Tuesday, September 5, 2017

How Do I Know?

2 comments
"Pertanyaan 'kapan' tuh mulai bikin tertekan deh"

Akhirnya, di sebuah kesempatan curhat sama teman-teman dekat, terlontar juga keresahan ini. Bukan karena saya ngebet mau nikah tapi belum ada calonnya. Tapi karena ingat eyang-eyang kesayangan yang udah nggak muda lagi itu (IYALAH).

Tekanan datang dari mereka yang justru sangat berhati-hati tanya ke saya, tapi terasa sekali berharap banyak. Mereka yang tiap ketemu harus ritual cium tangan cium pipi lalu sekarang tambahan ritual baru: bisikan "jadi kapan?"

Dan selalu saya jawab "doain aja" lalu dibalas "jangan lama-lama ya. Mumpung eyang masih ada"

NAH YANG BEGINI INI YANG BIKIN TERTEKAN!

Sialan nih. Belakangan saya melatih empati karena banyak peristiwa yang bikin saya sadar kebutuhan untuk menjadi lebih peka. Lebih 'manusiawi'.

Efek sampingnya adalah peer baru untuk kontrol kebaperan. Mengasah rasa, belajar jadi lebih perasa, kadang bikin saya jengah sendiri.

Why are you doing this to yourself, Del? Letting yourself off guard -_-

Anyway, teman saya malah komentar "nggak mungkin nggak ada yang deketin lo" dan saya makin jengkel. How do I know? Boleh nggak untuk urusan hati, kita bikin sederhana aja? Kalau suka, bilang suka. I already practice what I preach. I confess. Also ask. But since there's no answer, I'll just take it as a no and it's totally fine. Clarity, at least.

Lalu soal kapan. How do I know? Kata orang, jodoh harus dijemput. Lah ya dijemput ke mana? Lalu ada juga yang bilang, jodoh di tangan Tuhan, tapi harus kita yang ambil. Lah ya ambil ke mana? Gojekin aja bisa nggak?

Teman saya yang manggut-manggut aja denger saya ngomel sendiri, kemudian nanya, "tapi lo siap nikah nggak?"

Lagi-lagi, how do I know? Gimana jawab siap apa nggak? Ibaratnya, kayak mahasiswa tingkat akhir ditanya "siap nggak masuk dunia kerja?" trus melotot "lulus aja belum tentu. Harusnya nanya 'siap sidang nggak?'"

Trus temen yang agak religius menasehati buat doa dikasih jodoh yang tepat di waktu yang tepat. Oh well, how do I know WHEN is the right time? Pada akhirnya mereka nyerah. Saya ngeyel dan keras kepala banget mungkin. Hahaha.

Bahkan saya aja lupa nitip doa buat Rene yang lagi naik haji, supaya saya didekatkan dengan jodoh.

Gampangnya gini deh. Saya nggak percaya kata kerja 'cari jodoh'. Apalagi 'minta jodoh'. Harusnya 'mengusahakan jodoh'.

Ketika orientasinya mencari, percayalah, takkan benar-benar menemukan. Nggak ada tuh yang namanya jodoh kalau konteksnya menikah. Adanya komitmen untuk menjalani bersama. Tadi, kata kuncinya adalah mengusahakan.

Lalu soal cinta. Siapa sih yang menciptakan konsep aneh itu, menikah karena cinta? Saya mah lebih percaya menikah lalu cinta. Atau sekalian, menikah walaupun cinta.

Ganjil ya terdengarnya? Sebetulnya begini. Saya percaya cinta itu harusnya membebaskan. Sementara menikah justru mengikat. Jadi kata hubung yang tepat itu 'walaupun', bukan 'karena'.

Intinya, akhirnya saya mengatur napas dan bilang ke diri sendiri:

Del, gw nggak akan sok-sokan kasihan. Gw tau lo nggak perlu itu. Nggak perlu juga disemangati, sabar, dan berbagai kata penghiburan. Gw cuma berdoa semoga lo selalu ada dalam zona 'inner peace' apa pun bentuk stimulus dari luar.

