Drama Cuci Piring

Dari kemarin saya urung menulis ini karena kurang bijak rasanya menulis saat masih emosi. Pasti akan ada banyak kata yang nggak lulus sensor ketika dibaca ulang. Jadi, saya tunggu sampai reda dulu baru tulis, supaya jelas isi pesannya apa, bukan meracau saja.

Jadi begini ceritanya. Dua hari yang lalu, papa saya ada buka puasa bersama di rumah belakang. Kami sebetulnya sudah terbiasa repot kedatangan banyak tamu karena memang papa mendesain rumah belakang sebagai saung tempat kumpul-kumpul. Tapi kali ini, kerepotannya terasa sangat menyebalkan karena ART udah pulang kampung, jadi nggak ada yang bantuin.

Berhubung tamunya banyak, jadi tentu saja cucian piringnya juga banyak. Sialnya, saya yang disuruh cuci piring.

Mengeluh? Ya menurut ngana?! Yang saya garisbawahi ada beberapa. Pertama, kenapa tamu-tamunya papa nggak ada yang inisiatif bawa piring-piring kotor ke dapur?

Kedua, oke. Anggaplah mereka nggak inisiatif karena nggak tau. Kenapa papa nggak minta tolong mereka untuk bantu bawa piring-piring kotor ke dapur? Kan papa tau nggak ada ART, jadi butuh bantuan.

Ketiga, kenapa piring-piring kotor dibiarkan di saung sampai besoknya? Kok ya nggak langsung dieksekusi (baca: cuci)?

Keempat, ketika saya protes, saya malah dimarahi balik "ya masa papa yang nyuci!" lalu di-aamiin-i sama adek saya "lo ngarep apa, bapak-bapak suruh nyuci piring?"

Kelima, ini yang paling bikin darah rasanya naik ke ubun-ubun. Mama dengan lengkingan mautnya merepet "harusnya emang udah keluar dari rumah, cari suami aja biar nggak usah cuci piring!"

APAAN SIH?!!! GW KELUAR RUMAH SEKARANG JUGA GPP SEBETULNYA NGGAK USAH NUNGGU ADA SUAMI!!!

Saat itu rasanya mau saya banting aja piring-piringnya. Sumpah, sakit hati banget! Tapi saya jaga napas satu-satu. Tambah banyak peernya ya bok kalau piring pecah trus kudu beresin serpihannya.

Singkat cerita, selesai cuci piring, saya tidur lagi, berharap sesak di dada mereda. Reda sihhh.. tapi belum lega.

Drama cuci piring gini sebetulnya sepele ya. Tapi saya tersinggung banget sama respon-responnya.

Emang apa yang salah sih dengan sadar diri? Tamu cuci piring nggak haram loh! Seenggaknya bantuin bawa piring-piringnya ke dapur bisa kaleee.. So what kalau bapak-bapak? Kenapa seolah pekerjaan cuci piring bukan urusan bapak-bapak? Kalau pun alesannya karena nggak ngeh (karena emang bapak-bapak nggak refleks ngurus beginian), kenapa orang rumah nggak ada yang ngingetin babeh sih?

Kalau teman-teman saya ke rumah, saya suka dikomentari "temen-temennya disuruh bantu tuh!" dan tentu saja sudah saya lakukan. Teman-teman saya paham betul saya bukan tipe yang hobi beres-beres, jadi akan sangat meringankan kalau mereka ikut bantu. Kalau pun mereka nggak ngeh, saya nggak akan sungkan minta tolong atau minta mereka melayani dirinya sendiri.

Giliran sekarang, semua orang mendadak merapat ke pihak papa. Cih!

Saya kesal sama budaya mental majikan begini. Ya emang sih, tamu harus dilayani sebaik-baiknya, tapi boleh loh bantu. Kan tau sendiri rasanya nggak ada mbak. Repot banget!

Ditambah lagi komentar mama yang nyelekit. Lah saya kan cuma menuntut tanggung jawab. Setelah makan, bersihkan. Sesimpel itu. Kenapa merembetnya ke cari suami segala sih?

Tapi kalau itu maunya mama, FINE! I'll write this for him.

Dear future husband, if you read this someday, I just want you to know that I won't tolerate gender bias. Fuck patriarchy! House chores is everyone's chores. Please be cooperative to teach our children one important lesson about equality and responsibility. No matter boys or girls, they still have to clean up their mess and wash their dishes. No exception!

I'll also need your help to be their good example, a good role model that walk our talk. This world is too noisy with parent slash preacher. We need more parent slash doer, and it takes two to tango.

One more, dear. I hope that we can always remember to appreciate every little good thing they do, unlike my mom who rarely tells me I'm doing good job. Ain't we all already have enough critics and deserve some appreciations?

Comments