Transformasi (Flash Fiction Titipan)

Aku mematut diri di depan cermin. Dadaku berdebar kencang sekali, seakan-akan siap meledak kapan saja. Tepatkah keputusanku melepas atribut yang membingkai keimananku selama ini? Akankah Tuhan marah padaku? Apakah ini namanya berselingkuh dengan Tuhan sendiri?

Maafkan aku, ya Tuhan. Tapi gejolak yang tak terdefinisikan ini mendorongku untuk mencobanya. Salahkah aku, Tuhan? Berdosakah aku?

Aku menghela napas dan menyingkirkan semua pikiran-pikiran yang menghantuiku itu.

Kulirik sekilas foto yang terpampang manis di atas meja rias. Sosok aku dan kedua orang tuaku, sedang tersenyum dengan latar belakang Ka'bah. Sekali lagi Tuhan, maafkan aku. Sudah bulat keputusanku.

Aku mau ke gereja.

###

"Sayang, kamu serius?" tanyamu saat kita akhirnya sampai di parkiran. Perjalanan bisu tadi tentu menyiksamu. Maaf ya.

Aku mengangguk mantap, "Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Yuk!" Aku tersenyum dan menatapmu, berusaha meyakinkan bahwa aku lebih dari serius.

"Aku cuma nggak mau kalau kamu ke sini cuma gara-gara aku. Aku nggak apa-apa kalau kamu belum siap. Aku nggak pernah maksa kamu", ujarmu. Nampak cemas.

Tawaku meledak. "Hahaha, geer deh kamu. Kan aku udah bolak-balik bilang. Aku ke sini karena aku mau, bukan karena kamu atau siapapun. Aku dari tadi diem aja karena aku merasa... hmm apa ya? Antara nggak percaya, takut, kaget, senang, meledak-ledak, dan entahlah. Susah dijelaskan. Rasanya kayak mimpi. Kamu tahu nggak, aku pernah mimpi ini waktu aku masih kecil?"

"Oh ya? Mimpi apa?"

"Panjang ceritanya. Nanti aku ceritain. Sekarang, boleh kita masuk aja?"

Kamu tidak berkata apa-apa lagi, hanya menggenggam erat tanganku yang basah dan berkeringat, serta bergemetar hebat. Aku mengerti kamu pasti mencemaskanku. Dan aku juga mengerti, kamu pasti tidak tahu harus berkata apa lagi padaku, setelah mengiyakan permintaanku yang sulit dipahami akal sehat.

Aku menengadah menatap bangunan megah yang akan kita tuju itu dan mengerjap, masih tidak percaya bahwa bangunan tersebut tidak menghilang dalam hitungan detik dan aku terlempar kembali ke lorong gelap itu, lalu terbangun dengan napas memburu. Bukan, ini bukan mimpi. Ini sungguhan.

Senandung lagu gospel yang merdu dan penuh puja-puji melantun. Pelan dan sayup, kemudian terdengar semakin jelas. Bulu kudukku berdiri. Ini persis seperti dalam mimpiku. Lorong ini, cahaya itu, suara piano dan paduan suara, kamu, aku, Gabriel........

Aku menghentikan langkah tiba-tiba.

###

Behind the flash fiction:

Di suatu malam, ada seorang teman yang mendadak minta dibuatkan cerita dengan brief: petualangan hati yang tersentuh oleh sesosok makhluk Tuhan bernama pria. Harus ekslusif tapi nggak FTV. 'Menantang' banget emang orang banyak maunya -___-


Ini versi interpretasi bebas gw, mengambil sedikit dari kisah masa lalunya. Sengaja belum gw rampungkan karena sekarang, anaknya terlihat Islami sekali. Semacam takjub ada orang yang bisa bertransformasi sedemikian rupa. Sebegitu cepatnya.

Comments