Semoga lo selalu berani mengakui, mandiri, dan nggak gegabah memutuskan karena tekanan sekitar. Semoga lo senantiasa dipenuhi cinta kasih. Memberi sedikit lebih banyak. Berharap jauh lebih sedikit.

Terakhir, semoga pada saatnya nanti, lo akan merevisi 'how do I know?' dengan 'I do now'.

Tuesday, August 29, 2017

Paham Diri

1 comments

Semalam, saya dan seorang teman ngobrol panjang. Topiknya adalah Limitless Campus dan berbagai ukurannya. Salah satu yang panjang dibahas adalah soal paham diri.

Bagaimana seseorang bisa dikatakan sudah paham diri?
Kenapa harus paham diri?
Apakah diri sebegitu pentingnya untuk dipahami?
Apa 'bahasa operasional' dari mindfulness?
Apa bedanya dengan empati?

Berat ya bok!

Setelah penjelasan berbelit-belit, akhirnya saya sadar. Barangkali, paham diri sesederhana paham apa yang disukai dan yang penting. Bukan penting menurut orang lain, tapi menurut diri sendiri. Dan nggak perlu galau kalau nggak bisa memilih keduanya. Hidup kan nggak selalu ideal.

Ada kalanya kita menyukai sesuatu walaupun nggak penting-penting amat. Atau sebaliknya, hal penting yang nggak kita sukai. It's okay. Deal with it, make peace with yourself.

Kalau mencoba refleksi, apakah saya bisa bilang sudah paham diri? Mungkin, jawabnya ada di ujung langit. Kita ke sana dengan seorang anak. Anak yang tangkas dan juga pemberani.

Saturday, August 26, 2017

About Belief and Other Random Stuff

0 comments
Dua malam ini, saya ngobrol sampai larut bersama beberapa orang teman sepulang bekerja. Bahasannya berat: agama. Saya bukan orang yang religius, jadi tulisan kali ini bukan tentang ilmu agama, tapi bagaimana kebaikan, ketaatan, dan berbagai elemen lainnya melekat di agama manapun. Atau mari sebut saja: kepercayaan.

Menariknya, di balik kepercayaan, ada satu elemen yang perannya adalah mempertentangkan. Misalnya dalam kepercayaan Sunda Wiwitan, ada yang namanya Wiwaha Yudha Narada, sifat dasar manusia yang selalu memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya.

Well, sepertinya saya harus banyak baca lagi soal si Wiwaha Yudha Narada ini.

###

Anyway, saya nggak tahu ini berhubungan atau justru super nggak nyambung, dompet saya semalam hilang. HP saya pun mati, tombol powernya eror. Anehnya, saya sama sekali nggak merasa panik. Hanya langsung terbayang berbagai prosedur administratif seperti blokir kartu ATM, bikin surat keterangan hilang ke kantor polisi, pengajuan surat keterangan identitas (e-KTP versi selembar kertas HVS), dsb.

Karena ketidakpanikan itu, malah saya jadi bertanya-tanya. Kok bisa? Padahal isinya barang berharga. Mama saya saja langsung marah-marah barusan, tapi saya cuek dan hanya berusaha mengingat rangkaian kejadian, hilang di mana? Dan setelah ini harus bagaimana?

And now, here, writing out loud, I begin to think that maybe I already let go all material possession. What for? If it's meant to be lost, be it. Even for things that have memorable value, still, those won't last forever.

###

Btw, beberapa waktu lalu, saya bongkar lemari baju dan buku. Sebagian disumbangkan, sebagian masih disimpan di kardus, menunggu 'diadopsi'. Beberapa di antaranya adalah buku bagus dan baju favorit yang sekarang sudah tak cukup lagi.

Mama saya protes. "Kok baju yang ini mau dikasih? Baju yang itu kan masih bagus? Buku yang bakal dibaca lagi disimpen dong! Jangan lupa kalau ketemu Pak Anies minta tanda tangan di buku." Dan berbagai komentar lainnya, sambil menyortir mana yang 'lolos seleksi'.

