "pola 'yaudalah ya' gw nih biasanya yang cenderung menghindari konflik yang kayak apa sih?", gw udah bisa maju ke langkah berikutnya "oooh.. ketika gw ngerasa nggak nyaman karena gengsi mengutarakan perasaan toh".

Selanjutnya, kalau berhasil nggak gengsian, pukpuk diri sendiri "good job, Del".

Terakhir, kalau ternyata masih susah buat nggak gengsian atau respon orang berbeda padahal kita udah mencoba terbuka dan menjadi vulnerable, ya gpp juga. Semua butuh proses. Coba lagi lain kali.

Pada perjalanannya, emang nggak seideal itu sih. It's a messy process. Tapi justru di situ seninya, kan? ;p

Comments