Avoidant vs Anxious (part 1)

Jadi ceritanya, beberapa waktu terakhir, gw 'dihantui' masa lalu karena mimpi bersambung yang entah gimana frekuensinya intens sampai gw suka takut tidur. Takut mimpi lagi, karena bangunnya nggak enak.

Akhirnya coba cari tahu sendiri akar masalahnya, merumuskan solusi, dan kayaknyaaa.. mulai ketemu. Masih menerka-nerka sih, cuma lumayan lah. Seenggaknya nggak ngeblur.

Salah satu yang cukup membantu adalah skripsi temen gw tentang kaitan love style dengan adult attachment.

Seperti halnya dulu gw mencari jawaban sampai bikin artikel psikologi pop berbasis jurnal tentang kenapa susah move on dari mantan, si temen ini (mari sebut saja Tian --memang nama sebenarnya--) pun demikian. Dia bikin skripsi untuk terapi (kalau dia menyebutnya 'berobat jalan').

Tian dari dulu pengen banget bikin workshop tentang skripsinya itu, tapi ketunda terus. Setelah gw dorong-dorong buat cus eksekusi, meyakinkan bahwa sesinya akan bermanfaat buat banyak orang, akhirnyaaa~ kejadian juga rencana workshopnya di bawah payung "Mendadak Kelas (vol 2)".

Selama proses merumuskan materi, gw dan Tian banyak berefleksi dari pengalaman pribadi, terutama bagaimana respon ketika bertemu masalah.

Terlepas (walaupun terkait) dari urusan cinta-cintaan, gw menyadari bahwa gw punya kecenderungan avoidant, sementara Tian anxious.

Bukan polarisasi yang ekstrem gitu sih, lebih ke spektrum. Kadar avoidant dan anxiety orang bisa beda-beda. Tinggal mana yang lebih dominan.

Contohnya, gw dan tipikal respon "yaudalah ya" karena males berurusan sama konflik. Nggak selalu "yaudalah ya" artinya menghindar, tapi ada beberapa bukti yang mengarah ke sana.

Kalau kata Tian, berdasarkan jurnal-jurnal yang dia baca, adult attachment ini tuh berhubungan dengan pola asuh. Bagaimana rasa aman (security) diciptakan oleh orang tua kita di masa kecil akan berpengaruh pada derajat security kita saat dewasa.

Gw dibesarkan di keluarga yang agak cuek. Malah bisa dibilang cukup tertutup mengungkapkan perasaan. Akibatnya apa? Kalau ada masalah, gw punya kecenderungan avoidant tadi, soalnya nggak nyaman ketika ngerasain emosi tertentu. Makanya bawaannya pengen 'ngabur' terus.

Naaah.. topik pola asuh ini sukses melahirkan pertanyaan "apa yang harus dilakukan untuk menjadi lebih secure, baik bagi yang cenderung avoidant maupun anxious?"

Semoga Sabtu nanti sesinya bisa mendatangkan insight yang menjawab pertanyaan itu. Aamiin. Kalau pun nggak nemu jawabannya sekarang, nggak masalah juga. Mungkin nanti.

Comments