Kalau nggak inget saya masih butuh baju dan berbagai bacaan agar tetap waras, rasanya malah satu lemari mau saya kosongkan semua. Tapi yaaa.. lumayan. Cukup lega lah lemari berkurang separuhnya.

Melepaskan rasa ingin menguasai materi ternyata semenyenangkan itu. Seperti terbebas dari beban dan hasrat memiliki, walaupun masih teronggok kardus-kardus yang belum ketemu pemiliknya.

###

Di titik ketenangan ini, menurut saya, yang paling penting justru peran mama. Mama sebagai Wiwaha Yudha Narada. Bahkan barusan, saat saya bilang dompet saya hilang, mama malah suruh saya solat karena melihat saya gelisah. Malah saya yang bingung. Memangnya saya terlihat seperti seorang yang gelisah? Well, mungkin iya, gelisah karena nggak gelisah. Gelisahception. Halah.

Entah kenapa, apa pun yang saya lakukan, mama selalu ada di sana untuk menentang. Seringkali hal ini bikin saya jengkel setengah mati, bahkan sakit hati. Merusak mood yang sudah disusun sedemikian rupa jadi berantakan semua.

But it's such a waste if I keep my mood ruined forever. I shall be grateful. At least she always be there for me, consistently caring, persistent in her way of complaining everything I do. This is one fundamental thing that never can be changed: mom will always be mom and I will always be her rebel daughter :))

Wednesday, July 26, 2017

Different

2 comments

(Percakapan saat sarapan)

Papa: "Kamu ditanyain terus tuh sama Bu X dari Bank Y. Della sekarang sibuk di mana?"
Della (sambil ketawa santai): "Bilang aja lagi sibuk bikin kerjaan. Nanti kalau udah nyerah, baru cari kerjaan, hahaha"
Mama: "Beda ya. Seumuran kamu harusnya udah bisa nyicil rumah, nikah, gendong anak. Mama dulu blablabla. Kamu ngapain?"

Well dear mom, I'm not you. I'm not everyone else. And I'm not sorry for that. For being different.

Kalem.

Wednesday, July 5, 2017

Tanya Jawab Ya Gitu #6

0 comments

Apa ketakutan terbesar yang masih lo hadapi sampai sekarang?

BANYAK JIR! Pada dasarnya, gw ini anaknya penakut dan pencemas. Dari hal cetek kayak takut kejedot plang otomatis parkiran kalau naik ojek, takut kejeblos lubang kalau lagi jalan gelap malem-malem, takut liat pocong kalau lewat kebun isinya pohon pisang, takut nyebrang, takut gagal, takut nggak bisa memenuhi ekspektasi orang lain, dsb.

Gw cemas kalau mau pergi ke suatu tempat dan packing ada yang ketinggalan, cemas nyasar (apalagi gw anaknya buta jalan), cemas kalau ketemu banyak orang baru, cemas tiap maju ke depan panggung/presentasi, cemas sama berbagai ketidakpastian, dsb.

Tapi ya mau gimana. Satu-satunya cara ya hadapi. Apa boleh buat. Melarikan diri nggak bikin takutnya hilang, malah makin horor karena jadi membayangkan yang nggak-nggak.

Hidup dengan berbagai ketakutan, gw malah jadi bertanya-tanya kayak apa rasanya nggak punya rasa takut. Kayak apa rasanya nggak ngalamin sensasi 'degdegser’ yang nggak nyaman tapi familiar itu. Kayak apa rasanya nggak perlu berjuang menghadapi berbagai ketakutan.

I really can’t imagine myself being fearless. Because I believe that the bravest man is not one who ain’t afraid of everything. The bravest man is one who befriend with his enemy: fear.

Dan satu hal sih: nelayan tangguh nggak lahir dari lautan yang tenang. Buat gw, 'lautan’ itu ya semua ketakutan, kecemasan, dan berbagai perasaan nggak nyaman yang bisa tiba-tiba datang seperti badai. Tugas gw cuma satu: bertahan hidup. Bertahan waras. Jadi ‘nelayan tangguh’.

***

Bekerja, untuk apa?

Pas kasih pertanyaan ini, sebetulnya gw lagi bertanya ke diri sendiri tapi terlalu bingung jawabnya. Tepatnya, males usaha mendeskripsikan kebingungan gw. Harapannya, bisa curhat pasif. Pada akhirnya, pertanyaan ini malah kembali ke gw, haha, sial.

Jadi ceritanya, seperti yang semua orang udah alami, realita hidup itu ya nggak ada pekerjaan yang ideal di dunia. Nggak bisa lo ngarep gaji besar, waktu luang banyak, dan kerja sesuai passion. Mustahil.

Nah, ini gw dihadapkan pada kondisi yang bukan cuma nggak ideal, tapi juga di luar ekspektasi. Jatohnya bingung. Takut. Cemas. Sedih. Marah. Kecewa. Yang nggak tau ke siapa. Tapi di sisi lain, super bersemangat. Energi berlimpah.

Dalam kondisi begini, rasanya lelah banget. Tenggelam sama perasaan sendiri yang naik-turun nggak karuan, tapi nggak ngerasa kenapa-kenapa juga. Kerja udah kayak dispenser aja ini mah: hot and cold :))

Lalu gw coba inget lagi, kenapa gw ngelakuin ini? Kenapa gw menolak kesempatan lain? Apakah gw menyesal? Apa yang men-trigger berbagai emosi negatif? Apa yang bikin sebaliknya, emosi positif meluap? Gimana cara menyeimbangkannya?

Dan terakhir: bekerja, untuk apa?

Akhirnya sampai pada kesimpulan sementara: gw bekerja untuk belajar. Belajar paham diri, belajar paham fenomena sosial, belajar untuk terus menjadi relevan dan berguna, dsb. Lalu senyum-senyum sendiri, bersyukur. Apa yang lebih menyenangkan, dari mendapat kesempatan belajar dan dibayar? Dan semoga bermanfaat bagi sekitar. Aamiin.

Saturday, June 24, 2017

Tanya Jawab Ya Gitu #5

0 comments
Jadi ceritanya, setelah kelar jawab 4 pertanyaan dari Cune dan Shasha selama 4 minggu berturut-turut, Cune bikin jebakan Betmen: jawab pertanyaan sendiri. Terus nyesel, kenapa bikin pertanyaan susah-susah amat. Tapi yaudah. Challenge accepted! Per dua dulu ya. Sisanya menyusul minggu depan.

***
"Kalau jadi warna, lo warna apa dan kenapa?" -Della
Dalam kondisi normal, sepertinya krem cukup mewakili. Mungkin karena gw anaknya elemen tanah kali ya? Calm and grounded. Eh tapi krem yang agak cokelat. Pantone warna kulit gitu. Duh gimana ya jelasinnya? Kalau di make up, semacam baseline. Primer. Foundation. Concealer. Atau ala ala 'no make up make up’.

Eh tapi di beberapa situasi, kadang bisa merah banget sih. Outspoken and vibrant. Kayak gincu cetar. Atau rambutnya Ariel Little Mermaid. Terutama kalau udah mau sesuatu, ‘kecolek’ dan merasa harus menyampaikan aspirasi, atau ketika kekeuh mempertahankan sikap.

Nggak tau sih ini udah cukup tepat menggambarkan soal warna atau belum. Debatable.

***
"Ceritain dong life-changing moment di hidup lo" -Della
Kayaknya pernah cerita deh. I see my life as series of check points. So there’s no such thing as life changing moments.

Tapi kalau kudu kasih contoh satu evidence, itu adalah saat jadi Pengajar Muda. Sepulang dari penempatan, banyak banget hal yang berubah dari diri gw, terutama dalam memandang isu sosial. Baru ngeh gitu, oh ternyata gw bisa peduli juga ya. Utamanya soal pendidikan.

Maklum sis, anak gedongan yang nggak pernah hidup susah. Jadinya kadar kepekaan sosialnya ya gitu-gitu aja. Tapi selama setahun itu, karena betul-betul mengamati, mengalami, bahkan menghayati, jadi sedikit banyak mengasah empati.

Makanya bisa meradang banget soal Full Day School karena langsung membayangkan anak-anak di berbagai penempatan harus belajar sampai jam 5 sore. Apa sih yang ada di pikiran Pak Menteri?

Emang dikira perjalanan anak-anak ke sekolah mulus aja? Masih ada loh yang naik-turun gunung, nyebrang naik kapal, melewati tanah becek, hutan sawit, dsb. Dan itu nggak sebentar. Mereka bisa sampai rumah jam berapa? Belum ngerjain peer. Belajar buat ulangan. Kapan mainnya? Saking sewotnya, gw pernah sampai ikut protes, kumpul bareng para aktivis pendidikan di LBH.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw cuma akan baca berita soal Full Day School sambil lalu.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw nggak akan sadar bahwa akses pendidikan yang berkualitas sekrusial itu dampaknya. All of my life, I take education for granted. Little did I know, not everyone has that privilege.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw nggak akan berpikir buat terima tawaran kerja di Kemdikbud, bantu kampanye, maupun terjun bebas bangun Limitless Campus kayak sekarang.

Mungkin kalau nggak jadi PM, gw nggak akan bener-bener paham betapa yang namanya berbagi itu nilainya bukan berkurang, justru bertambah.

If this evidence counts as life changing moment, then I’m glad I’ve changed. Like.......... A LOT!

Anak Rumah Tangga 2.0

0 comments

Walaupun nggak selalu ditulis, tiap lebaran, pasti ada aja materi refleksi. Mumpung lagi mood, kali ini saya mau bahas topik pekerjaan rumah tangga.

Di beberapa kesempatan, saya pernah menulis tentang balada mengurus rumah. Tahun 2010, 2014, dan 2016. Sampai tahun lalu, saya masih konsisten ingin mencari pasangan yang bisa memastikan alokasi anggaran untuk mbak terpenuhi. Bahkan beberapa teman sudah bosan mendengar syarat ini karena saya ulang-ulang terus :))

But things change overtime. I don't know since when, I feel like things get clearer now.

Kalau lihat kilas balik tulisan lama, banyak yang isinya curhat keluh-kesah tentang nyokab yang nggak tersampaikan. Iya emang saya anaknya drama. Menulis blog saya jadikan tempat katarsis. Ya daripada disalurkan ke aktivitas yang lebih nggak jelas lagi kan?

Jadi barangkali, 'obsesi' punya mbak itu karena sebetulnya saya cuma nggak tahan aja sama tekanan nyokab yang pada dasarnya beda standar.

Saya nggak terlalu bermasalah barang-barang sedikit berantakan, cucian piring menumpuk, dan jemuran kering yang nggak langsung diangkat. Sementara nyokab, berantakan dikit, ngomel. Menunda cuci piring, ngomel (padahal emang sengaja, biar sekalian nyucinya. Efisien). Bahkan nyuruh ambil jemuran pun pakai ngomel. Emang nggak bisa santai.

She works harder than everyone in our house. No wonder she feels freaking tired and complains about us doing nothing. While in fact, we're doing all things she told us. It's just... her KPI is too damn high :))

Dari sini, saya jadi sadar. Tekanan nyokab nggak seharusnya saya bebankan pada pasangan di masa depan. Syarat anggaran mbak bisa dialokasikan untuk hal lain atau ditabung. Justru yang lebih penting adalah soal bagi tanggung jawab mengurus rumah.

Ya kalau ada mbak mah alhamdulillah banget, karena saya nggak hobi beres-beres. Tapi kalau nggak ada, nggak perlu dijadikan momok. Karena kekeuh punya mbak bisa jadi malah nambah masalah. Susah nyarinya, misalnya. Atau mbaknya nggak jujur, attitude-nya buruk, dsb.

Berpikir bahwa solusi rumah berantakan adalah mbak itu sama kayak solusi jomblo adalah menikah. Nggak solutif.

Tantangan saya sekarang, mencari solusi dari 'serangan' pertanyaan "kapan kawin" dan peran sebagai anak rumah tangga di bawah tekanan nyokab perfeksionis. Mungkin ada yang bisa bantu?